Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Harga Menjanjikan, Masyarakat TTU Mulai Fokus Kembangkan Tanaman Porang
Ekbis

Harga Menjanjikan, Masyarakat TTU Mulai Fokus Kembangkan Tanaman Porang

By Redaksi6 Oktober 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Anggota kelompok tani Sfunit di bawah pendampingan Leonardo Kaet sementara serius menanam tanaman porang di atas lahan seluas 1,2 hektare di Kampung Maumolo, Sabtu, 05 Oktober 2019 (Foto: Eman Tabean/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu, Vox NTT-Tanaman porang atau dalam bahasa daerah Timor Tengah Utara (TTU) disebut maerato saat ini memiliki nilai harga jual yang cukup menjanjikan bagi petani.

Selain harganya yang menggiurkan, jangkauan pasar yang luas juga membuat tanaman umbi tersebut mulai dikembangkan para petani.

Melihat potensi tersebut, 10 warga Kampung Maumolo, RT 18, RW 006, Kelurahan Bansone, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU pun mulai fokus untuk mengembangkan tanaman porang.

Dengan tergabung dalam kelompok tani Sfunit, 10 petani tersebut saat ini tengah mengembangkan tanaman porang pada lahan seluas 1,2 hektare.

Terpantau VoxNtt.com, Sabtu (05/10/2019) siang, di atas lahan yang sudah dibajak dan dibuat dalam bentuk bedengan itu,10 anggota kelompok tani Sfunit dengan dibantu anggota keluarga lainnya tampak serius menanam tanaman porang.

Sebelum mulai penanaman awal, terlebih dahulu dilakukan doa bersama.

Maria Sasi salah satu anggota kelompok tani Sfunit mengaku, menanam tanaman porang tersebut merupakan hal baru baginya. Kendati baru, ia berkomitmen untuk serius mengembangkannya.

Ia juga mengaku, ingin mengembangkan tanaman porang setelah mendapat informasi bahwa harganya menjanjikan.

“Tiap hari kami kerja dengan pak Ardo, bibit juga kami dapat dari pak Ardo, saya mau tanam karena katanya harga jual bagus,” tutur Maria.

Leonardo Kaet selaku pendamping kelompok tani Sfunit saat diwawancarai VoxNtt.com mengaku, keinginannya untuk berkeliling dan memotivasi petani guna menanam tanaman porang setelah mendapat informasi jika harga jual tanaman umbi tersebut cukup menggiurkan.

Selain itu, kata dia, pekerjaan yang dilakukannya itu secara sukarela. Hanya untuk mengubah pola pikir petani.

Ia mengaku sebelumnya petani hanya berpikir untuk menanam tanaman umur pendek. Namun saat ini harus menanam tanaman jangka menengah seperti porang yang tentu saja memiliki nilai jual dan pasarannya sangat bagus.

“Saya tahun lalu sudah coba kembangkan di Desa Banain A, B dan C, saat ini saya mau kembangkan di sini lagi dengan jumlah tanaman 20 ribu pohon,” tuturnya.

“Selama ini petani kita tanam maunya cepat panen, kalau untuk tanaman porang ini harus agak sabar sampai satu setengah tahun, tapi untuk harga sangat menjanjikan, pola pikir petani ini yang harus kita ubah,” tutur pemuda asal Desa Tes, kecamatan Bikomi Utara itu.

Alumnus Fakultas Pertanian Unimor tersebut menambahkan, selama ini petani hanya mengenal sistem penanaman tanaman porang dengan cara ditugal tanpa ada perlakuan lanjutan.

Sehingga dalam pendampingan yang dilakukannya ini, ia mengarahkan petani untuk terlebih dahulu membajak lahan yang hendak ditanami porang.

“Kemudian ditanam lalu dilakukan pemupukan dasar menggunakan pupuk organik,” kata Leonardo.

“Masyarakat kita lebih banyak  tahu tanam porang ini cukup tugal saja, tapi di sini saya mau ajar petani untuk harus buat bedeng dan kasih dengan pupuk dasar pakai pupuk organik karena sistem tanam seperti ini hasilnya akan lebih bagus dari yang hanya sekedar tugal saja tanpa ada perlakuan lainnya,” jelasnya.

Penulis: Eman Tabean
Editor: Ardy Abba

 

TTU
Previous ArticleMeski Dua Kali Kalah, Profesor Usfunan “Tidak Kapok” Maju di Pilkada TTU
Next Article Irenius, Bocah SD di Malaka yang Dapat Hadiah Sepeda dari Menkes Nila

Related Posts

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Perumda Air Minum Kota Kupang Luncurkan Promo Sambungan Baru dan Website Resmi Jelang HUT ke-17

2 Maret 2026

Kapal Pesiar Mewah Bawa 1.300 Turis Singgah di Kupang, Travel Agen Siapkan Tiga Destinasi

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.