Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HUKUM DAN KEAMANAN»Belajar dari Kasus BPR Christa Jaya dan Notaris Albert Riwu Kore
HUKUM DAN KEAMANAN

Belajar dari Kasus BPR Christa Jaya dan Notaris Albert Riwu Kore

By Redaksi9 Agustus 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Direktur BPR Christa Jaya (masker) Wilson Liyanto dan kuasa hukum saat memberikan keterangan pers di Kupang
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Sekurang-kurangnya kasus antara BPR Christa Jaya dan Notaris Albert Riwu Kore sudah berjalan hampir selama tiga tahun.

Kasus ini bahkan, melalui sidang praperadilan lebih dari sekali, sempat di-SP3 di Polda NTT.

Namun, sekitar beberapa hari yang lalu, persis setelah putusan praperadilan Notaris Albert Riwu Kore ditolak oleh hakim pada Pengadilan Negeri Kupang, Albert akhirnya ditahan di Polda NTT.

Kuasa hukum BPR Christa Jaya Bildad Tonak mengatakan, ada banyak opini-opini liar yang beredar di masyarakat terkait dengan kasus ini.

“Berkaitan dengan fakta-fakta yang ada tidak menjadi opini liar. Sehingga ini harus diluruskan. Ini menjadi berita yang sesuai dan tidak menjadi opini liar di masyarakat,” kata dia, Senin (08/08/2022).

Bildad menerangkan, dalam kasus ini, Notaris Albert Riwu Kore ditetapkan sebagai tersangka dalam jabatannya sebagai PPAT.

“Surat order dan cover note ada dikeluarkan oleh Pak Albert. Di sini tidak ada keterangan akan diserahkan kembali ke Pak Rafi. Apa yang kita sampaikan ke publik itu harus berdasarkan fakta dan data yang ada. Terkait dengan perkara ini akan jadi perdata atau sebagainya justru  kami mau tegaskan karena tidak profesionalnya penyidik yang lama makanya berjalan selama tiga tahun,” jelasnya.

Bildad juga mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada penyidik Polda NTT yang sudah membuat kasus ini berjalan sesuai dengan fakta-fakta yang ada.

“Kami berterima kasih kepada penegak hukum karena sudah memproses kasus dengan baik. Kami menghargai pendapat diluar sana. Kami menyakini sampai ada perkara pokok di pengadilan kami menyakini kasus ini  dapat dimintai pertanggungjawaban,” katanya.

Duduk Soal

Bildad menerangkan, sebagai pejabat PPAT,  Albert disebut  tidak profesional, karena barang yang diikat di PPAT berpindah tangan sepihak.

“Sebagaimana data yang kami miliki maupun bukti surat yang kami punya sertifikat itu sudah diberikan ke Pak Albert. Sertifikat itu barang jaminan dari BPR Christa Jaya. Kami dirugikan karena kasus ini berjalan bertahun-tahun. Kasus ini sudah dua kali praperadilan,” tandasnya.

“PPAT yang bisa mengikat. Dia harus menjaga dan merawat surat berharga yang dititipkan. Dia tidak menjalankan tugas dengan baik. Tidak menjalankan pengikatan sebanyak 9 sertifikat,” sambung dia menegaskan.

Menurutnya, Ketika sertifikat itu hilang maka Albert harus bertanggung jawab secara pidana.

Tentang Notaris yang Black List BPR Christa Jaya

Direktur utama BPR Christa Jaya,  Wilson Liyanto dalam kesempatan yang sama turut mengomentari keputusan para notaris yang memboikot BPR Christa Jaya.

“Kami sangat menghargai profesi notaris. Proses boikot kami sangat hargai. Kasus ini sudah berjalan sesuai fakta dan data.
Ada bentuk solidaritas teman-teman notaris di NTT. Kami juga mau sampaikan bahwa Bank menjual kasa ke masyarakat. Tentu tidak terlepas dari peran notaris,” kata Wilson.

Menurut dia, Proses kredit yang dilakukan membutuhkan notaris.

“Kami juga ingin ke depan proses mediasi dan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu. Kami berharap bisa duduk bersama dan mencari solusi untuk jalan keluar. Kami bisa menjelaskan lebih detail agar teman-teman notaris bisa melihat kronologisnya,” katanya.

Wilson juga mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir dengan BPR Christa Jaya.

“Kita diawasi oleh OJK. setiap tahun diperiksa. Semua aktivitas didalam perbankan diawasi dan dikontrol. Ini permasalahan hukum. Itu menjadi fakta hukum yang sudah berjalan. Masyarkat tidak perlu kwartir karena di sini yang dirugikan adalah pihak BPR Christa Jaya,” katanya.

Menurut dia, hingga kini pihaknya masih membuka ruang dialog dengan Notaris Albert Riwu Kore.

“Kami sampai saat ini masih membuka ruang untuk berkomunikasi. Kami tidak ada niat untuk meng-kriminialisasi siapapun,” tandas dia.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba

Albert Wilson Riwu Kore BPR Christa Jaya Kupang Kota Kupang
Previous ArticleJokowi Beri Perhatian Besar pada Peningkatan Ekonomi Seniman dan Industri Kreatif
Next Article Pemkab Mabar Mulai Bangun Lumbung Pangan di Desa Siru

Related Posts

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.