Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Kisah Afni dan Yohanes, Memilih Putus Sekolah Demi Merawat Orangtua
Feature

Kisah Afni dan Yohanes, Memilih Putus Sekolah Demi Merawat Orangtua

By Redaksi11 Agustus 20215 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Afni memberi makan ayahnya yang menderita gangguan jiwa. (Foto: Igen Padur/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Waktu menunjukan pukul 13.40 Wita, Senin (09/08/2021). Seorang pria tua terlihat sedang duduk di dalam sebuah rumah berukuran 4×3 meter.

Rumah itu berlantai tanah dan berdinding pelupuh bambu. Di sana, ia tidak banyak bergerak, hanya duduk di atas sebuah bale-bale.

Pria itu mengenakan baju kaus berwarna putih campur biru. Di lehernya terlihat sebuah rosario. Sedangkan di sebelah kanannya terdapat sebuah buku kitab suci dan sebungkus rokok merk Djitoe.

Di atas bale-bale tersebut, pria itu hanya bisa duduk dan tidur. Aktivitas lain sama sekali tidak bisa dilakukan. Bahkan untuk tidur saja posisinya selalu sama. Tidak pernah berubah. Begitu pun kalau ia duduk.

Kedua kakinya dijepit dengan menggunakan balok yang telah dipaku mati. Begitupun di tangan, balok berukuran besar sedang menjepit kedua tangannya sehingga menyebabkan ia tidak bergerak banyak. Untuk makan pun ia harus disuap.

Beberapa menit berselang, seorang anak gadis mendekat. Di tangannya terdapat sebuah piring berisi nasi yang telah dicampuri sayur. Ia hendak memberi makan pria tua yang sedang duduk di atas bale-bale.

Gadis itu mengambil posisi duduk tepat di samping kiri pria tua itu. Ia perlahan menyuapnya. Pria tua itu membuka mulut dan membiarkan nasi memasuki mulutnya. Ia mengunyahnya dengan lahap.

Sesekali, anak gadis itu mengangkat sebuah gelas yang berisi air. Ia memberikan air itu ke pria tua yang ada di depannya. Tidak butuh waktu lama, pria tua itu berhasil menghabisi sepiring nasi dan sayur yang disuap sang gadis.

Gadis itu ternyata merupakan anak sulung dari lelaki tua yang sedang dipasung. Ia bernama Kristina Viani Varnilan.

Sedangkan ayahnya yang dipasung tersebut bernama Siprianus Judin, warga Dusun Muwur, Desa Wae Mantang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Setelah semuanya habis, gadis yang kerap disapa Afni itu pun kembali ke rumah sebelah. Rumah itu sama persis seperti rumah yang ditempati Siprianus, berdinding pelupuh bambu dan berlantai tanah serta berukuran 4×3 meter.

Rumah itu ternyata merupakan rumah tempat tinggal Afni bersama ibunya serta tiga orang adik-adiknya. Di dalam rumah yang hanya memiliki sebuah kamar itu, mereka tinggal berlima.

Dari dalam rumah, terlihat seorang anak laki-laki, Servas Nanggur, menggenggam sepiring nasi. Ia adalah putra ketiga dari Siprianus Judin, pasien penderita gangguan jiwa yang dipasung di rumah sebelah.

Anak itu berjalan keluar rumah yang lokasinya bersebelahan dengan rumah tersebut. Ia masuk ke dalam rumah. Di sana, ia menyimpan makanan di atas bale-bale. Anak itu kemudian menyuruh pria tua berkumis yang ada di sana untuk makan.

BACA JUGA: Anas Undik, Janda yang Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Kemiskinan

Pria berkumis tersebut adalah Donatus Dasor, saudara kandung dari ayah mereka, Siprianus Judin. Donatus juga telah lama mengidap sakit gangguan jiwa. Kini, ia masih dipasung. Usia pasungnya telah mencapai 20 tahun.

Tentang Afni dan Yohanes

Kristina Viani Varnilan (Afni) merupakan putri sulung dari Siprianus Judin dan Bergita Gumbul. Afni memiliki tiga orang adik. Dua di antaranya laki-laki dan satu perempuan.

