Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Jangan Suapi Kami Jawaban: Gugatan Pemuda atas Pendidikan Tanpa Dialog
Gagasan

Jangan Suapi Kami Jawaban: Gugatan Pemuda atas Pendidikan Tanpa Dialog

By Redaksi24 Juni 20265 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Andra Geraldo
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Andra Geraldo

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat fundamental dan harafiah dalam kehidupan manusia. Hal ini membuatnya tak jarang untuk diperbincangkan dalam kehidupan harian kita sebagai kaum yang terdidik.

Kehidupan manusia tak akan pernah lepas dari proses belajar yang kita sebut sebagai pendidikan. Pendidikan tak hanya soal materi pelajaran, tetapi juga situasi sosio-politik manusia merupakan bagian dari pendidikan.

Pendidikan yang ideal bukan hanya sekadar formalitas, tetapi ruang untuk manusia menjadi pribadi yang lebih manusia. Bukan hanya soal kemampuan kognitif, tetapi memahami hidup dan keadaan sosial adalah salah satu bentuk Pendidikan.

Kita sering kali terjebak dalam pendidikan yang semu, di mana pendidikan menjadi ruang untuk mentransfer materi tanpa ada naluri kritis atau Paulo Freire menyebutnya sebagai Pendidikan gaya bank.

Pendidikan gaya bank ini ialah pendidikan yang mentransfer materi dari guru ke murid. Artinya guru memberikan materi dan murid menerimanya tanpa ada ruang untuk berdiskusi. Murid menerima materi tanpa memahami lebih jauh materi yang sudah diberikan.

Ketika pendidikan gaya bank dilakukan hal itu secara tidak langsung membunuh naluri berpikir kritis siswa untuk memahami sesuatu yang terjadi.

Siswa menerima materi yang ada tanpa memahami secara jelas relevansi materi dengan kehidupan yang sedang dialaminya, hal demikian akan membuat siswa tidak dilatih untuk berpikir kritis.

Berkaca pada realitas yang terjadi dewasa ini penulis menggarisbawahi dua poin penting yang menjadi masalah saat ini ialah kemampuan dan keinginan.

Kemampuan di sini ialah bagaimana guru mampu untuk memberikan ruang agar siswa mampu untuk mencapai pendidikan yang dialektis agar mengarahkan mereka pada pendidikan yang kritis. Sehingga siswa dibiasakan untuk berpikir dengan logis dan realistis.

Semua hal ini tidak serta merta pada guru, tetapi kebijakan Pemerintah terhadap pendidikan juga berpengaruh terhadap poin kemampuan yang disinggung oleh penulis.

Poin yang kedua ialah keinginan. Keinginan yang dimaksudkan di sini ialah seberapa jauh keinginan siswa untuk belajar dan berpikir kritis.

Ketika guru yang mampu tidak didukung oleh keinginan yang serius dari siswa hal itu akan menjadi hal yang sia-sia. Oleh karena itu kemampuan guru dan keinginan siswa mesti berjalan secara beriringan, semua itu juga mesti didukung oleh pemerintah dan orangtua murid agar membangun kebiasaan berpikir bagi anak-anak.

Karena jika hal ini dibiarkan akan berpengaruh terhadap masa depan anak bangsa yang tidak memahami dengan baik realitas yang terjadi dalam kehidupan sosio-politik bangsa.

Dari pembahasan di atas kita masuk dalam pembahasan yang lebih dalam lagi berkaitan dengan pendidikan. Penulis telah menggambarkan bagaimana pendidikan gaya bank yang telah tumbuh subur dan berpengaruh terhadap daya pikir siswa yang semu.

Gambaran pendidikan gaya bank sangat berpengaruh terhadap kualitas berpikir anak bangsa dewasa ini.

Jika kita melihat realitas dewasa ini berbagai masalah telah muncul di dalam bangsa kita tercinta ini, Indonesia. Ketika berbagai kebijakan kita terima tanpa naluri berpikir kritis yang baik akan mengarahkan kita sama seperti murid yang tidak diberi ruang untuk berdiskusi.

Berbagai demonstrasi telah dilakukan dewasa ini sebagai bentuk dari daya kritis mahasiswa. Tetapi yang menjadi catatan reflektif kita saat ini ialah, Apakah semua pelajar di Indonesia merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh pelajar yang melakukan demonstran?

