Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Meski Pandemi, Harta 10 Orang Terkaya di Dunia Ini Justru Meningkat 2 Kali Lipat
Ekbis

Meski Pandemi, Harta 10 Orang Terkaya di Dunia Ini Justru Meningkat 2 Kali Lipat

By Redaksi17 Januari 20224 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Vox NTT- Masa pandemi Covid-19 banyak orang di dunia jatuh ke dalam lubang kemiskinan. Namun menurut laporan lembaga Oxfam, pandemi Covid-19 justru telah membuat orang-orang terkaya di dunia semakin bergelimang harta.

Pendapatan rendah bagi orang miskin di dunia telah menyumbang 21.000 kematian setiap harinya.

Sebaliknya, harta 10 orang terkaya di dunia meningkat rata-rata dua kali lipat sejak Maret 2020.

Oxfam biasanya mengeluarkan laporan mengenai ketimpangan global pada saat dimulainya pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos.

Pertemuan tersebut biasanya dihadiri ribuan pemimpin perusahaan dan politikus, selebriti, juru kampanye, ekonom, dan wartawan. Mereka berkumpul di Resort Ski Swiss untuk berdiskusi secara panel, pesta minuman dan bercakap-cakap di antara mereka.

Namun, dalam dua tahun terakhir, pertemuan itu (yang dijadwalkan pekan ini) berlangsung secara daring setelah kemunculan varian Omicron.

Forum diskusi selama sepekan itu akan meliputi kemungkinan masa depan dari pandemi, kesetaraan vaksin, dan transisi energi.

Kepala eksekutif Oxfam GB, Danny Sriskandarajah, mengatakan lembaganya sengaja mengeluarkan laporan setiap tahun yang bertepatan dengan forum pertemuan Davos untuk menarik perhatian elit politik, bisnis, dan ekonom.

“Tahun ini, apa yang terjadi, berada di luar perkiraan,” katanya.

Menurut Danny, ada miliarder baru yang muncul hampir tiap hari di saat pandemi. Sementara 99% populasi manusia di dunia makin buruk karena terdampak kebijakan karantina wilayah, perdagangan internasional makin turun, dan pariwisata internasional makin lesu. Akibatnya, 160 juta orang lebih terdorong ke dalam jurang kemiskinan.

“Ada yang sangat cacat dengan sistem ekonomi kita,” tambahnya.

Berdasarkan daftar dari Forbes yang dikutip oleh lembaga ini, 10 orang terkaya di dunia adalah: Elon Musk, Jeff Bezos, Bernard Arnault and family, Bill Gates, Larry Ellison, Larry Page, Sergey Brin, Mark Zuckerberg, Steve Ballmer dan Warren Buffet.

Secara keseluruhan, harta mereka tumbuh dari $700 miliar (Rp10 ribu triliun) menjadi $1.5 triliun (Rp21 ribu triliun lebih).

Namun ada variasi peningkatan kekayaan di antara mereka, misalnya Elon Musk hartanya tumbuh lebih 1000%, sementara Bill Gates hanya naik 30%

Bagaimana Oxfam Menghitungnya?

Laporan Oxfam ini berdasarkan data dari Daftar Miliarder Forbes dan laporan kekayaan global tahunan dari Credit Suisse. Keduanya memberikan laporan kekayaan global sejak tahun 2000.

Survei Forbes menggunakan nilai aset dari individu, terutama properti dan tanah, dikurangi utang, untuk menentukan “harta yang dimiliki” individu tersebut. Data ini tidak termasuk upah dan pendapatan.

Metodologi ini pernah dikritik di masa lalu karena artinya bahwa seorang pelajar dengan utang tinggi, tapi punya potensi pendapatan tinggi di masa depan, misalnya, akan dianggap miskin dengan kriteria yang digunakan itu.

Oxfam juga mengatakan karena fakta harga-harga telah meningkat selama pandemi, maka lembaga ini menyesuaikannya dengan inflasi menggunakan Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat, yang bisa melacak seberapa cepat biaya hidup meningkat dari waktu ke waktu.

Laporan Oxfam yang juga berasal dari data Bank Dunia, mengatakan kekurangan akses pada kesehatan, kelaparan, kekerasan berbasis-gender, dan perubahan iklim telah menyumbang satu kematian setiap empat detik.

Laporan ini mengatakan 160 juta orang lebih hidup dengan penghasilan di bawah $5.50 (Rp78.000) per hari, lebih terdampak dari pandemi Covid-19.

Bank Dunia menggunakan penghasilan $5.50 per hari sebagai ukuran kemiskinan di negara-negara dengan penghasilan menengah atas.

Laporan ini juga menyebutkan, pandemi memaksa negara-negara berkembang untuk memangkas anggaran sosial karena utang nasional meningkat.

Kesetaraan gender telah mengalami kemunduran, 13 juta perempuan yang lebih sedikit bekerja pada 2019, dan lebih dari 20 juta perempuan berisiko tak pernah mengenyam pendidikan.

Kelompok etnis minoritas yang paling terpukul oleh Covid-19, termasuk orang Bangladesh di Inggris dan populasi kulit hitam Amerika Serikta.

“Bahkan selama krisis global, sistem ekonomi kita yang tidak adil telah berhasil memberi rezeki tak terduga dan menggiurkan bagi orang-orang terkaya, tetapi gagal melindungi yang paling miskin,” kata Danny.

Ia mengatakan para politikus sekarang memiliki kesempatan bersejarah untuk mendukung strategi ekonomi yang lebih berani untuk “mengubah tingkat kematian yang saat ini kita saksikan”.

Langkah itu mencakup mewujudkan rezim pajak yang lebih progresif, dengan pengenaan lebih tinggi pada modal dan kekayaan, dengan timbal balik yang dikeluarkan untuk pelayanan kesehatan universal yang berkualitas dan perlindungan sosial untuk semua.

Oxfam juga menyerukan agar hak kekayaan intelektual vaksin Covid-19 dihapuskan, untuk memungkinkan produksi yang lebih luas dan distribusi yang lebih cepat.

Awal bulan ini Presiden Bank Dunia, David Malpass, mengutarakan keprihatinannya mengenai ketimpangan global yang meluas karena inflasi dan cara menanganinya kemungkinan malah menyebabkan kerugian yang lebih parah lagi bagi negara-negara miskin.

“Proyeksi bagi negara-negara yang lebih lemah masih akan jauh tertinggal, dan terbelakang,” katanya.

Sumber: Kumparan

internasional
Previous ArticleStefanus Gandi Institut Gandeng Perennial Institut Gemakan Literasi dan Kemanusiaan di Flores
Next Article AMAN Gelar Kegiatan Konsolidasi, Ada Informasi Pemda Nagekeo akan Didemo

Related Posts

Perumda Air Minum Kota Kupang Luncurkan Promo Sambungan Baru dan Website Resmi Jelang HUT ke-17

2 Maret 2026

Kapal Pesiar Mewah Bawa 1.300 Turis Singgah di Kupang, Travel Agen Siapkan Tiga Destinasi

23 Februari 2026

Imigrasi Labuan Bajo Periksa Kedatangan Dua Kapal Pesiar Internasional

19 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.