Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Program Kampus Mengajar, Ikhtiar Bentuk Soft Skills
MAHASISWA

Program Kampus Mengajar, Ikhtiar Bentuk Soft Skills

By Redaksi28 Maret 20224 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pose bersama saat acara serah terima empat mahasiswa 'Program Kampus Mengajar' di SMPN 20 Satarmese di Lungar, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Senin (28/03/2022).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Dosen Unika St. Paulus Ruteng Dr. Mantovanny Tapung mengatakan, program kampus mengajar merupakan ikhtiar membentuk keterampilan halus (soft skills).

Ia menyampaikan hal itu saat acara serah terima empat mahasiswa ‘Program Kampus Mengajar’ di SMPN 20 Satarmese di Lungar, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Senin (28/03/2022).

Menurut Mantovanny, upaya pembentukan keterampilan halus melalui ‘Program Kampus Mengajar’ merupakan amanah dari tuntutan keterampilan belajar abad 21, di mana mahasiswa harus memiliki keterampilan personal dalam bentuk kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif, dan keterampilan sosial dalam bentuk keterampilan berkolaborasi dan berkomunikasi.

Keempat keterampilan ini bisa diasah ketika berada di ruang kuliah, bisa juga diperhalus atau dimatangkan melalui kegiatan nyata di masyarakat.

Hal ini juga menjadi bagian dari menjalankan amanah dari empat pilar pendidikan menurut Badan Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Unesco, PBB, yakni belajar untuk mengetahui (learn to know), belajar untuk berbuat (learn to do), belajar untuk menjadi (learn to be), dan belajar untuk bisa hidup bersama dengan orang lain/masyarakat (learn to live together).

Sebagai orang yang sudah dipercayakan sebagai Dosen Pembimbing Lapangan sejak tahun 2021 (angkatan 2), Mantovanny menegaskan, ‘Program Kampus Mengajar’ ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dalam dan terang, tentang kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Selain untuk memberdayakan dan mengasah empat keterampilan belajar abad 21, dengan program ini, mahasiswa bisa lebih adaptif, akomodatif, dan analitik terkait dengan persoalan di masyarakat.

“Dengan ini bisa memberi solusi yang tepat untuk mengurai persoalan, lebih khusus masalah pembelajaran di satuan pendidikan,” katanya.

Kepala SMPN 20 Satarmese, Damianus Jehola, SE, menyambut baik kehadiran para mahasiswa di bawah payung ‘Program Kampus Mengajar’.

Menurut dia, program Menteri Pendidikan Nadiem Makarim ini menjadi salah satu solusi terbaik untuk memperkenalkan calon sarjana dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga apa yang dipelajari di bangku kuliah bisa sesuai dan cocok dengan keadaan di masyarakat.

“Jadi, ada kesinambungan dengan kemampuan konseptual dan keterampilan faktual,” jelas Damianus.

Ia menegaskan, SMPN 20 Satarmese sangat mendukung program ini, sembari berharap ‘Program Kampus Mengajar’ ada konektivitas dengan program sekolah penggerak. Sebab, keduanya memiliki spirit yang sama.

Sebagai sekolah yang baru lahir dua tahun lalu, kata Damianus, SMPN 20 Satarmese tentu saja masih membutuhkan perhatian dari para pihak, baik pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Itu terutama dalam hal sarana dan pra sarana, sumber dan media belajar, serta sumber daya manusia dari pendidik dan tenaga kependidikan.

Damianus menjelaskan, Kampus Mengajar adalah bagian dari program MBKM yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan.

Program ini merupakan transformasi dari ‘Program Kampus Mengajar Perintis’ yang bertujuan untuk memberikan solusi bagi Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terdampak pandemi Covid-19.

Kegiatannya antara lain dengan memberdayakan para mahasiswa untuk membantu para guru dan kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di tengah pandemi Covid-19.

‘Program Kampus Mengajar’ ini mengajak para mahasiswa untuk berkolaborasi, beraksi, dan berbakti untuk negeri di sekolah yang ditugaskan baik jenjang SD maupun SMP.

Dikatakan, mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) diharapkan akan membantu meningkatkan kualitas pendidikan di jenjang SD dan SMP, khususnya di bidang literasi dan numerasi.

Dengan mengikuti kegiatan Kampus Mengajar Angkatan 3 Tahun 2022, mahasiswa akan memiliki kesempatan untuk mengasah jiwa kepemimpinan, soft skills, dan karakter, serta mendapat pengalaman mengajar yang dapat diakui dan disetarakan dalam bentuk satuan kredit semester (sks).

“Sesuai dengan juknisnnya, untuk angkatan 3 program Kampus Mengajar ini, berlangsung selama 6 bulan, terhitung mulai Januari sampai dengan Juni 2022,” jelas Damianus.

Untuk diketahui, empat mahasiswa yang menjalankan Program Kampus Mengajar’ di SMPN 20 Satarmese tersebut, yakni Yuni Kristin Monica dari Prodi Bahasa Inggris Kampus Universitas Nusa Cendana Kupang, Marlinda B. Wawo dari Prodi Pendidikan Biologi Universitas Kristen Artha Wacana, Rinto D. Mesa dari Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Nusa Cendana, dan Fariadi P. Le Ara dari Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Nusa Cendana.

Acara serah terima ini dilakukan di hadapan pimpinan Satuan Pendidikan SMPN 20 Satarmese, Damianus Jehola, S.E dan unsur civitas akademika SMPN 20 Satarmese, dengan didahului acara kepok (penyambutan tamu sesuai adat Manggarai).

Penulis: Ardy Abba

Kabupaten Manggarai Manto Tapung Program Kampus Mengajar SMPN 20 Satarmese UNIKA Santu Paulus Ruteng Unika St. Paulus Ruteng
Previous ArticleGelar Pertunjukan Rakyat di Labuan Bajo, Kemkominfo RI Diapresiasi Pemda Mabar
Next Article Menakar Misteri di Balik Kelangkaan Minyak Goreng

Related Posts

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.