Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Lesung, Warisan Budaya yang Terancam Punah di Ngada dan Nagekeo
Seni dan Budaya

Lesung, Warisan Budaya yang Terancam Punah di Ngada dan Nagekeo

By Redaksi11 Agustus 20242 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Lesung, alat penumbuk padi masa pramodern kini dibiarkan terbengkalai karena perannya telah digantikan oleh mesin (Foto: Patrianus Meo Djawa/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT – Lesung, sebuah alat tradisional yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat di Kabupaten Ngada dan Nagekeo.

Lesung memiliki peran penting dalam sejarah peradaban umat manusia, khususnya dalam pengolahan hasil pertanian.

Alat ini tidak hanya berfungsi untuk mengubah biji padi menjadi beras, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan sosial masyarakat adat pra moderen.

Lesung, yang terbuat dari pokok kayu besar dengan tinggi sekitar 30 sentimeter dan memiliki lobang di dalamnya, dipasangkan dengan alu, sebuah batang kayu yang digunakan untuk menumbuk biji padi.

Dalam proses pengolahan ini, keterlibatan banyak orang menjadi hal yang biasa, menciptakan partisipasi sosial yang kuat di antara masyarakat.

Kegiatan menumbuk padi di lesung sering kali melibatkan kerja sama beberapa orang, baik untuk menumbuk secara bergantian maupun menapis hasil tumbukan, menjadikan lesung sebagai alat yang juga memupuk nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.

Namun, di era modern ini, keberadaan lesung semakin terancam punah. Peranannya dalam pengolahan padi telah digantikan oleh mesin-mesin penggiling yang dianggap lebih efektif dalam hal waktu dan tenaga.

Penggunaan mesin yang lebih praktis dan cepat, membuat lesung kini jarang digunakan, dan hanya tersisa di beberapa desa yang masih mempertahankan cara-cara tradisional untuk sekadar menjalankan ritual – ritual kebudayaan.

Kehilangan lesung sebagai alat tradisional bukan hanya hilangnya sebuah peralatan pertanian, tetapi juga hilangnya sebuah warisan budaya yang penuh nilai sosial dan sejarah.

Upaya pelestarian lesung menjadi penting, tidak hanya sebagai simbol identitas budaya masyarakat adat Ngada dan Nagekeo, tetapi juga sebagai pengingat akan nilai-nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Lesung Nagekeo Ngada
Previous ArticleKomisi IX DPR RI Kunker ke Los Angeles, Lihat Langsung Pengelolaan Darah dan Industri Plasma
Next Article MTs Amanah Ruteng Gelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

Dapur MBG Gako Dihentikan karena Berdiri di Atas Tanah yang Telah Diserahkan ke Pemda

3 Maret 2026

Sengketa Tanah SMPN 2 Gako Nagekeo Berakhir Damai, Dua Keluarga Serahkan Lahan ke Pemda

26 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.