Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Ranamasa: Impitan Penderitaan Tanpa Batas
HEADLINE

Ranamasa: Impitan Penderitaan Tanpa Batas

By Redaksi24 Agustus 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Beberapa warga Ranamasa saat membawa hasil pertanian di jalan tengah hutan Negara Golo Munga (Foto: Facebook Bung Freddy)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Redaksi, Vox NTT- Ranamasa adalah nama sebuah kampung. Daerah tempat tinggal ratusan warga itu sangat udik, jauh dari keramaian.

Dia berada di pedalaman hutan Negara Golo Munga, Desa Golo Munga Barat, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT.

Ranamasa boleh dibilang sebuah kampung yang tersembunyi di tengah hutan.  Dia berada di lembah yang dikelilingi bebukitan hutan.

Di bagian selatan kampung ini terdapat pohon rindang yang begitu tinggi. Pandangan mata tidak dengan bebas melihat sebab ditutupi pohon kemiri milik warga.

Tanaman perkebunan tersebut juga dilapisi beragam pohon yang tumbuh apit di kawasan hutan Negara Golo Munga di bagian selatannya.

Sedangkan di bagian timur Kampung Ranamasa terdapat sebuah kali kecil. Airnya begitu jernih keluar dari akar kayu hutan. Hawa alamnya cukup terasa.

Di bagian timur kali itu terdapat bukit yang ditumbuhi ribuan pohon jambu mete dan kemiri milik warga.

Selanjutnya, di bagian utara terdapat lembah yang juga dihiasi ratusan tanaman perkebunan warga.

Begitu pun di bagian baratnya. Ada tebing yang juga ditumbuhi pepohonan rindang dari hutan Negara Golo Munga.

Rumah-rumah warga banyak terbuat dari kayu. Ada yang rumah panggung. Ada yang lantainya semen. Ada juga lantainya tanah.

Inilah sekilas tentang posisi Kampung Ranamasa. Mirisnya, warga Ranamasa terus diimpit penderitaan karena keterisolasiannya.

Situasi pilu yang mendera masyarakatnya sudah berlangsung puluhan tahun. Entah sampaikan kapan. Tak ada satu pun yang tahu persis, mungkin tanpa batas.

Baca Juga:

  • Warga Ranamasa Ingin Merdeka dari Keterisolasian
  • Warga Ranamasa Gotong Pasien Pakai Bambu

Tak ada akses transportasi menuju ke sana. Tak ada fasilitas kesehatan, dan lain-lain. Apalagi listrik, warga hanya ditemani lampu pelita untuk penerangan malam.

Tahun 2015 memang sudah ada sekolah definitif. Namanya SDN Mengge. Namun hingga kini masih menggunakan gedung darurat. Dindingnya dari anyaman bambu. Lantainya tanah.

Tim medis dari Puskesmas Weleng saat melaksanakan imunisasi campak dan rubella di SDN Mengge, 21 Agustus 2018 (Foto: Facebook Yufensius Ramli)

Menuju ke sana harus berjalan kaki dari jalan raya Benteng Jawa- Satar Teu. Jaraknya sekitar 4 KM dan ditempuh sekira 1,5-2 jam.

Medannya cukup terjal di tengah hutan Negara Golo Munga. Di jalan kecil yang sering ditapaki, banyak ditumbuhi batu-batu tajam. Tak jarang warga meringis, jika kaki mengenai batu-batu tajam itu.

Hingga kini masyarakat Ranamasa terus hidup terkungkung karena keterisolasian wilayahnya. Belum lagi ada kisah, beberapa pasien yang harus digotong dengan menggunakan bambu menuju Puskesmas Weleng, Desa Nampar Tabang.

Masyarakat Ranamasa selalu berharap akan itikad baik pemerintah. Mereka sadar salah satu kendala utama dalam menunjang aktivitas pembangunan adalah keterisolasian masyarakatnya.

Keterbatasan akses ke Kampung Ranamasa memberi dampak yang sangat besar terhadap percepatan pembangunan oleh pemerintah.

Terbatasnya sarana perhubungan ke kota  merupakan masalah serius yang membatasi akses dari masyarakat Ranamasa.

Belum lagi jika mereka hendak menjual hasil komoditi. Warga terpaksa bahu membahu memikul hasil pertanian menuju jalan raya.

Memikul sambil menapaki lereng bebukitan tentu saja menambah deretan kisah pilu untuk warga Ranamasa. Jika langkah kaki tak hati-hati, maka jurang maut bakal menyambut riang.

Dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, dari pemilu ke pemilu, masyarakat Ranamasa hanya berharap mereka bisa perlahan keluar dari keterisolasian wilayahnya.

 

Penulis: Ardy Abba

ardy abba
Previous Article57 TRK di TTS Jadi Sekolah Reguler
Next Article 16 Tim Berlaga di Gasah FC Cup II

Related Posts

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026

Kades ‘Ikut Garap’ Proyek Negara, Bupati Manggarai Tak Boleh Diam

21 Desember 2025

Cepat Tangkap Pemburu, Lamban Sentuh Tambang: Ada Apa dengan Penegakan Hukum di Manggarai Barat?

20 Desember 2025
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.