Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Mantovanny Tapung: Guru, Dosen, Mahasiswa, Wajib Hukumnya untuk Menulis!
MAHASISWA

Mantovanny Tapung: Guru, Dosen, Mahasiswa, Wajib Hukumnya untuk Menulis!

By Redaksi19 Maret 20224 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dr. Marianus Mantovanny Tapung
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Dosen Unika St. Paulus Ruteng Dr. Marianus Mantovanny Tapung hadir sebagai pembicara dalam webinar dan lauching Jurnal The Journal of Humanities and Applied Education (EduNet), Sabtu (19/03/2022).

Kegiatan yang mengusung tema “Rekognisi Sosial dan Intelektual dengan Menulis Karya Ilmiah” itu menghadirkan peserta mahasiswa, guru dan praktisi pendidikan.

Webinar dan launching buku juga menghadirkan Dr. Maksimus Regus, M.Si, penulis jurnal bereputasi internasional dan editor in Chief EduNet dan moderator Rudy Ngalu,S.Fil., M.Pd.

Mantovanny sendiri juga merupakan salah penulis jurnal bereputasi internasional dan editor in Chief EduNet.

Dalam kesempatan tersebut ia mengatakan, data dari Kompascom, terdapat 800.000 guru PNS di Tanah Air tertahan pangkatnya hanya sampai golongan IV A karena tidak bisa membuat karya tulis ilmiah.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan bagi guru yang ingin menduduki golongan IV B harus membuat karya tulis ilmiah. Ada 30,4% guru SD dan 28,3 % guru SMP harus puas terhenti di golongan IV A.

Mirisnya, lanjut Mantovanny, sedikit sekali guru SD, SMP dan SMA yang bisa ke pangkat IV E karena minimnya kemampuan menulis.

Sementara di kalangan dosen dan mahasiswa, rendahnya minat menulis menjadi fakta yang sangat tidak membahagiakan.

Dikutip dari www.medcom.id, Mantovanny menyampaikan, berdasarkan Science and Technology Index (SINTA) keluaran Kementerian Riset dan Teknologi, saat ini jumlah orang yang telah mempublikasikan artikel ilmiah baru mencapai sekitar 200 ribu orang.

Padahal, jumlah dosen dan peneliti di Indonesia yang tercatat di basis data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan totalnya melebihi 305 ribu orang. Artinya, lebih dari sepertiganya belum mempublikasikan artikel ilmiah.

Pada indeks riset yang dibuat oleh jurnal ternama Nature, dalam satu tahun terakhir keluaran riset Indonesia menempati urutan ke-11 di Asia Pasifik, kalah dari Vietnam dan Thailand yang memiliki jumlah dosen yang jauh lebih sedikit.

Sementara, berdasarkan daftar publikasi karya ilmiah yang dikeluarkan oleh Nature Publishing Index Asia Pasific (badan penerbit jurnal ilmiah seluruh Asia Pasifik) pada rentang tanggal 14 April 2014 sampai dengan 13 April 2015, Indonesia berada di urutan ke-12 dari 20 negara se-Asia Pasifik.

Sementara, publik tahu bahwa karya ilmiah merupakan produk manusia atas dasar pengetahuan, sikap, dan cara berpikir ilmiah.

Karenanya, menulis karya ilmiah menjadi sebuah tradisi dan gambaran kualitas mahasiswa yang belajar di Perguruan Tinggi.

Dalam dunia pendidikan, menulis di kalangan guru, dosen dan mahasiswa memiliki banyak seperti mengasah kecerdasan, mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri, mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi baru, mengembangkan pembelajaran yang berkualitas demi peningkatan mutu, menginformasikan pengalaman terbaik, dan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

“Guru, dosen, mahasiswa, wajib hukumnya untuk menulis!” kata Mantovanny.

Menurut Mantovanny, menulis, sejatinya juga adalah bagian dari proses eksistensial.

Penulis yang baik akan menegaskan keberadaan diri dan sesama dengan menghasilkan benih-benih pikiran yang baik pula.

Karena mereka telah berbuat baik dengan segenap dirinya untuk kepentingan orang lain, maka para penulis kerap dihargai dan dihormati status sosialnya.

Sudah cukup banyak orang menyadari bahwa dengan menulis, pikiran akan selalu dikenang, jiwanya tidak pernah mati, meski badannya tidak bernyawa lagi.

Menulis adalah bagian dari proses menegaskan keberadaan (eksistensi) di dunia ini.

Bila Filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650) mengungkapkan, “Saya berpikir, maka saya ada” (Cogito, ergo sum), untuk menegaskan keberadaan manusia di dunia ini, maka seorang penulis memiliki falsafah sendiri, yakni: “Saya menulis, maka saya ada” (Scribo, ergo sum).

Menulis adalah upaya menegaskan keberadaan diri dan mengakui secara elegan keberadaan orang lain.

Secara eksistensial, siapa yang tidak pernah menulis, bisa dikatakan sudah mati sebelum meninggal.

Semua orang tidak tahu kapan dan di mana raganya mati. Namun, meski raga mati, yang bisa tertinggal adalah kenangan. Kenangan akan kebaikan.

Biarlah orang akan mengenang dengan tulisan-tulisan kebaikan.

Seorang penulis kelahiran Prancis keturunan Catalunya dan Denmark Anaïs Nin (1903-1977) berkata, “Kita menulis untuk merasakan kehidupan dua kali, pada saat itu, dan ketika kita mengingatnya di dalam tulisan kita.”

Jurnal Edunet

The Journal of Humanities and Applied Education merupakan wadah keilmuan yang dikelolah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.

Jurnal ini digagas sebagai ruang untuk mendiseminasikan gagasan-gagasan ilmiah akademik tentang kemanusiaan dan pendidikan.

Jurnal ini dimaksudkan untuk menerbitkan ulasan-ulasan dalam bentuk artikel ilmiah, tinjauan literature, kajian teoretik, essay, tinjauan buku sesuai dengan tema dan fokus.

Jurnal ini merupakan terbitan berkala dua kali setahun.

Jurnal ini bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa, guru, dan praktisi pendidikan, sosial dan budaya untuk mempublikasikan gagasan dan pikirannya yang bermanfaat bagi pengembangan diri, masyarakat dan negara bangsa. (*VoN)

Kabupaten Manggarai Manto Tapung UNIKA Santu Paulus Ruteng Unika St. Paulus Ruteng
Previous ArticleLPPKPD Sumbang Buku Pertanian untuk Pemdes Bangka Jong
Next Article Dua Kapal Wisata Bottom Glass Dukung Pengembangan Destinasi Wisata di Labuan Bajo

Related Posts

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.