Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Lomba Dansa di TTU Dinilai Tidak Mempengaruhi Wisatawan
HEADLINE

Lomba Dansa di TTU Dinilai Tidak Mempengaruhi Wisatawan

By Redaksi27 November 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Para peserta lomba dansa Wonderful Indonesia Crossborder saling unjuk kebolehan di depan dewan juri dan penonton. (Foto: Eman Tabean)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu,Vox NTT- Kegiatan lomba dansa yang digelar pemerintah kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pada tanggal 24-25 November 2017 lalu di halaman Kantor bupati menuai kecaman.

Kecaman itu terutama dari aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kefa.

Menurut Mereka (aktivis) kegiatan yang mulanya bertujuan untuk menarik perhatian wisatawan untuk berwisata ke TTU itu tidak akan tercapai.

Baca: Pemda TTU Gagal Penuhi Target 500 Pasangan Lomba Dansa

Pasalnya kata mereka, wisatawan/I lebih teratarik pada budaya asli, karena sesuatu seperti tarian adat asli TTU merupakan hal baru dan unik bagi mereka.

Sementara dansa dinilai sebagai budaya barat dan wisatawan/I sudah terbiasa dengan itu. Sehingga dansa, bagi mereka bukan sesuatu yang meraik.

Tak hanya itu, pagelaran lomba dansa dalam nuansa wonderful Indonesia crossborder tersebut dinilai justru semakin menghilangkan budaya asli masyarakat TTU, yang mestinya wajib dilestarikan dan dijadikan sebagai potensi pariwisata yang layak dipromosikan.

Baca: Pemda TTU Gelar Lomba Dansa untuk 500 Pasangan

Karena itu mereka juga menilai kegiatan tersebut hanya menghabiskan anggaran semata tanpa memberi efek bagi pariwisata di Kabuapten yang berbatasan dengan Republic Demokratik Timor leste (RDTL) itu.

Demikian diungkapkan oleh ketua LMND eksekutif kota Kefamenanu, Valen Kefi dan Gilbert Taena, aktifis PMKRI saat dihubungi VoxNtt.com via telepon pada Minggu (26/11/2017).

Valen mengaku, dirinya menyayangkan sikap dinas pariwisata yang lebih menonjolkan dansa dari pada tarian adat asli di daerah itu.

Masih Valen, pagelaran lomba dansa tersebut akan menyebabkan kaum muda semakin tidak mengenal budayanya sendiri dan lebih teratarik pada budaya yang datang dari luar

Baca: Kadis Budpar TTU Keluhkan Biaya Perawatan Objek Wisata

“Kan masih ada budaya asli TTU seperti tabso, bidu dan juga berbagai macam tarian yang bisa diperlombakan. Kenapa harus dansa yang merupakan budaya peninggalan penjajah, yang harus dilestarikan? ini bentuk pembodohan kepada masyarakat, terutama kaum muda,” kesal mahasiswa program studi Biologi di Unimor ini.

Sementara Gilbert Taena menilai, tujuan utama dari pagelaran lomba dansa untuk menarik minat wisatawan/i datang ke TTU tidak akan tercapai, malah menyebabkan wisatawan enggan berkunjung ke TTU.

Baca: Tanjung Bastian Bak Tempat Sampah dan Kandang Kambing

“Wisatawan itu datang mau lihat kita punya budaya asli yang tabso, bonet, bidu dan masih banyak lainnya itu, bukannya mau datang hanya untuk lihat dansa. Ini malah menunjukkan bahwa dinas terkait tidak kreatif ,untuk mencari cara guna menarik wisatawan datang berkunjung ke TTU,” tegas Gilbert.

Gilbert menyarankan agar ke depannya dinas terkait menggelar kegiatan yang menonjolkan budaya asli TTU.

Selain itu dia juga berharap, kegiatan yang bertujuan untuk menarik wisatawan mesti digelar di lokasi objek wisata bukan di Kantor Bupati.

“Seharusnya kegiatan pariwisata itu digelar di Lokasi objek wisata, sehingga bisa langsung mempromosikan potensi pariwisata yang kita miliki kepada wisatawan yang berasal dari luar daerah,” tandasnya.

Penulis: Eman Tabean

Editor: Boni Jehadin

TTU
Previous ArticlePGRI Nagekeo Minta Bupati Terbitkan SK Bagi Guru Honor
Next Article Impian Mereka Tidak Akan Menjadi Nyata Jika Kita Berpangku Tangan

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.