Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Anomali Cuaca, Produksi Cengkih di Matim Diprediksi Menurun
Ekbis

Anomali Cuaca, Produksi Cengkih di Matim Diprediksi Menurun

By Redaksi30 Juni 20171 Min Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Tanaman cengkih milik petani di Poco Ranaka (Foto: Nansianus Taris/VoN)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT– Kondisi tidak teraturnya cuaca yang menyimpang dari keadaan normalnya secara rata-rata atau anomali cuaca beberapa bulan terakhir ini, membuat produksi cengkih di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) diprediksi menurun.

Cuaca yang tidak menentu berberapa tahun terakhir ini membuat produksi tanaman cengkih di Matim tahun 2017 ini diprediksi menurun drastis.

Hal itu disampaikan Bone Joni, petani cengkih asal Kecamatan Poco Ranaka kepada VoxNtt.com, Jumat (30/6/2017).

“Tahun ini cuaca terlalu ekstrim. Hujan terlalu lama. Hasil panen cengkih tahun ini pasti menurun sekali. Yang ada daunnya yang berkembang tetapi tidak berbuah,” kata Bone.

Tahun 2016 lalu kata dia, hujan tidak terlalu lama sehingga produksi cengkih cukup memuaskan. Tak sebanding dengan tahun 2017 ini yang kondisi cuacanya tidak menentu.

“Saya berharap kepada pemerintah dan juga kepada pengusaha agar harga cengkih bisa naik dari sebelumnya. Kalau tidak, matilah kami petani dengan kondisi sekarang ini,” kata Bone.

Dikatakan, akibat anomali cuaca juga banyak para petani yang harus merantau ke luar daerah mencari pekerjaan. Mereka ke Bajawa, Kalimantan, dan daerah lainnya.

“Mau harap apa di sini. Terpaksa harus cari kerja luar daerah untuk bisa menghidupkan keluarga dan menyekolahkan anak,” katanya. (Nansianus Taris/VoN)

Manggarai Timur
Previous ArticleSoal Kebutuhan Guru SDN Watulagar, Dinas PKO Sikka Diminta Perhatikan Pemerataan
Next Article Pihak Kepolisian Cegah Paham Radikalisme Masuk Lewat Arus Balik

Related Posts

Jejak Rokok Ilegal Helium di Nagekeo: Beredar Bebas, Polisi Menunggu Laporan

12 Juni 2026

Hampir Sebulan Jebol, Crosway Wae Musur Hilir Belum Ditangani Pemkab Manggarai Timur

12 Juni 2026

Gubernur NTT Lantik Direksi PT Flobamor dan KIB, Pemprov NTT Tambah Modal

27 Mei 2026
Terkini

Pemuda Katolik NTT Dukung Investigasi Kematian Dokter Icha, Desak BK DPRD TTU Gelar Sidang Etik

28 Juni 2026

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.