Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Frans Jual Kayu Api untuk Beli Baju Natal
Feature

Frans Jual Kayu Api untuk Beli Baju Natal

By Redaksi19 Desember 20163 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng,VoxNtt.com-Kayu api memang berlahan telah digantikan minyak tanah untuk keperluan rumah tangga. Namun ternyata masih ada segelintir orang yang mengais rejeki bahkan menyandar  hidup dengan  menjual kayu api.

Salah satunya Fransiskus Egor  (43) pria  asal kampung Lous,  Desa Riung, Kecamatan Cibal Utara, Kabupaten Manggarai.

Saat ditemui VoxNtt.com (15/12) di jalan utama  Ruteng-Reo  tepatnya  sekitar 18 Km sebelum memasuki kota Reo, ibu kota Kecamatan Reok, ia tampak sibuk menjajakan kayu api bagi kendaran yang lewat di jalan itu.

Dengan raup wajah  letih,  ayah  2 orang anak ini  menuturkan  pekerjaan  menjual kayu api sudah dijalani sekitar empat tahun lalu setelah 10 tahun pulang berlanang buana di negeri jiran Malaysia.

“Modal pergi rantau sudah habis dibuat rumah, pekerjaan ini  satu-satunya pekerjaan menopang kehidupan keluarga saya” Kata suami dari Mersiana Haliman ini.

Di bawah pondok sederhana buatanya, ia berteduh dari terikanya matahari sambil  menguliti belahan kayu yang sudah dipotong dari lahan miliknya.

“Kayu jenis lamtoro tumbuh subur di desa kami, baik yang masih usia muda  maupun  tua  dipotong lalu kulitnya dibersihkan ” ujar pria kelahiran Lous 15 Mei 1978 ini.

Setelah dipotong di hutan dan kebun ternyata prosesnya masih begitu panjang. Ia harus menguras keringat memikul dengan jarak yang lumayan jauh. Kayu lamtoro tersebut kemudian dikuliti dan  dijemur lalu dipajang di bawah kolong pondok.

” Jarak tempat mencari kayu lumayan jauh ” akunya.

Prosesnya tidak sampai di situ, sesampainya di pondok butuh waktu hingga satu sampai dua minggu, baru kayu-kayu tersebut dijual kepada pemborong  untuk kebutuhan  ribuan  rumah tangga di Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai .

Pekerjaan ini, aku Frans tidak hanya dilakukan keluarganya tetapi juga belasan warga Lous yang menginap di pondokan sambil  menunggu pemborong kayu api datang  dari Kota Ruteng.

Frans menuturkan  kayu dijual dengan harga 1000  per ikat. Setiap hari  kayu  terjual sebanyak 40  sampai   50 ikat.

“Setiap hari penghasilan Rp 40.000 sampai sampai Rp 50.000. Padahal kita  mengumpulkan kayu api dalam jumlah   eperti ini dalam waktu satu sampai dua hari” katanya

Dia mengaku pelanggan kayu api  biasanya para penumpang, pengendara sepeda motor, dan para pembeli dari Ruteng yang memborong kayu dengan menggunakan truk.

“Kalau menggunakan truk besar biasanya kayu  diangkut dari lima sampai enam penjual dari kampung Lous  sehingga kayu api baru dapat memenuhi mobil truk tersebut” pungkas Frans.

Meskipun dengan harga pas-pasan  Frans mengeluh penjualan kayu  tidak seimbang dengan tenaga yang sudah  terkuras.

“Uangnya cukup untuk  membeli beras dan biaya uang sekolah untuk anak-anak”

Meskipun pekerjaan boleh dibilang lumayan sulit,  ternyata cukup untuk kebutuhan keluarganya. Tanpa disadarinya kayu api dari pohon-pohon lamtoro yang tumbuh  liar  tersebut sudah memberikan jasa yang begitu  besar bagi kehidupan keluarganya dan beberapa warga kampung Lous.

Ia mengaku menjelang hari raya Natal dan Tahun baru 2017 kayu hasil jualan laris di tangan pemborong dari Ruteng.

“Saya tidak bisa pungkiri kuasa Tuhan ada rejeki  menyambut Natal dan Tahun baru. Setidaknya kami beli baju natal untuk keluarga” jelas Frans yang hingga kini belum pernah mendapat bantuan program untuk keluarga miskin.

Dia berharap agar program-program pemerintah harus benar-benar pro rakyat khususnya untuk keluarga seperti mereka.

“Program pemerintah di desa kami lebih banyak sifat kekeluargaan yang dapat hanyalah mereka yang memiliki ikatan emosional keluarga” katanya dengan nada sesal. (Kontributor: Rony Dale/VoN)

 

Manggarai
Previous ArticleSebongkah Batu Besar Halangi Jalan Kembur-Nceang
Next Article Sebanyak 60 Pengurus DPW PKB NTT Dilantik

Related Posts

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026
Terkini

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.