Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Memungut Mimpi
Sastra

Puisi: Memungut Mimpi

By Redaksi30 Maret 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Puisi-Puisi Fr. Paul Ama Tukan

Surat Kepada Kawan

;teruntuk J

Suatu malam

Kita datang dengan membawa jumpa

Saling menyapa tanpa memaksa.

Kita pun menuai mimpi yang ditaburkan di beranda kesempatan

Lalu engkau datang menuju kamar

Membawa kata-kata yang beku nan memar

Melelehkan malam dengan bening mata pada buku

“Sahabat, jalan ini justru mengoyakkan harapan, melingsirkan tawa”

Tetapi tidak apa-apa

Hidup tidak selalu tepat untuk ditebak

Ada saat kita duduk memeras air mata

Bersimpuh dalam doa yang marah

Ada saat kita berpeluk dan berpisah

mengenang jatuh bangun kita

Ada saat kita mengekalkan jarak

“kau menjadi kau, aku menjadi aku”

Oh ya,,,

“Tuhan,

Engkau tidak keliru?”

DIARI

Suatu malam aku menenun gerah

Karena ingat melupakanmu

Merapal doa yang tidak masuk akal

“Tok tok tok,,

Ada Tuhan di dalam?”

Memungut Mimpi

: Amar

Ia setia memungut mimpi

Yang ia tenun lewat kata

Ia setia memeras keringat

Yang tumpah dari ujung pena

Ia setia merawat mimpi yang kerap dirajam di kantor-kantor,

los-los pasar, jalanan, gubuk pengadilan

sampai lingsir terhempas

dan kami kembali duduk tajamkan pena

Nenuk 2018

 

Surat Kabar

Dan bajunya bersabda gaduh

Mencatat hasrat paling purba

Dalam rupa cermin

Sedang kita adalah gelas kaca

Tempat kata-kata bening memaksa

Dan ketika tiada yang getir

Segalanya ranum dalam kepala

Ruang Baca,2018

*Paul Ama Tukan, Bergiat pada Komunitas Sastra Kotak Sampah, Novisiat SVD Nenuk. Alumni Seminari BSB Maumere.

Paul Ama Tukan
Previous ArticlePuisi: Zaman Kemurungan
Next Article Warga Pertanyakan Realisasi Bantuan Rumah dan HOK di Desa Torok Golo Matim

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.