Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sorotan»Ratusan Ekor Babi di Timor Mati, Diduga Akibat Diserang Virus ASF
Sorotan

Ratusan Ekor Babi di Timor Mati, Diduga Akibat Diserang Virus ASF

By Redaksi22 Februari 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Babi. (Ilustrasi).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Ratusan ekor babi di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mati.

Kematian ratusan ekor babi ini diduga akibat diserang virus aneh. Pemerintah NTT kini tengah menelusuri penyebab dari kematian ratusan ekor babi tersebut.

Demikian dikatakan Asisten II Setda Provinsi NTT, Samuel Rebo di Kupang, Sabtu (22/02/2020).

“Dugaannya seperti itu (virus aneh), tetapi kami belum mengetahui secara persis virus yang menyerang ratusan ekor ternak babi di Pulau Timor tersebut,” ujar Samuel Rebo seperti dilansir Antara.

Samuel mengakui, saat ini ratusan ekor babi itu mati karena diduga diserang virus aneh tersebut. Namun demikian, ungkap Samuel, pemerintah belum bisa memastikan dugaan tersebut.

Kata dia, pemerintah telah mengirimkan sampel ke  Medan, Sumatra Utara untuk diperiksa di laboratorium. Hasilnya belum diketahui.

Mantan Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT ini menjelaskan, pemerintah tidak ingin berandai-andai untuk menyebut virus African Swine Fever (ASF) yang masuk dari Timor Leste sebagai penyebab kematian babi tersebut.

Hal itu terang dia, karena belum ada hasil pemeriksaan laboratorium untuk membuktikan hal itu.

“untuk mengetahui bahwa itu adalah ASF, harus ada konfirmasi hasil pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu,” ujar Samuel.

Infografik: Perkembangan dan Persebaran Populasi Babi di NTT

Samuel mengharapkan, pemerintah NTT segera mendapatkan hasil pemeriksaan laboratorium pada pekan depan agar dapat dicarikan solusinya sebelum menyerang ternak babi yang lain.

Masih melansir Antara, Martinus Suban, seorang peternak babi di Kupang menjelaskan, babinya mati setelah menunjukkan gejala-gejala aneh.

Adapun gejalan yang ia temukan pada babinya yakni, pada hari pertama nafsu makannya berkurang, hari kedua tidak mau makan dan hari ketiga hanya minum air hingga hari ketujuh, babi itu mati.

Baca: ASF Ancam Populasi Ternak Babi di NTT

Ketika berkonsultasi ke dokter hewan, Suban mendapatkan informasi bahwa saat ini ada virus aneh yang masuk dari Timor Leste.

“Virus tersebut menurut dokter belum ada obatnya atau vaksin, sehingga jika ternak mulai menunjukkan gejala aneh, maka sebaiknya dipotong,” ujar Suban.

Mengenal ASF

Mengutip The Guardian, Tirto.id pada 14 Oktober 2019 menjelaskan, ASF atau demam babi afrika adalah virus yang tidak berbahaya bagi manusia tetapi mematikan bagi babi.

Baca: Kuliner Baru Hadir di Labuan Bajo, Ini Kekhasan Sei Babi Sajian Resto SaySe’i

ASF adalah virus penyakit babi yang sangat menular. Gejala paling umum dari virus ini adalah suhu tinggi hingga kehilangan nafsu makan pada babi.

Gejala lain misalnya muntah, diare dan kesulitan bernafas dan berdiri. Saat ini belum ada obat untuk virus ini bahkan resiko kematiannya 100 persen dalam keadaan tertentu. ASF berbeda dengan flu babi.

Proses Penularan

Sebagaimana Tirto.id, ASF dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.

Babi Hutan disebutkan sebagai salah satu yang dapat menyebarkan ASF. Selain babi hutan, virus ini juga dapat tersebar melalui serangga seperti kutu.

Baca: TTS Targetkan Pasar Daging Sapi dan Babi ke Tiles

Virus ini juga dapat bertahan hidup dalam daging olahan bahkan beberapa tahun dalam daging beku.

Karenanya, produk daging menjadi perhatian khusus untuk penulrannya lintas batas, seperti dari suatu benua atau negara ke benua atau negara yang lain. (VoN)

 

African Swine Fever ASF Babi
Previous ArticleAnsy Lema Pertanyakan Izin Investasi PT SKL dan PT KWE di TN Komodo
Next Article Live DJ di Kupang, Sheila Marsia: Saya Punya Hati untuk NTT

Related Posts

Enam Proyek Jalan APBD 2025 di Manggarai Berstatus KDP, DPRD Minta Kontraktor Ditindak Tegas

15 Februari 2026

WALHI NTT Soroti Tambang Emas Ilegal di Sebayur Besar, Kritik Keras Lemahnya Tata Kelola TN Komodo

6 Desember 2025

Ayah Terjebak “Penipuan” Tabungan BNI Life, Anak Batal Kuliah

19 November 2025
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.