Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Di Maumere, Ada Mitos Pantang Jual Barang-Barang Berikut Malam Hari
Regional NTT

Di Maumere, Ada Mitos Pantang Jual Barang-Barang Berikut Malam Hari

By Redaksi10 Januari 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, VoxNtt.Com- Mitos memang tidak memiliki dasar rasional. Meskipun demikian, sebagian besar orang masih meyakini dan menjalankannya.

Salah satu contohnya adalah mitos tentang beberapa barang yang pantang dijual di malam hari oleh pemilik kios.

Di Maumere, sejumlah pedagang pemilik kios yang menjajakan barang-barang kebutuhan pokok tidak akan menjual beberapa barang di malam hari.

Hasil wawancara VoxNtt.Com dengan berapa pemilik usaha kios terungkap barang seperti minyak tanah, telur, garam, peniti dan silet tidak akan dijual di malam hari.

“Orang-orang tua menyebut barang-barang ini haram dijual di malam hari,” ujar Nendy, salah satu pemilik kios di Selodu’e, Desa Habi.

Meskipun barang-barang tersebut tersedia namun pemilik kios akan menyampaikan kepada pembeli bahwa barang yang dimaksud tidak tersedia.

Akan tetapi, ada juga pengecualiannya. Calon pembeli sebaiknya mengganti nama barang tersebut dengan nama lain.

“Kalau garam dibilang abu dapur, minyak tanah disebut air, atau telur disebut ping-pong,” ungkap Paulus Nong, pemilik kios lainnya di Kewapante.

Mereka yang kesulitan menyebut nama lain bagi barang-barang tersebut bisa juga menggunakan penjelasan lain seperti manfaat barang tersebut agar dimengerti oleh penjual.

Yang terpenting adalah tidak menyebutkan nama sebenarnya dari barang tersebut. Mereka meyakini bahwa apabila barang-barang tersebut dijual di malam hari maka akan menimbulkan kerugian atau masalah bagi penjualnya.*** (ADP/VoN)

Foto Feature: Illustrasi (Ist)

Sikka
Previous ArticleIndonesia dalam Cengkraman Ekspansi TKA
Next Article KWI: Tanah Flores bukan untuk tambang

Related Posts

Andy Liwun Minta Warga Tanjung Bunga Bersabar, Pekerjaan Jalan Latonliwo–Patisirawalang Tunggu Rekomendasi Tipikor

14 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026
Terkini

Tewas dengan Enam Luka Tembak, Kasus Marselinus Ngala Mesti Jadi Pelajaran Bawaslu

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.