alterntif text

“Kita sudah lama memunggungi laut. Padahal laut adalah ibu kita”

Kota Kupang, VoxNtt.com- Jumat 28 Oktober 2016 bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya sumpah pemuda yang ke 88 tahun.

Walaupun peringatan rasa kebangsaan ini memasuki usia Indonesia yang ke-71 tahun, namun rasa semangat dan antusiasme masyarakat tak pernah lapuk dimakan usia.

Semangat kebangsaan itu tampak dari maraknya status di sosial media yang diwarnai dengan berbagai ucapan bernuansa persatuan, harapan dan doa.

Tak ketinggalan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FAPIK) Universitas Kristen Artha Wacana Kupang memeriahkan hari sumpah pemuda dengan kegiatan festival seni dan budaya yang bertempat di lapangan basket kampus Universitas Kristen Artha Wacana Kupang (28/10).

Festival yang berlangsung pada tanggal 28-29 Oktober 2o16 ini diisi dengan kegiatan pementasan berbagai tarian daerah dari negeri Flobamora dan pemilihan nyong dan nona FAPIK.

Tak hanya pentas seni, berbagai kreativitas mahasiswa  dipamerkan kepada para tamu undangan yang hadir. Hasil kreativitas berupa pengolahan rumput laut menjadi minuman dingin (es rumput laut), manisan dari rumput laut, kripik ikan dan pembuatan hidroponik. Berbagai kreativitas itu pun dipamerkan di sekeliling tempat area festival ini.

“Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh minimnya semangat kaum muda untuk melestarikan budaya bahari diNTT. Sejalan dengan itu, selama ini laut seakan tidak diperhatikan, karena masyarakat hanya fokus pada wilayah daratan,” ungkap ketua panitia penyelenggara festival ini, Welem Giri.

Lebih lanjut, dia mengatakan provinsi NTT memiliki kekayaan sumber laut yang cukup banyak namun sayangnya aneka kekayaan itu belum kelolah secara efektif dan efisien.

Melalui acara festival ini, diharapkan orang NTT semakin mencintai budayanya serta menanamkan rasa cinta terhadap wilayah pesisir dan lautan, agar mampu menjadi potensi yang  dikelolah secara berkelanjutan.

Hal senada juga disampaikan Ketua Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) FAPIK Yohanes Sutarto, menurutnya kegiatan ini sengaja dikolaborasikan untuk menanamkan rasa cinta terhadap wilayah pesisir dan laut dalam pemanfaatan yang berkelanjutan.

“Kita sudah lama memunggungi laut. Padahal laut adalah ibu kita” jelasnya.

Memaknai Keberagaman

Hujan deras yang mengguyuri seluruh Kota Kupang sempat menjadi kecemasan para mahasiswa. Pasalnya rencana  kegiatan festival ini semula dimulai pukul 14.00 Wita.

Namun beruntung cuaca kembali cerah dan tepat pukul 16.00 Wita acara festival dimulai dengan acara perarakan dari kantor fakultas perikanan dan ilmu kelautan menuju lapangan basket UKAW.

Perarakan ini dipimpin oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, para dosen, para alumni, peserta calon nyong dan nona FAPIK dan diikuti rombongan mahasiswa perikanan dan ilmu kelautan yang dengan aneka pakaian adatnya masing-masing.

“Peristiwa hujan hari ini adalah rahmat yang teriindah yang Tuhan berikan untuk kita” Demikian Wakil Dekan III memaknai  hujan dalam mengawali sambutannya.

Kegiatan ini sengaja diadakan karena latar belakang kita dari berbagai macam suku dan budaya yang berbeda. Kita berkumpul di satu tempat di Kota Kasih.

“Sesungguhnya perbedaan inilah yang membuat kita satu dan karena kita satu, kita semakin kuat,” pungkas Dr. Alfred G.O. Kase yang baru satu tahun menjabat sebagai wakil dekan yang menangani kemahasiswaan.

Acara festival seni dan budaya  yang disponsori oleh sepeda motor Honda, Aguamor, Jepit, dan toko buku Gramedia ini juga diramaikan oleh pementasan tari dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.

Foto: Mahasiswa UKAW asal Belu sebelum pementasan tari
Foto: Mahasiswa UKAW asal Belu sebelum pementasan tari

“Festival harus menampilkan yang terbaik karena seni itu indah. Moment ini kita tampilkan budaya leluhur kita setinggi-tingginya, karena budaya leluhur itu penuh makna yang mendalam untuk hidup kita,”  terang Ir Yohanes Meryanto sebagai Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan.

Hal  serupa juga untuk kelautan dan perikanan, kita budayakan untuk mencintai laut kita dan memanfaatkan potensi yang ada sebagai sumber kekayaan NTT.

Perbedaan bukan menjadi penghalang dalam kemajuan dan begitu juga dengan sumber daya kelautan ada keanekaragaman yang memperindah dan memperkaya laut kita, jelasnya mengakhiri sambutannya.

Acara pun dilanjutakan dengan tarian poco-poco dan ajang pemilihan Nyong dan Nona Fakulatas.

Fakultas ini memang fakultas paling mudah dan bungsu di Universitas Artha Wacana Kupang, akan tetapi fakultas FAPIK sudah mendapat akreditasi B dengan dua program studi meliputi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) dan Teknologi Hasil Perikanan (THP). (Andre/VoN)