Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Doa: Antologi Puisi Risky Agato
Sastra

Doa: Antologi Puisi Risky Agato

By Redaksi22 Agustus 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

(Anggota Kelompok Tulis Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo)

1/
Doa
Doaku yang paling agung
Saat ini telah menyakinkan
Tuhan bahwa kamu milikku
Supaya kita merasa aman dan
Seiman sampai Tuhan mengatakan
Amin.

2/
Matamu
Akhir pekan, nampaknya matamu masih letih
Masih menyimpan iba yang
Susah dibakar menjadi abu.
Masih menyimpan tangisan-tangisan.
Kehidupan yang sangat rapuh dan penuh disesali dosa-dosa yang fana
Masih menyimpan tangisan air mata
Yang menjadi mata air di matamu
Setiap kali aku menatap matamu,
Seringkali aku melihat ada bintang Kecil
Yang selalu memancarkan kecantikkan
Ketika matamu terbuka.
Tetapi, kali ini nampaknya di matamu
Bukan lagi bintang melainkan binatang Yang Sedang berdoa agar matamu Tidak lagi menjatuhkan air mata yang cukup nyeri untuk negeri ini.
Itu bukan doa dari bintang!
Itu doa dari aku yang mencintaimu secara diam di alam demokrasi yang fana ini.

3/
Air Mata
Dua bola mata yang syahdu
Menghantarkan air mataku ke pelukkanMu
Semakin di dekap air mata makin erat memeluk derita dalam tangisan.
Tuan, jika Engkau berkenan
Jadikanlah tubuhku ini sebagai
Salib untuk tubuhMu.

4/
Pertemuan
Pertemuan itu semacam kayu dan api
Kau api dan aku kayu
Kau yang membakar dan aku yang terbakar
Setelah semuanya reda
Api tentu padam
Dan menyisakan abu-abu
Rindu yang menggebu.

5/
Canon Tuhan
Ketika masih berada di dalam rumah Tuannya
Dia memotret beberapa bingkisan-bingkisan
Mengenai rupa rindu
Setelah itu, dia memotret rupanya
Sendiri dan rupa Tuhan
Dan selajutnya, dia memotret
Aminnya dengan penuh iman yang
Membuat dia nyaman untuk Minggu malam.

6/
Siang Panjang
Siang panjang itu
Mengisyaratkan kisah-kisah kita
Yang masih panjang dan
Tak kunjung padam.

Risky Agato
Previous ArticleBertemu Warga Ndora Nagekeo, Stefanus Gandi: Kami Hadir Bawa Misi Kolaborasi
Next Article Usai Dilantik, Ini yang Akan Dilakukan Penjabat Wali Kota Kupang

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.