Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ilmu Pengetahuan»Kisah Pelacuran Pada Zaman Perdagangan Jalur Rempah di Indonesia
Ilmu Pengetahuan

Kisah Pelacuran Pada Zaman Perdagangan Jalur Rempah di Indonesia

By Redaksi10 Februari 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pelacuran pada zaman perdagangan rempah (Junus Satrio Atmodjo/Dok. National Geographic)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Internasional, Vox NTT- Pelacuran sering menjadi kisah latar roman masa lalu.

Bahkan di novel-novel, latar warung atau toko pelacur sering dimuat.

“Seperti cerita oleh Pramoedya, jangan-jangan pelacuran mencetuskan suatu peristiwa yang terkenang dalam sejarah,” kata Irfan Nugraha, Tuan Rumah Yayasan Negeri Rempah saat membuka diskusi daring Ngulik Jalur Prostitusi di Pelabuhan Rempah, melansir National Geographic.

Memang, orang sungkan berbicara pelacuran.

Penggunaan istilah pelacur berkonotasi negatif jika dihubungkan dengan manusia, kata Junus Satrio Atmodjo, Pembina Yayasan Negeri Rempah.

Ia melanjutkan, pelacuran menjadi hal yang menarik untuk dibahas.

Pelacuran tidak bisa dilepaskan oleh jalur rempah.

Pelabuhan merupakan rute pergerakan seseorang dari suatu tempat ke tempat lainnya.

Kita bisa membayangkan para pelaut terdahulu berbulan-bulan di atas kapal, pastinya singgah untuk memenuhi logistik.

Di situlah mula cerita pelacuran.

Pelabuhan menjadi ketersediaan kebutuhan para pelaut dan ketersediaan wanita penghibur.

“Hal yang tak bisa dipisah pada pelayaran adalah batiniah dan badaniah.”

“Di pelabuhan, ia bertemu orang berbeda dan ingin melepaskan hal-hal selama pelayaran.”

“Mereka mencari teman, pelacur itu berasal dari bahasa melayu dari kata lacur, sesuatu yang di luar sistem.”

“Pelacur adalah orang-orang di luar sistem sosial masyarakat, mereka dianggap oleh orang marjinal,” ucap Junus.

Perjalanan laut, terutama jalur khatulistiwa menurut Junus tidaklah mulus.

Badai dan ombak tinggi menerpa perjalanan.

Pelayaran bukan hanya petualangan, tetapi juga menjadi hal yang menakutkan.

Seorang pelaut membutuhkan kasih sayang, melepas kehidupan yang keras karena di kapal, hampir tidak ada waktu untuk istirahat.

Junus mencontohkan, pedagang Tiongkok abad 14 yang membagi kompartemen kapal yang diisi oleh para pedagang.

Para pedagang itu harus menjaga barang dagangannya dari kapal yang bergoyang dan gangguan tikus yang ikut ke kapal, seperti itu gambaran melaut.

Menyewa pelacur adalah cara mengembalikan diri menjadi manusia, ucap Junus.

Menyampaikan cerita-cerita yang tidak bisa diceritakan ke sesama pelaut.

Seorang pelacur tidak datang dengan sendirinya.

Banyak diantaranya diambil paksa, terutama pada abad ke-18 saat perdagangan rempah marak.

Di Jakarta misalnya, mereka yang menjadi pelacur adalah orang yang menjadi budak.

Menurut Junus, pelacuran di Jakarta memiliki hirarki.

Terutama yang lokasinya berada di dalam benteng kota, itu khusus untuk orang Belanda.

Sedangkan yang di luar benteng, seperti di pelabuhan, pelacuran dengan hirarki yang rendah.

“Ada wanita dalam dan luar tembok.”

“Dalam tembok itu yang elit, luar tembok yang agak kurang keren.”

“Dari situ muncul bordil, yang dikelola secara profesional oleh pengusaha Belanda.”

“Mereka membayar pajak, oleh karena itu sah.”

“Rumah bordil menjadi rumah kesenangan,” ucap Junus.

Junus menambahkan, pelacur yang digemari saat itu adalah yang berbadan gemuk.

Risiko penyakit tertular seperti sifilis saat itu pun sudah rawan terjadi.

Sumber: Grid.Id/Suar.Id

internasional
Previous ArticleHaru Biru THL dalam Wajah Birokrasi Manggarai
Next Article Hati dan Covid-19

Related Posts

Kelas Menulis ‘Narasi Pantau’ Diadakan Lima Hari di Kupang

10 Oktober 2022

Prodi Ilmu Politik Fisip Undana Gelar Seminar tentang Masyarakat Desa

8 Oktober 2022

Kemkominfo Gelar Workshop Pengembangan Diri dan Kualitas Digital Anak Muda Papua dan Labuan Bajo

29 September 2022
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.