Afni tamat SMA tahun 2020 di salah satu SMA swasta di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Walau demikian, ia sudah tidak lanjut kuliah. Gadis berparas cantik itu memilih merantau di Makassar dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

BACA JUGA: Nasib Nenek Lusia dalam Pusaran Misi Kemanusian Arsy

“Saya memiliki kerinduan untuk lanjut sekolah seperti teman-teman yang lain. Tetapi itu tidak bisa karena keadaan orang tua yan tidak punya uang. Saya akhirnya pergi merantau ke Makassar,” ujar Afni, Senin siang.

Setelah enam bulan menghirup udara di tanah rantau, Afni mendapat kabar bahwa ayah dan ibunya berkemungkinan mengidap sakit gangguan jiwa seperti yang dialami oleh Donatus, saudara kandung ayahnya yang dipasung selama 20 tahun.

Afni terpaksa harus pulang kampung. Ia bertekad untuk merawat ayah dan ibunya serta saudara dari ayah yang mengalami sakit gangguan jiwa.

Setiap hari, Afni merawat tiga pasien penderita gangguan jiwa itu dengan penuh kasih sayang. Ia selalu mengantarkan makanan.

Yohanes sedang mengantar makanan ke Donatus, saudara kandung sang ayah yang dipasung selama 20 tahun. (Foto: Igen Padur/ Vox NTT)

Aktivitas itu juga dilakoni oleh tiga adiknya. Namun, yang menjadi sandaran utama keluarga adalah Afni dan saudara keduanya yang bernama Yohanes Jeklin Abut.

Yohanes telah resmi meninggalkan bangku sekolah dan memilih mengurus kedua orangtuanya. Ia hanya sampai di kelas dua SMP. Sedangkan kedua adiknya, Servas Nanggur dan Yefrita Jaya masih di bangku sekolah dasar (SD).

“Saya terpaksa meninggalkan sekolah karena merawat orang tua saya yang jatuh sakit,” tutur Yohanes.

Kini, kedua kakak beradik itu secara bergantian mengurus kedua orangtua serta Donatus, saudara sang ayah yang juga mengidap gangguan jiwa sejak lama.

Mereka sudah tidak lagi memandang sekolah sebagai prioritas. Yang paling penting bagi mereka adalah merawat orangtua dengan baik agar kelak bisa sembuh.

Mengharapkan Bantuan

Sebagai tulang punggung keluarga, Afni mengaku kesulitan untuk membiayai kehidupan keluarga.

Ia dan adiknya yang kedua sama sekali tidak bekerja. Sumber keuangan keluarga pun tidak ada.

“Di keluarga kami ini, hanya dua yang dipasung, ayah dan adiknya. Mama saya tidak dipasung. Ia tinggal bersama kami,” jelas Afni.

Kondisi tersebut memaksa Afni dan Yohanes untuk selalu berada di rumah guna memantau dan memastikan tiga orang keluarganya dalam keadaan baik. Ia pun sangat mengharapkan bantuan dari pihak luar.

Pengakuan Kadus

Kepala Dusun (Kadus) Muwur, Itha Musa, menjelaskan sampai sejauh ini desa setempat belum mengajukan laporan keberadaan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ke Pemda Manggarai.

Walau laporan belum diajukan, Pemdes setempat pernah merekomendasikan keluarga tersebut untuk didaftar sebagai salah satu penerima bantuan rumah tidak layak huni.

Namun, bantuan yang bersumber dari dana desa (DD) itu kemudian tidak diberikan karena keluarga tidak punya uang tambahan untuk membiayai pengerjaan rumah tersebut.

“Sempat ada bantuan untuk buat rumah tetapi ditolak dengan alasan tidak memiliki uang tambahan untuk membangun rumah. Dia sendiri (ayah Yohanes dan Afny) waktu itu tidak mampu karena dari desa itu hanya bersifat material saja,” ungkapnya.

Penulis: Igen Padur
Editor: Ardy Abba

Manggarai
Previous Article‍‍‍‍‍‍Akses Jaringan Buruk Pahit Bagi Siswa di Elar
Next Article Pekerjaan Jalan Provinsi Watatuku-Mataraben di Alor Diduga Asal Jadi

Related Posts

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.