Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»PERAWAT»Di Belu, Ada Tenaga Kesehatan yang Diupah Rp 150 Ribu
PERAWAT

Di Belu, Ada Tenaga Kesehatan yang Diupah Rp 150 Ribu

By Redaksi3 Oktober 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Ist)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Atambua, Vox NTT-Tenaga Kesehatan (Nakes) Bidan dan Perawat yang ditempatkan di daerah perbatasan RI-RDTL tepatnya di Kecamatan Rai Hat, Kabupaten Belu mengeluhkan rendahnya upah yang diterima.

Para Nakes yang enggan menyebutkan identitasnya kepada VoxNtt.com, Selasa (3/10/2017) mengaku setiap bulan kerja mereka hanya dihargai dengan upah sebesar Rp 150.000.

Kondisi ini sangat tidak sebanding dengan tugas dan tanggung jawab yang mereka emban.

Sumber itu menegaskan seharusnya upah Nakes diperhatikan oleh pemerintah. Sebab tugas dan tanggung jawab yang diemban sangatlah besar.

Padahal saat ini ada pos anggaran yang disediakan Kementerian Desa melalui Dana Desa untuk membiayai Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pendidikan di setiap desa.

“Kami hanya dibayar Rp 150.000 tiap bulan. Selain itu, seharusnya apabila ada kegiatan, kami mendapat honor tambahan, tapi itu malah diambil alih oleh mereka yang sudah berstatus PNS,” kata dia

“Jadi kesejahteraan kami tidak diperhatikan sama sekali. Kami ingin sampaikan ke Presiden Joko Widodo kalau Presiden datang lagi ke perbatasan karena apa yang kami alami ini tidak sesuai dengan harapan Presiden,” katanya lagi.

Selain mengeluhkan tentang rendahnya upah, para Nakes juga mempertanyakan soal pemerataan tugas di desa. Hampir semua kegiatan diambil alih oleh Nakes yang berstatus PNS dan tidak melibatkan Nakes yang berstatus tenaga kontrak yang ditempatkan di desa.

“Kenapa para petugas yang statusnya PNS yang tangani semua kegiatan di desa tanpa melibatkan tenaga perawat dan bidan desa. Untuk apa mereka ditempatkan di desa,” keluh sumber tersebut.

Para Nakes mengharapkan agar persoalan kesenjangan dalam menerima upah segara diatasi, sehingga tidak berpengaruh pada pelayanan.

Camat Rai Hat Yulius Seran kepada VoxNtt.com melalui sambungan telepon selulernya membenarkan rendahnya upah yang selama ini diterima oleh tenaga sukarela, baik guru dan tenaga kesehatan.

Pada dasarnya kata Camat Yulius, tenaga kesehatan, bidan dan perawat serta tenaga guru honor adalah tenaga sukarela.

Terkait upah, Yulius mengaku sejauh ini belum ada regulasi yang jelas untuk mengatur tentang upah tenaga sukarela.

Tenaga sukarela dibayar dengan menggunakan Dana Desa dan disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing desa.

“Karena selain tenaga kesehatan, ada juga tenaga guru dan tenaga ibu-ibu posyandu,” ujar Yulius. (Marcel/AA/VoN).

Belu
Previous ArticleMenyingkap Suasana Hati Orang Rote Lewat Seni Tari
Next Article Sempat Ada Kontak Senjata, TNI di Ngada Berhasil Lumpuhkan Kelompok Teroris

Related Posts

Anggota DPRD Manggarai Desak Inspektorat Periksa Proyek Kantor Desa Legu yang Mangkrak 17 Tahun

11 Juni 2026

Isno Baco Ajak Warga Desa Pinggang Berpolitik “Riang Gembira” pada Pilkades 2026

2 Juni 2026

Maju Pilkades Loce, Wilibrodus Rian Usung Penguatan Pertanian hingga Wisata Budaya

1 Juni 2026
Terkini

Sensus Ekonomi 2026: Mengapa Kita di NTT Tidak Boleh Asal Memberi Jawaban?

13 Juni 2026

Muskab PBVSI Sikka Tetapkan Rofinus Luer sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030

13 Juni 2026

Hati Tak Bernoda: Istana Kasih dan Bait Allah Penemuan Diri

13 Juni 2026

Jejak Rokok Ilegal Helium di Nagekeo: Beredar Bebas, Polisi Menunggu Laporan

12 Juni 2026

Hampir Sebulan Jebol, Crosway Wae Musur Hilir Belum Ditangani Pemkab Manggarai Timur

12 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.