Mimpi
–kepada Para Penunggu Damai
Hari ini Tuhan mengunjungiku
Membawa serta salib dan lebam
Ah…yang benar saja Tuhan?
Memang mimpi adalah semacam memancing ikan
Kadang dapat,
terkadang entahlah….
Menunggu.
:Tuhan adalah tetangga kamarku
Refleksi
Hanya padaku pena pekat
Limbah lebam pada sapu tangan-Mu
Berharap lilin kamar menambal rautan
Namun kata gunung : aku tidak setinggi tumit-Mu
dan kata samudera : Kamu tidak tersamar dalamku
Apakah aku harus bersilat lidah
Agar dapat menelan ludah-Mu?
Madah
Bapaku,
Kutelungkup pada tirai-Mu
Aku mandul
Andai saja aku bergingsul
Inginku bersiul
Sambil berjungkat-jungkit di jenggotMu
: Bisa??
Brevir
-kepada Pengelana Setia
Ijinkan aku menjenguk-Mu
Dengan tulang belakang berantakan
Yang masih labil
Tanpa label
Pada bahuku yang bebal
Bibirku laksana arus laut
Menarik garis pada permukaan air
Terus merangkak maju mundur
Kuterjatuh pada cinta-Mu
Dan ingin sekali kulumatitumit-Mu
Tanpa merasa jenuh
Merinding di dasar luka
: aku ingin menjadi kanibal
*Yonas Purab, alumnus Seminari San Dominggo Hokeng. Sekarang penghuni TOR Ritapiret Maumere.
Puisi Yang Bersahaja
Oleh Hengky Ola Sura
Redaksi Seni Budaya VOX NTT
Membaca empat puisi dari Yonas pekan ini adalah membaca ketaktisan kata yang diramu dengan sangat bersahaja. Dari puisi Mimpi sampai dengan puisi Brevir Yonas tampil sebagai seniman kata yang khas dengan permenungan-permenungan hidup yang layak untuk direfleksikan.
Empat puisinya pekan ini adalah puisi-puisi yang hadir dengan kebersahajaan mengajak pembaca untuk merenungkan lakon hidup.
Bahwa hidup menjadi tak utuh jika tanpa permenungan-permenungan. Pada puisi Brevir kita para pembaca diajak untuk ikut mencerap percikan spirit yang seharusnya juga jadi penanda kita berubah.
Maka empat puisi pendek dari Yonas pekan ini adalah guratan dari percikan pengalaman yang kiranya ikut mengajak pembaca untuk mengekalkan segala daya untuk jadi bersahaja atas segala jalan hidup.
Puisi pada hakikatnya juga harus mengental dan jadi serupa milik semua orang karena membaca dan memaknainya.
Tak harus panjang lebar seperti sebuah kotbah moral toh empat puisi kali ini jadi jalan pulang memaknai pekan prapaskah bagi semua pemeluk yang beriman Kristiani. Dan terlebih kepada semua yang membaca dan mendalaminya sebagai upaya mencatat, mengingat dan menghidupi setiap lakonan hidup. Terima kasih Yonas Purab.***

