Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ilmu Pengetahuan»Kelas Menulis ‘Narasi Pantau’ Diadakan Lima Hari di Kupang
Ilmu Pengetahuan

Kelas Menulis ‘Narasi Pantau’ Diadakan Lima Hari di Kupang

By Redaksi10 Oktober 20224 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kelas menulis Narasi Pantau di Kupang tanggal 3-7 Oktober 2022
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Pertama kali sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, Yayasan Pantau, sebuah organisasi Jakarta yang bergerak di bidang pelatihan jurnalisme di Indonesia, kembali membuka kelas jurnalisme narasi secara tatap muka.

Pada keterangan tertulis yang diterima VoxNtt.com, Senin (10/10/2022), dijelaskan bahwa Narrative Journalism Tour 2022 dimulai di Kupang, 3-7 Oktober 2022, dan total akan dilakukan di lima kota.

Rangkaian kelas yang didukung oleh Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta ini selanjutnya akan tour ke Semarang, Manado, Palangkaraya dan Pekanbaru.

“Sebagai dua negara demokrasi terbesar dan paling dinamis di dunia, Amerika Serikat memiliki komitmen yang sama dengan Indonesia untuk melindungi kelompok-kelompok rentannya,” ujar Juru Bicara dan Atase Pers Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Michael Quinlan.

Lebih lanjut, Quinlan mengatakan Amerika Serikat mendukung upaya Indonesia untuk menegakkan dan menggalakkan perlindungan bagi minoritas.

Media memainkan peran penting dalam menyuarakan suara dan pandangan yang termarjinalisasi – dan pelaporan dengan jurnalisme yang baik dapat membentuk opini dan mempengaruhi perilaku dan pengambilan keputusan.

Untuk mencapai tujuan ini, ia mengaku bangga dapat bermitra dengan Yayasan Pantau, yang sangat memahami kebutuhan di lapangan.

Ia juga senang bekerja sama dengan Universitas George Washington untuk berbagi tentang praktik terbaik jurnalisme dari perspektif AS.

“Kami menantikan untuk membaca kisah-kisah menarik yang dihasilkan pelatihan ini dan berharap kisah-kisah ini dan para peserta akan menginspirasi yang lain untuk melakukan yang sama,” ujar Quinlan.

Diketahui, kelas yang berlangsung selama lima hari di Kupang dipandu oleh Janet Steele, guru besar di George Washington University dan Fahri Salam, Pemimpin Redaksi Project Multatuli.

Lima belas peserta dipilih dari berbagai kota dan latar belakang, termasuk jurnalis, aktivis, mahasiswa dari Flores, Timor, Sumba, Alor, Sabu, Lembata, Rote dan Papua.

Bagi Janet Steele, ini adalah kunjungannya kembali ke Indonesia setelah negara-negara memberlakukan pembatasan kunjungan ke Indonesia pada 2019 lalu.

Sebelumnya dia rutin mengisi kelas Jurnalisme Sastrawi-sebutan lain untuk jurnalisme narasi- bersama Andreas Harsono, pendiri Yayasan Pantau di Jakarta.

“Kami sangat menghargai kedatangan Janet kembali untuk mengajar di kelas-kelas Pantau. Pada saat bersamaan kelas pertama di Kupang, rumah Janet di Sanibel terkena topan. Kita ikut sedih dan dia tentu cemas dengan dengan rumahnya di Sanibel,” kata Andreas.

Di Kupang kelas ini dijalankan bersama Institute of Resource Governance and Social Changes (IRGSC).

Ardy Milik, peneliti junior dari IRGSC berharap hadirnya kelas jurnalisme narasi di Kupang, dapat memberi warna baru dalam cerita-cerita faktual tentang Nusa Tenggara Timur, yang belum tersampaikan ke publik.

“Kolaborasi Pantau dan IRGSC adalah bentuk dukungan dalam memajukan kualitas jurnalisme di wilayah Indonesia Timur terutama Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Dia berharap terselenggaranya program ini mampu meningkatkan kapasitas jurnalis dan penulis baik secara personal maupun komunitasnya. Terutama dalam menyuarakan isu demokrasi, minoritas dan hak asasi manusia.

Elfika Karwayu, mahasiswa Universitas Nusa Nipa Indonesia dari Maumere menilai kelas jurnalisme narasi ini memberinya pengetahuan baru.

“Kelas ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Tentu saya akan bagikan ilmunya kepada teman-teman mahasiswa di Maumere,” kata Fika.

Yayasan Pantau telah memulai kelas-kelas Jurnalisme Narasi maupun Jurnalisme Sastrawi, sejak 2001.

Materi dalam kelas ini mengikuti gerakan Tom Wolfe yang menggabungkan disiplin jurnalisme, riset dan daya pikat sastra.

Sekadar untuk diketahui, Yayasan Pantau adalah sebuah lembaga yang bertujuan mendorong perbaikan mutu jurnalisme di Indonesia melalui program pelatihan wartawan, konsultan media, riset, penerbitan serta diskusi terbatas.

Misi Amerika Serikat bermitra dengan Indonesia untuk mempererat ikatan antara masyarakat dan pemerintah kedua negara untuk mempromosikan dan melindungi demokrasi, keamanan, dan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat AS dan Indonesia, kawasan, dan dunia.

IRGSC adalah institut riset dan think tank yang berisikan generasi baru peneliti, akademisi, intelektual publik, aktivis dan wirausahawan sosial di Indonesia.

IRGSC berdiri tahun 2012 dengan kantor pusat di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Fokus kajian regional IRGSC meliputi wilayah Indonesia, Timor Leste, dan negara ASEAN lainnya.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba

Kelas menulis Narasi Pantau Kota Kupang
Previous ArticleSiapa Henri Melki Simu dan Seperti Apa Hubungannya dengan Simon Nahak?
Next Article Ketua Panitia Sebut Pilkades Batu Cermin Berjalan Lancar Sesuai Tahapan

Related Posts

SPPG Oebobo TDM Tidak Beroperasi Sementara, Pengelola Sebut Kendala Pengadaan Bahan Baku

9 Juni 2026

Kuasa Hukum Gama Ferroh Desak Polda NTT Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan Akun TikTok “Lika Liku”

8 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026
Terkini

Manusia dalam Babel Digital

13 Juni 2026

Sensus Ekonomi 2026: Mengapa Kita di NTT Tidak Boleh Asal Memberi Jawaban?

13 Juni 2026

Muskab PBVSI Sikka Tetapkan Rofinus Luer sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030

13 Juni 2026

Hati Tak Bernoda: Istana Kasih dan Bait Allah Penemuan Diri

13 Juni 2026

Jejak Rokok Ilegal Helium di Nagekeo: Beredar Bebas, Polisi Menunggu Laporan

12 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.