Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Lewat Ritual Puru Lamananga, Ini Pesan ‘Marapu’ untuk Orang Sumba
Seni dan Budaya

Lewat Ritual Puru Lamananga, Ini Pesan ‘Marapu’ untuk Orang Sumba

By Redaksi16 Desember 20163 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Pada tanggal 10 Desember 2016 lalu, kontributor VoxNtt.com Sumba Timur  berkesempatan mengikuti ritual Puru Lamananga di Desa Wanga dan Desa Patawang, Kabupaten Sumba Timur. Melalui ritual yang diadakan setahun sekali menjelang musim tanam ini, masyarakat adat yang memeluk kepercayaan Marapu menemukan beberapa pesan dari Sang Pencipta lewat ritual tersebut. Berikut laporannya.

Waingapu, VoxNtt.com- Puru Lamananga adalah ritual yang dilakukan oleh penganut agama asli orang Sumba (Marapu) yang sudah mendapat pengakuan dari pemerintah lewat  surat dari Kemendikbud Dirjen Kebudayaan nomor : TI 313/f.8/n.1.1/2016.

Pengakuan itu juga tertuang dalam  surat penyampaian tanda inventarisasi no 48/f4/pkt/2015 serta SKT dari pemda Sumba Timur dengan nomor BKBP 220/365/B.3/VIII/2015.

Ritual Puru Lamananga merupakan ritual tahunan yang dilakukan menjelang awal musim tanam dimana para penganut Marapu memohon kepada Sang Pencipta agar diturunkan hujan yang cukup untuk dapat bercocok tanam pada musim tanam tahun ini.

Tahapan Ritual

Ritual ini dilakukan dalam 4 tahapan. Tahapan pertama dilakukan pada tanggal 10 Desember 2016 lalu di Mananga atau yang dalam bahasa Indonesia disebut muara, tepatnya di Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur.

Foto: Peserta ritual
Foto: Peserta ritual

“Ritual pada tahap pertama ini  disebut Ritual Wuku Maundala kapeika nggili duaka (Lamuru lukuwalu)” tutur Umbu Jhon, salah satu tokoh adat dari marga Lukuwalu.

Dalam ritual ini, hewan kurban terdiri dari 1 ekor kambing dan 19 ekor ayam kampung.

Tahapan kedua, ketiga dan keempat dilakukan pada tanggal 12 desember 2016 di Desa Patawang. Tahapan kedua merupakan ritual Laijari hambalolang patawang reti nimbu (mbarapapa).

Pada tahap ini jumlah hewan kurban 19 ayam dan 1 ekor kambing.

Tahapan ketiga ritual Yela Kara Helli Kalumbang Padanjara. Adapun hewan kurban 7 ayam dan 1 kambing.

Pada tahapan akhir ritual dilakukan di Praingu Kapeka di lolang (mbarapapa). Ritual terakhir adalah ritual kunci/penutup dari keseluruhan rangkaian ritual yang ada. Hewan kurban terdiri dari 7 ekor ayam kampung dan 1 ekor babi.

Rangkaian rituai ini dipimpin oleh seorang “Mauratu” yang bertindak sebagai imam dalam ritual.  Mauratu tersebut bernama Mmbu Nengi Kola Mbani.

Pesan Marapu

Dari rangkaian ritual yang dilakukan,  tetua adat Marapu kemudian bermusyawarah untuk menyimpulkan pesan yang mereka temukan dalam ritual tersebut.

Foto: Membaca keinginan marapu pada hati kambing oleh Maurat
Foto: Membaca keinginan marapu pada hati kambing oleh Maurat

Pertama,  pada musim tanam kali ini hujan tidak seperti  beberapa tahun yang lalu dimana curah hujannya  cukup. Kali ini akan mengalami kemarau panjang.

Kedua, bahwa pesan Marapu kepada turunannya yang masih hidup agar tetap menjaga dan mempertahankan lingkungan /wilayah ulayat dan atau wilayah kelola yang dimiliki. Baik itu Pahomba, Katoda Padandjara Mananga,  hutan dan padang pengembalaan yang dimiliki.

Kesemuanya itu harus tetap seperti semula tidak boleh di rusak apalagi di jual.

Ketiga, apa yang menjadi tujuan yang diinginkan akan tercapai atau terkabulkan setelah membaca uratu manu, uratu wei dan uratu kambing. (Kontributor: Fian Deta/VoN).

Foto Feature: Maurat menyajikan sesajen kepada Marapu (Foto: Fian Deta)
 

Sumba Timur
Previous ArticleKejurdo Kempo Manggarai Raya, 14 Dojo Unjuk Kebolehan
Next Article Tak Sesuai Musrenbang, Lurah Madawat Usulkan Bongkar Pembagi Jalan

Related Posts

URK Cup I Digelar Maret 2026 di Waingapu, PBVSI Nilai Jadi Ajang Seleksi Atlet Menuju PON 2028

8 Januari 2026

Gubernur NTT: Tenun Ikat Bukan Sekadar Kain, Melainkan Identitas Daerah

14 Desember 2025

Bundaran Patung Kristus Raja Kumba Disulap Menjadi Lebih Semarak dan Berkilau di Malam Hari

12 Desember 2025
Terkini

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.