Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Human Trafficking NTT»Menghilang, Siswi SMA di TTU Diduga Jadi Korban Human Trafficking
Human Trafficking NTT

Menghilang, Siswi SMA di TTU Diduga Jadi Korban Human Trafficking

By Redaksi5 Februari 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Donatilda Palbeno siswi SMA asal Desa Sunkaen yang dikabarkan menghilang sejak Minggu, 02 Februari 2020 (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu, Vox NTT- Donatilda Palbeno (17) warga Desa Sunkaen, Kecamatan Bikomo Nilulat Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dilaporkan menghilang sejak Minggu (02/02/2020).

Dona yang diketahui masih duduk di bangku SMA kelas II SMAN Bikomi Nilulat itu menghilang setelah tidak kembali ke rumah usai berkunjung ke Kota Kefamenanu sejak Minggu pagi.

Wilfrida Palbeno salah satu kakak kandung korban saat dihubungi VoxNtt.com melalui telepon, Selasa (04/02/2020), membenarkan informasi kehilangan adiknya tersebut.

Wilfrida mengisahkan, pada Minggu pagi Dona pamit dari rumahnya bersama 2 orang teman untuk pergi ke Kota Kefamenanu.

Dona dan kedua  itu pergi ke Kota Kefamenanu menggunakan sebuah sepeda motor.

Saat pamit dari rumah, kata Wilfrida, Dona menginformasikan bahwa ia ingin ke Kota Kefamenanu untuk melegalisasi SKHUN SMP.
Legalisasi itu di rumah kepala SMPN Nunpo yang berdomisili di Kota Kefamenanu.

“Jadi setelah dari rumah kepala sekolah, dia (Dona) beritahu temannya kalau dia masih singgah di terminal mau ketemu dengan kakaknya Imel, jadi temannya kasih turun dia di terminal,” tuturnya.

“Setelah turun itu temannya belum jalan, katanya dia (Dona) cek-cek kakaknya Imel ini di terminal belum ada, dia beritahu temannya kalau ini mereka belum ada saya masih mau ke pasar baru untuk beli pakaian, kamu pulang lebih dahulu sudah jadi temannya langsung pulang lebih dahulu,” tambah Wilfrida.

Ia menambahkan, pada Minggu siang dua kakak kandung Dona yang sudah ada janjian untuk bertemu dengannya tiba di terminal.

Namun setelah ditunggu beberapa waktu lamanya, Dona tak kunjung muncul.

Saat dihubungi melalui telepon, awalnya sempat terhubung. Namun belum sempat bicara, sambungan telepon sudah dimatikan. Beberapa saat kemudian nomor handphone Dona sudah tidak aktif lagi.

“Senin pagi itu bapak ke Pos Haumeni Ana, dari sana bapak diarahkan ke Polres jadi sekitar jam 12 siang (Senin 03 Februari) bapak lapor di Polres,” tuturnya.

Wilfrida mengakui, kehidupan orangtuanya sering mengalami kesulitan ekonomi.

Beberapa kali Dona meminta berhenti sekolah untuk pergi mencari kerja. Namun oleh kedua orangtuanya tidak diizinkan.

“Tahun lalu sempat dia bilang dia tidak mau sekolah lagi, tapi saya bilang Dona tahan-tahan dulu apalagi ini sudah kelas II, nanti kalau sudah tamat mau pergi merantau dimana silahkan saja,” tuturnya.

Wilfrida menambahkan, pihaknya menduga Dona dibawa orang untuk tujuan tertentu. Kecurigaan itu muncul lantaran selama seminggu sebelum menghilang, tambahnya, Dona sering terlihat murung dan menyendiri.

Selain itu, Dona sering teleponan dengan seorang pria yang belakangan diketahui berada di Papua.

“Tadi malam (Senin 03 Februari) laki-laki yang sering telepon dengan Dona ada telepon temannya Dona beritahu kalau Dona sudah di atas kapal hampir siang mau berangkat Ke Papua, tapi 1 jam kemudian itu laki-laki telepon lagi kalau Dona sementara dalam perjalanan ke Kupang dan nanti dia tidak naik kapal laut tapi naik pesawat karena dia (Dona) ada utang Rp 5 juta untuk beli pakaian dan beli tiket, tidak tahu motif laki-laki itu apa sehingga kasih informasi begitu,” tuturnya.

Lebih lanjut Wilfrida menuturkan saat ini pihaknya masih terus mencari keberadaan Dona.

Ia berharap pihak Kepolisian dapat membantu, sehingga adiknya bisa diketahui keberadaannya dan dibawa pulang untuk kembali melanjutkan sekolah.

Penulis: Eman Tabean
Editor: Ardy Abba

Human Trafficking TTU
Previous ArticleHarun Masiku Belum Ditangkap, BKH: Persepsi Buruk Bagi Pimpinan KPK
Next Article Hanya 115 Formasi, Kuota CPNS Belu Belum Penuhi Kebutuhan

Related Posts

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026

FP NTT Sebut Kunjungan ke Sumba Sosialisasi PMI, Kapolres Sumba Barat Membantah

2 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.