Oleh: Fransiskus Bustan
Dosen FKIP Undana Kupang
Dalam beberapa pekan terakhir, pemakaian kata ‘gacor’ semakin gencar menggema di seputar wilayah Kota Kupang. Bukan cuma generasi muda yang masih berusia sekolah, kalangan masyarakat paruh baya dan kelompok generasi berusia tua juga tidak ketinggalan menggencarkan pemakaian kata ‘gacor’.
Hal itu dikarenakan salah satu paket yang ikut bertandang dalam kontestasi pesta demokrasi di Kota Kupang sekarang ini menyemat diri mereka dengan sebutana atau nama ‘gacor’.
Ibarat nama adalah tanda dan setiap tanda niscaya punya makna, demikian pula penyematan nama ‘gacor’ adalah sebuah tanda yang niscaya punya makna.
Terlepas dari apapun maknanya dalam pandangan dan pemahaman mereka, tulisan ini mengulas sekilas tentang asal-muasal kata ‘gacor’ dan dinamika dalam pemakaian dan pemaknaannya dalam ranah kehidupan masyarakat Indonesia.
Sebagaimana dilansir dalam berbagai media cetak dan media elekronik, kata ‘gacor’ adalah sebuah singkatan atau akronim dari gugus kata ‘garing corong’ dalam bahasa Jawa.
Gugus kata ini menunjuk secara khusus pada kicauan burung yang memiliki suara merdu dan jernih.
Kemerduan dan kejernihan suaranya ketika berkicau tidak hanya mengandung keindahan bentuk tetapi juaga mengundang kenikmatan inderawi ketika disimak.
Keindahan bentuk dan kenikmatan inderawi sangat dirasakan ketika kita berada di seputar sangkar burung bersuara ‘gacor’.
Akan tetapi, sebagaimana waktu berjalan dan dunia berubah, kehadiran kata ‘gacor’ adalah salah satu contoh perubahan yang merengkuh tataran kosakata
dalam ragam bahasa gaul di Indonesia sekarang ini.
Kata ‘gacor’ menjadi salah satu konsumsi sebagian besar kaum muda Indonesia sekarang ini, terutama kaum muda terdidik di wilayah perkotaan ketika mereka berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Kata ‘gacor’ yang semula menunjuk secara khusus pada kicauan burung yang memiliki suara merdu dan jernih ketika berkicau mengalami perluasan maknanya dalam ragam bahasa gaul di Indonesia.
Sesuai realitas pemakaiannya dalam konteks komunikasi dan interaksi kaum muda di Indonesia sekarang ini, kata ‘gacor’ mengalami pergeseran dan perluasan medan makna dari bunyi burung menjadi bagus, keren, atau luar biasa.
Pegeseran dan perluasan medan makna kata ‘gacor’ dari ruang kicauan burung menuju ragam bahasa gaul menunjukkan kreativitas kaum muda Indonesia dalam merekayasa ragam bahasa gaul dengan kerangka makna berdimensi baru.
Meskipun tidak bertalian secara langsung, resapan harapan di balik fenomena perubahaan dalam aspek kebahasaan itu agar paket yang menyemat dirinya dengan predikat ‘gacor’ dalam kontestasi pesta demokrasi di Kota Kupang akan membawa perubahan berarti dalam penataan wajah dan kondisi kehidupan warga kota Kupang ke depan jika mereka terpilih dan menjadi pemenang.
Karena kata ‘gacor’ adalah khasanah kosakata dalam ragam bahasa gaul yang menjadi konsumsi kaum muda, maka diharapkan pula agar kemenangan mereka jika terpilih menjadi kado khusus buat kaum muda Kota Kupang sebagai calon pemimpin masa depan yang gacor alias calon pemimpin calon pemimpin masa depan bagus, keren, dan luar biasa.
Demikian secuil ulasan seputar kehadiran kata ‘gacor’ sebagai salah satu gambaran dinamika bahasa dalam tataran kosakata ragam bahasa gaul di Indonesia sebagai cerminan kreativitas kaum muda dalam tautan dengan kehadiran dan pemakaiannya dalam kontestasi pesta demokrasi di Kota Kupang sekarang ini.
Perubahan semacam itu adalah suatu keniscayaan dalam perspektif linguistik atau ilmu bahasa karena bahasa sebagai salah satu aspek kehidupan manusia niscaya tidak imun dari sentuhan perubahan, terutama dalam tataran kosakata.
Perubahan dalam tataran kosakata ditandai, antara lain, dengan kehadiran kosakata baru sebagai hasil serapan dari bahasa lain atau hasil bentukan baru penuturnya yang tampil berupa singkatan dan akronim.
Kata ‘gacor’ adalah salah satu contoh perubahan dalam pemakaian dan perluasan makna dalam tataran kosakata bahasa gaul di Indonesia, tidak terkecuali di Kota Kupang.
Sebut kata ‘gacor’, ingat kicau burung bersuara merdu dan jernih di balik sangkar yang kini maknanya mengalami perluasan menjadi bagus, keren, dan luar biasa dalam ragam bahasa gaul di Indonesia.
Resapan harapan bagi paket yang menyemat dirinya dengan kata ‘gacor’ agar suaranya tidak hanya kedengaran merdu dan bersih saat bersosialisasi diri di tengah masyarakat tetapi juga bagus, keren, dan luar biasa dalam aksi jika terpilih dan menjadi pemenang sehingga Kota Kupang semakin hari semakin ‘gacor’ dan semakin asri (aman, sejuk, ramah, dan indah).
Mengapa? Karena kemajuan Kota Kupang adalah salah satu barometer yang menggambarka kemajuan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pungkas kata, Kota Kupang ‘gacor’, NTT ‘gacor’, dan Indonesia pun ‘gacor’.

