Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Deretan Produk Lokal Ala Istri dan Anak Para Migran
NTT NEWS

Deretan Produk Lokal Ala Istri dan Anak Para Migran

By Redaksi6 Juni 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pendamping pemberdayaan istri dan anak para migran, Koalisi Insan Peduli Migran dan Perantauan (KIP-MP) Kevikepan Ende, Sr. Venantin, CIJ saat bertemu VoxNtt.com di Wisma Emaus Ende (Foto: Ian Bala/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Pendamping pemberdayaan istri dan anak para migran, Koalisi Insan Peduli Migran dan Perantauan (KIP-MP) Kevikepan Ende, Sr. Venantin, CIJ membeberkan sejumlah hasil karya tangan istri dan anak-anak para migran.

Menurutnya, keluarga yang ditinggalkan oleh para migran diberi pendampingan untuk membuat produk-produk lokal.

“Ada tujuh anggota perempuan dan anak di Onebare Kecamatan Ende. Ada juga kelompok di Maunori, Kabupaten Nagekeo. Dan mereka akan diberi pelatihan membuat produk lokal,” kata Sr. Venantin.

Disebutkan, ada sekitar 6 produk yang dihasilkan oleh kelompok ibu dan anak para migran tersebut. Diantaranya, tas, dompet, minyak kemiri, minyak kelapa murni, minyak kelapa non kolesterol dan abon ikan segar.

Deretan produk lokal tersebut, kata Sr. Venantin, semuanya dipasarkan di Wisma Emaus, Jalan Diponegoro, Ende. Harganya bervariasi.

“Kalau untuk kelompok di Onebare, kemampuan mereka hanya bisa tenun. Nah, kain itu kalau dijual per lembar seharga 200 ribu. Kalau kita buat tas atau dompet dari kain tentu, maka hasil bisa kami dapat tiga kali lipat,” katanya.

“Uang hasil jual produk itu, ya semua untuk mereka. Untuk kebutuhan hidup keluarga mereka,” kata Sr. Venantin lagi.

Ia menambahkan, kelompok perempuan dan anak migran baru pertama kali melakukan pameran saat kegiatan pentas budaya di Lapangan Pancasila Ende baru-baru ini.

Bagi mereka, kendala yang dialami adalah pemasaran dan promosi. Sehingga diharapkan peran serta pemerintah untuk membuka akses serta mendampingi.

Koordinator KIP-MP, Irminus Deni mengatakan, proses pemberdayaan dilakukan berdasarkan kerja sama dengan BP3 TKI dan PMI Purna. Kerja sama itu dalam bentuk pendampingan, pengawasan produk serta penjualan hasil kelompok.

Ia berharap, dengan proses pendampingan itu dapat membuka hati semua pihak terutama pemerintah.

 

Penulis: Ian Bala
Editor: Adrianus Aba

Ende
Previous ArticleGara-gara Status di Facebook, Staf KPU Nagekeo Dipecat
Next Article Ende Diusulkan Jadi Pusat Studi Pancasila dan Bung Karno

Related Posts

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
Terkini

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.