Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»KPAD Sikka Sebut Pelibatan Masyarakat Jadi Kunci Penanggulangan HIV/AIDS
KESEHATAN

KPAD Sikka Sebut Pelibatan Masyarakat Jadi Kunci Penanggulangan HIV/AIDS

By Redaksi13 Desember 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Koordinator Komisi Penanggulan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka, Yuyun Darti Batael
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT- Ketua Komisi Penanggulan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka, Yuyun Darti Batael menilai pelibatan masyaraka merupakan kunci dalam upaya  penanggulangan penyebaran epidemi HIV/AIDS.

“Di Sikka pelibatan masyarakat sudah mulai dilakukan sepanjang 2014 sampai dengan 2017,” terang Yuyun kepada VoxNtt.com saat dihubungi, Selasa (12/12/2017).

Bentuk pelibatan masyarakat melalui pembentukan forum warga yang dinamai Warga Peduli Aids (WPA).

Di Sikka sendiri sepanjang 2014-2017 telah dibentuk setidaknya 37 WPA. Pembentukan WPA didanai oleh KPA Kabupaten Sikka dan Dana Desa.

Kegiatan WPA  meliputi sosialisasi tentang Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV dan AIDS, Mobile VCT, merujuk warga untuk pemeriksaan HIV dan IMS dan juga distribusi kondom.

“Sudah ada regulasi dalam bentuk Instruksi Bupati Sikka Nomor 4 thn 2015 tentang Pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA),” terang Yuyun.

Di sisi lain, adanya perluasan fasilitas klinik Voluntary Counseling Test (VCT) dan Care Support Treatment (CST) memudahkan pendeteksian dini HIV/AIDS.

“Di Sikka terdapat beberapa fasilitas kesehatan yang memiliki klinik VCT yakni RSUD T.C. Hiilers, Puskemas Kopeta, Puskesmas Beru, Puskesmas Waipare, Puskemas Wolomarang, Puskesmas Nita dan RS. St. Gabriel Kewapante. “Dari Januari sampai dengan September 2017 total terdapat 1417 orang yang memeriksakan diri di klinik-klinik tersebut dan 77 orang diantaranya teridentifikasi mengidap HIV/AIDS,” ungkap Yuyun.

Yuyun berharap ke depannya masyarakat bisa lebih aktif bergiat dalam aksi Penanggulangan HIV. Selain itu, perlu ada penambahan klinik VCT dan tentunya pembiayaan.

Penulis: Are de Peskim
Editor: Adrianus Aba

Sikka
Previous ArticlePolitisi NasDem Saran Kepala Dispenduk Ende Tidak Terlibat dalam Kunjungan Kerja Bupati
Next Article Masyarakat Diminta Adukan Tentara yang Main Politik

Related Posts

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026

Manggarai Barat Dorong Koperasi Desa Merah Putih Beroperasi Meski Belum Punya Gerai

30 Mei 2026
Terkini

Karya untuk Makan dan Minum dalam Persekutuan Tubuh dan Darah Kristus

7 Juni 2026

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.