Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Lagu Rindu
Sastra

Lagu Rindu

By Redaksi24 Oktober 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Puisi

Oleh: Rejeng Vox

Lagu Rindu

 

Hanya suara hening yang ada 

Menghiasi langit biru

Seperti aku sendiri di sini

Menatap kelip bintang di hati

 

Berbisik lirih pada sang surya

Semua tak lagi sama

Menatap dalam sang rembulan

Mungkinkah ia menatapmu juga

 

Memandang dalam bintang berjalan 

Teriakku meminta kisah kasihnya

Bernyanyi kecil pada sepoi angin 

Alunkan untukku masa indah itu

Ku hanya bisa bernyanyi 

 

Mengalunkan lagu dalam hati

Sesak dalam kalbu

Tak hiraukan lagi

Tetap ku bernyanyi melodi sederhana

Meski bulir-bulir tak tertahankan lagi 

Hanya bisa ku alunkan lagu rindu dalam sanubari

 

Kutulis Puisi Untukmu

 

Aku menulis

Serangkaian kata menjadi bait

Prosa yang tak pernah usai

Meski awal telah menjumpai akhir

 

Aku bercerita

Tentang bingkai kisah indah

Romansa terselubung elegi

Ketika waktu pernah begitu berpihak lalu berpaling

 

Puisiku masih saja tentangmu

Sabda senja membias kirana

Kesementaraan yang tak akan sirna

Mengikat kuat di relung sukma

 

Puisiku akan tetap untukmu 

Memendar teduh pada mega-mega

Sejak biru hinggga jingga

Ketika cerah bahkan mendung

 

Biarkan puisiku ada

Syair yang terlahir karenamu

 

Bertaghan dengan rindu tersengal

Tak usai meski langkah ini telah berlalu

Apapun teriakan dunia hari ini

Akan tetap kutulis puisi untukmu

Selalu tentangmu 

 

Senja Mengelabu

 

Guratan cahaya emas menipis di langit sore

Dominasinya terkikis warna hitam mengelabu

Senja ini memang tidak seperti biasanya 

Dia menepi dari kawanan awan hitam

 

Pada saatnya menetes jadi air mata langit 

Namun ini bukanlah kepedihan 

Tetapi kebahagiaan mengantarkan jiwa ke dalam dekapan pilu           

Rejeng Vox
Previous ArticleJubahmu dan Ikhlasku
Next Article Bonus Demografi, Kuasa dan Demokrasi di Era Milenial

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.