Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Apa Kepentingan China Mendukung Kelompok Taliban-Afghanistan? Simak Faktanya
HEADLINE

Apa Kepentingan China Mendukung Kelompok Taliban-Afghanistan? Simak Faktanya

By Redaksi21 Agustus 20214 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNtt.com-Media sosial di Indonesia diramaikan dengan topik jatuhnya negara Afghanistan ke tangan kelompok Taliban. Kata “Taliban” dan “Afghanistan” pun menduduki jajaran puncak trending topik di Twitter Indonesia dengan jutaan twit.

Hal itu setelah kelompok Taliban berhasil menguasai Ibu Kota Afghanistan Kabul dan penyerahan kekuasaan oleh Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani. Dengan penyerahan kekuasaan itu, praktis Taliban kini kembali menjadi penguasa Afghanistan setelah 20 tahun invasi AS.

Taliban sendiri memiliki arti “pelajar”. Hal ini merujuk pada anggota kelompok yang pernah belajar di bawah Mullah Omar.

Mullah Omar sendiri merupakan pendiri Taliban dan menjadi komandan pasukan mujahidin untuk mendorong Uni Soviet keluar dari Afghanistan pada 1989. Sementara kelahiran Taliban pada 1994 tak lepas dari ketidakstabilan politik dalam negeri setelah penarikan Uni Soviet.

Mullah Omar

Mullah Omar membentuk Taliban dengan 50 pengikutnya untuk menentang ketidakstabilan, korupsi, dan kejahatan di Afghanistan.

Janji mereka adalah memulihkan perdamaian dan keamanan, serta menegakkan syariah atau hukum Islam versi mereka setelah berkuasa.

Popularitas awal Taliban disebabkan oleh keberhasilan mereka dalam memberantas korupsi, membatasi pelanggaran hukum, dan membuat jalanan di bawah kendali mereka.

Di satu sisi, Taliban melarang televisi, musik dan bioskop, melarang anak perempuan berusia 10 tahun ke atas pergi ke sekolah, dan memaksa perempuan untuk mengenakan burqa.

Taliban juga menjadi sorotan dunia karena melindungi Osama bin Laden setelah serangan gedung WTC 11 September 2001 di New York, AS. Taliban memberi perlindungan bagi pemimpin Al Qaedah itu yang disebut sebagai pelaku utama teror.

Ketika Taliban menolak tuntutan AS agar menyerahkan bin Laden, pasukan AS menyerbu Afghanistan dan dengan cepat menggulingkan pemerintahan Mullah Omar.

Nah, dari sinilah awal mula invasi militer hingga pendudukan Amerika ke Afghanistan hingga Mei 2021. AS hengkang dari sana setelah Presiden Joe Bidan mengumumkan penarikan pasukan AS.

Sayangnya, penarikan pasukan AS ini bukannya melahirkan resolusi damai. Dengan berhasil dikuasainya Kota Kabul, ibukota Afghanistan oleh kelompok Taliban, justru memulai babak baru percaturan kekuasaan.

Hal itu dipicu oleh dukungan China sebagai rival AS dalam upaya pendudukan Kabul oleh Taliban.

Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan Mullah Abdul Ghani Baradar, kepala politik Taliban Afghanistan, di Tianjin, China, pada 28 Juli 2021. (dok.Reuters/Li Ran, Xinhua)

Muncul sinyalemen China ada di balik kemenangan milisi Taliban di Afghanistan, setelah kelompok ini gencar melakukan serangan besar-besaran di sejumlah kota besar di Afghanistan. Informasi intelijen Barat menyebutkan China membantu Taliban secara diam-diam.

Lalu apa untungnya bagi China dengan mendukung Taliban?

China sebenarnya telah lama khawatir tentang Afghanistan. Afghanistan bisa menjadi pijakan bagi separatis minoritas Uighur di wilayah perbatasan sensitif di provinsi Xinjiang.

Untuk diketahui, Suku Uighur merupakan salah satu suku minoritas yang ada di China dan penduduknya rara-rata beragama Islam. Secara budaya, suku ini lebih dekat dengan bangsa Turki dari pada mayoritas bangsa Han.

Awal abad ke-20 menjadi awal munculnya suku Uighur. Mereka lalu mendeklarasikan kemerdekaan dengan nama Turkestan Timur. Dari situ, warga Uighur dicap punya kecenderungan ‘memberontak’ oleh petinggi di Beijing-Cina.

Pemerintah China juga menaruh rasa curiga pada suku Uighur. Mereka dianggap ingin melepaskan diri dari RRC. Ditambah lagi muncul isu diskriminasi dari lembaga Human Right Watch yang mengatakan lebih dari 10 juta suku Uighur dipersulit untuk membuat paspor.

Inilah yang membuat warga dari suku Uighur sulit ke luar negeri. Petugas imigrasi mewajibkan mereka menyerahkan puluhan dokumen serta wawancara untuk memeriksa ideologi politik mereka.

Jadi, masalah China dengan muslim Uighur sebenarnya lebih ke persoalan separatism karena mereka minta untuk merdeka. Di sisi lain, China bersikap sangat represif terhadap gerakan semacam itu.

Kembali ke Taliban, China akhirnya menemukan celah untuk menyelesaikan masalah separitisme Uighur. Sayangnya, langkah China ini bukan menyelesaikan persoalan. Dengan bermain mata dengan kelompok Taliban, China sebenarnya ingin menerapkan strategi cuci tangan.

Hal itu diperjelas dengan delegasi tingkat tinggi Taliban bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Tianjin akhir Juli lalu.

Taliban menjanjikan Afghanistan tidak akan digunakan sebagai basis bagi militan mana pun, termasuk separatis minoritas Uighur.

Sebagai gantinya, China menawarkan dukungan ekonomi dan investasi untuk rekonstruksi Afghanistan. Tak hanya itu, sebagai imbalan setelah dipasok uang untuk membeli senjata, sumber Barat meyakini pemberontak akan menjauh dari Uighur, yang sempat mereka dekati.

Selain Uighur, sumber intelijen meyakini China mengharapkan sumber daya mineral dan jalur perdagangan lewat Afghanistan.

Langkah ini tentu berbeda dengan strategi Amerika yang lebih memilih pendekatan militer di Afghanistan. Pendekatan China adalah melalui dukungan ekonomi seperti menciptakan jalan, menciptakan infrastruktur, dan memastikan setiap orang memiliki pekerjaan.

Bagi China, Jika semua warga Afghanistan pergi bekerja jam sembilan pagi dan pulang jam 6 sore, mereka tidak punya waktu untuk memikirkan terorisme.

(VoN/Dirangkum dari berbagai sumber)

 

Afghanistan Amerika China Taliban
Previous ArticleGeledah di Desa Makun, Kejari TTU Sita Uang Rp228 Juta
Next Article PPKM: Momentum Membangun Solidaritas Kemanusiaan

Related Posts

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026

Telan DAU 989 Juta, Proyek Lapen Lidang – Rambe Bermutu Buruk, Ada Dugaan Keterlibatan Kades

19 Desember 2025

Ayah Terjebak “Penipuan” Tabungan BNI Life, Anak Batal Kuliah

19 November 2025
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.