Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Kepala SD Sono TTU Diduga Aniaya Penjahit, Ini Penyebabnya
NTT NEWS

Kepala SD Sono TTU Diduga Aniaya Penjahit, Ini Penyebabnya

By Redaksi4 September 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Katarina Elu, korban dugaan penganiayaan oleh Kepala SD Sono saat mendatangi awak media di sekretariat Intan TTU (Foto: Eman Tabean/VoxNTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu,Vox NTT- Benediktus Anunu, Kepala SD Sono, Desa Sono, Kecamatan Bikomi Tengah, Kabupaten TTU diduga telah melakukan penganiayaan terhadap Katarina Elu pada Sabtu, 11 Agustus lalu.

Wanita paruh baya yang sehari-sehari berprofesi sebagai penjahit Pasar Baru Kefamenanu itu diduga dianiaya Kapsek Benediktus di halaman depan kantor SD Sono sekitar pukul 09.00 Wita.

Katarina Elu saat menemui awak media di Sekretariat Intan TTU, Selasa(04/08/2018), menjelaskan, pada hari kejadian dirinya mendatangi Kepsek Benediktus di ruang kerjanya guna menagih utang yang sudah dipinjam sejak tahun 2016 lalu.

Saat Katarina meminta uang beserta bunganya, Kepsek Benediktus beralasan dana bantuan operasional sekolah (BOS) belum dicairkan. Sehingga uang pinjaman tersebut belum bisa dikembalikan.

“Waktu saya minta supaya pak Bene kasih kembali uang Rp 2 juta tambah bunga yang dia pinjam dari tahun 2016, dia bangun pegang saya di lengan kanan terus ambil dompet terus buka lalu bilang lihat ini dompet lihat sendiri, saya mau ambil uang darimana untuk bayar? Tunggu dana BOS cair dulu baru saya bayar,” ujarnya menirukan ucapan Kepsek Benediktus.

Melihat gelagat Kepsek Benediktus yang sudah tidak bersahabat, Katarina pun langsung keluar dari kantor menuju ke halaman depan sekolah.

Saat berada di halaman depan kantor, Kepsek Benediktus langsung datang dan mendorong dirinya hingga terjatuh.

Katarian mengaku, setelah dia jatuh Kepsek Benediktus lalu mnginjak-injaknya pada paha sebelah kanan berulang kali.

“Dia (Kepsek Benediktus) dorong saya sampai jatuh terus ikut injak saya ulang-ulang lagi di paha sebelah kanan, ini paha sebelah kanan masih sakit sampai sekarang,” tuturnya.

Setelah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan itu,  Katarina mengaku langsung melaporkan ke Camat Bikomi Tengah.

Oleh Camat,  Katarina diarahkan untuk menjalani pengobatan di puskesmas setempat dan seterusnya membuat laporan di  Polsek Miomafo Timur.

“Saya sudah lapor di Polisi juga, saya harap pak Polisi bisa beri keadilan buat saya,” tuturnya.

Kepala SD Sono, Benediktus Anunu saat dikonfirmasi VoxNtt.com melalui telepon membenarkan jika dia dan Katarina terdapat persoalan hutang piutang yang belum diselesaikan hingga saat ini.

Menurutnya, uang pokok pinjaman sebesar Rp 2 juta sudah dikembalikan. Sedangkan yang belum dibayarkan hanya bunga pinjaman.

“Waktu dia (Katarina) datang minta itu saya memang tidak ada seribu rupiah juga di saku, untuk pokok yang Rp 2 juta saya sudah bayar, hanya sisa saja yang belum, kalau dana BOS sudah cair pasti saya bayar sisanya, mungkin sekitar bulan November ini,” tuturnya.

Kepsek Benediktus pada kesempatan itu membantah keras jika dirinya dituding melakukan penganiayaan terhadap Katarina.

Kepsek Benediktus mengaku saat itu dia dan Katarina hanya beradu mulut. Sedangkan untuk penganiayaan yang dituduhkan kepadanya tidak terjadi sama sekali.

“Tidak mungkin saya mau pukul mama Katarina, dia jatuh itu mungkin karena terantuk tapi kalau saya mau dorong atau bahkan sampai bilang injak itu tidak mungkin sama sekali, banyak guru dan murid yang lihat, saya tidak mungkin pukul perempuan,” ujarnya dengan nada tegas.

 

Penulis: Eman Tabean
Editor: Ardy Abba

TTU
Previous ArticleInfografis: Musik Tatong dari Kedang
Next Article Pendidikan Ber-Sosmed Bagi Kaum Muda

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.