Tidak semua pelajar memahami masalah yang terjadi dewasa ini. Ini bukan karena siswa tidak ingin belajar, tetapi ketika mereka tidak terbiasa untuk berpikir kritis maka akan berpengaruh terhadap cara berpikir mereka.

Ketika mereka hanya sering untuk menerima, maka upaya untuk mencari dan berpikir sangat kecil. Inilah dampak nyata yang dirasakan dari adanya Pendidikan gaya bank yang hanya terus menerima.

Masalah di bangsa ini sangat kompleks, ketika pelajar tidak diarahkan untuk berpikir, maka akan menjadi kesukaan besar bagi para penguasa untuk terus memperbodoh masyarakat.

Oleh karena itu sebagai upaya untuk menanggulangi masalah yang terjadi guru dan siswa mesti berjalan bersama untuk membuka cakrawala berpikir agar tidak terjebak dalam pemikiran yang semu.

Ketika di kelas dibiasakan oleh monolog, maka dalam kehidupan sosio-politik pun pelajar akan sulit untuk membangun dialog. Dialog bukan hanya sekadar bercerita, tetapi melatih cara berpikir dan membuka wawasan bagi pelajar untuk melihat realitas. Dengan hal itu membiasakan pelajar untuk berpikir bahwa semua hal mesti dilakukan melalui dialog.

Berbagai masalah dan kebijakan terus menghantui bangsa kita dewasa ini, ketika kita tak mampu untuk melihatnya secara kritis maka kita pun akan terjebak dalam permainan yang dibangun oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan.

Ketika kita dibiasakan untuk berpikir maka kesatuan antara pemerintah dan masyarakat akan berjalan harmonis, artinya pemerintah membuka ruang untuk berdialog dan masyarakat berani untuk mengungkapkan persepsinya mengenai masalah ataupun kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Oleh karena itu, dalam membangun bangsa yang sejahtera dialog dan berpikir kritis adalah jalan agar yang menikmati kemerdekaan bukan hanya orang-orang tertentu saja, tetapi semua pihak tanpa perlu merasakan adanya kolonialisme.

Sebagai akhir dari tulisan ini penulis ingin mengajak agar guru dan siswa mesti berjalan bersama untuk menghadapi realitas bangsa yang terjadi dewasa ini. Seperti salah satu program yang dilakukan oleh Finlandia yakni Phenomenon-Based Learning yang melakukan pendidikan berbasis pada fenomena, sehingga pelajar memahami bagaimana sebenarnya realitas terjadi dewasa ini dan membuat mereka untuk berpikir kritis melalui diskusi yang mereka lakukan.

Dengan adanya hal-hal seperti yang dilakukan oleh Finlandia, sebagai orang yang terdidik kita mesti mampu untuk berkaca dan membangun semangat yang sama agar kita mampu untuk memandang realitas yang terjadi dan berani untuk mengungkapkan persepsi.

Andra Geraldo
Previous ArticleSpiritualitas Yohanes Pembaptis: Bertobat Tiap Kali Minum Air, Mandi, Masak, dan Buang Air

Related Posts

Spiritualitas Yohanes Pembaptis: Bertobat Tiap Kali Minum Air, Mandi, Masak, dan Buang Air

24 Juni 2026

Membongkar Mitos ‘Indonesia Barat Sibuk Demo, Indonesia Timur Sibuk Pesta Bola

23 Juni 2026

Diri Menjadi Pusat: Tuhan, Sesama, dan Alam Jadi Satelit

22 Juni 2026
Terkini

Jangan Suapi Kami Jawaban: Gugatan Pemuda atas Pendidikan Tanpa Dialog

24 Juni 2026

Spiritualitas Yohanes Pembaptis: Bertobat Tiap Kali Minum Air, Mandi, Masak, dan Buang Air

24 Juni 2026

Membongkar Mitos ‘Indonesia Barat Sibuk Demo, Indonesia Timur Sibuk Pesta Bola

23 Juni 2026

Wakil Bupati Nagekeo Terjatuh dari Kuda Saat Penyambutan Peserta MTQ NTT

23 Juni 2026

Pembeli Puas, Lapak Ikan Brigadir Oebesa Klaim Kantongi Izin Lengkap dan Kelola Limbah dengan Baik

23 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.