Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»77 Ekor Babi di Manggarai Mati Terserang Penyakit Streptococcus Suis
Regional NTT

77 Ekor Babi di Manggarai Mati Terserang Penyakit Streptococcus Suis

By Redaksi15 Oktober 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala Dinas Peternakan Manggarai Konstantinus Dan saat dijumpai VoxNtt.com di ruang kerjanya (Foto: Igen Padur/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT-Angka kematian babi di Kabupaten Manggarai akhir-akhir ini sudah mencapai 77 ekor.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Konstantinus Dan mengatakan, angka kematian mencapai 77 ekor tersebut merupakan akumulasi dari Januari hingga Agustus 2020 yang tersebar pada 12 kecamatan di kabupaten itu.

Menurut dia, babi mendadak mati tersebut disebabkan oleh serangan virus Streptococcus Suis.

Atas situasi tersebut, pihak Konstantinus sudah berupaya melakukan tindakan pencegahan demi memutus mata rantai penularan penyakit.

“kegiatan rutin yang kita dilakukan yaitu vaksinasi,” tutur Konstantinus kepada VoxNtt.com di ruang kerjanya, Rabu (14/10/2020).

Selain upaya vaksinasi, pihaknya juga telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pembersihan kandang.

Tidak hanya itu, Konstantinus mengimbau agar jangan menggunakan bahan hasil limbah restoran yang mengandung babi untuk dikonsumsi ternak.

“Tidak boleh keluar masuk produk baik babi hidup maupun daging olahan. Ambil contoh misalnya pergi ke Kupang dan pulang bawa se’i babi. Itu tidak boleh. Sekarang dilarang itu,” terang Konstantinus.

Manggarai Bebas ASF

Konstantinus mengatakan, hingga kini Manggarai masih tergolong kabupaten bebas penyakit African Swine Fever (ASF).

Kematian puluhan babi yang ada di Manggarai selama ini, kata Konstantinus, bukan disebabkan penyakit ASF melainkan Streptococcus Suis.

“Kita bersyukur karena sejauh ini penyakit ASF yang terjadi di beberapa kabupaten lain tidak terjadi di kabupaten kita,” ujar Konstantinus.

Walaupun kabupaten Manggarai masih tergolong bebas ASF, pihaknya tetap berupaya untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan.

Tindakan pencegahan yang dilakukan selama ini yakni menyemprot cairan disinfektan di kandang babi milik masyarakat.

“Kita juga sudah sosialisasikan kepada masyarakat melalui mimbar gereja agar kandang harus dalam keadaan selalu bersih,” tutup Konstantinus.

Penulis: Igen Padur
Editor: Ardy Abba

Manggarai
Previous ArticleDinilai Langgar Protokol Kesehatan, Bawaslu Manggarai Beri Surat Peringatan untuk Paket Deno-Madur
Next Article Jenazah Edu Nabunome Disemayamkan di Rujab, Ini Kata Wabup TTS

Related Posts

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.