Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Tradisi Roko Molas Poco dalam Pembangunan Rumah Adat Tanggar
Feature

Tradisi Roko Molas Poco dalam Pembangunan Rumah Adat Tanggar

By Redaksi13 Juni 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Seorang gadis duduk di atas kayu yang akan dijadikan tiang agung dalam rumah adat
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- Masyarakat adat kampung Tanggar, desa Compang Laho, kecamatan Poco Ranaka sampai saat ini masih melestarikan tradisi ritual roko molas poco. 

Ritual yang diadakan Selasa (12/06/2018) ini merupakan salah satu warisan unik dari leluhur orang Manggarai saat membangun rumah adat.

Thomas Obas, tokoh adat kampung Tanggar, saat ditemui VoxNtt usai upacara itu di Tanggar, menjelaskan istilah roko molas poco berasal dari tiga suku kata bahasa Manggarai haitu roko yang artinya penjemputan atau pengambilan atau perarakan, molas yang artinya gadis cantik, dan poco artinya hutan rimba atau gunung.

Dia menjelaskan, roko molas poco adalah upacara penjemputan serta perarakan seorang gadis dari gunung atau hutan.

Seoraang gadis dari gunung ini adalah simbol sebuah kayu yang dijadikan tiang agung (siri bongkok) rumah adat (mbaru gendang). 

“Sebelum dipotong, kayu tersebut dinobatkan secara adat untuk menjadi molas poco (gadis dari hutan) sehingga layak untuk dibuat upacara roko. Sebelum dilaksanakan upacara, kayu yang akan dijadikan siri bongkok (tiang agung) harus diambil, diterima, dijemput, dan diarak secara adat. Tujuanya adalah agar rumah adat yang dibangun menjadi sumber ces atau kesejukan bagi seluruh warga kampung,” jelas Thomas.

Thomas menjelaskan upacara roko molas poco harus dilaksanakan alasannya karena tiang agung atau siri bongkok merupakan salah satu bagian paling utama dalam pembangunan sebuah rumah adat.

Di mana tiang agung ini nantinya menjadi simbol naga golo atau roh penyembuh kampung dan pembawa kesejukan bagi warga kampung. Selain itu menjadi simbol bagi seluruh warga kampung yang biasa terdiri dari beberapa keturunan atau panga.

Kayu ‘siri bongkok’ diarak menuju kampung

Dari beberapa keturunan ini akan dipersatukan menjadi satu kesatuan yang utuh dan membentuk sebuah kampung yang aman dan damai.

Thomas menambahkan, upacara roko molas poco ini sangat berkaitan erat dengan sistem perkawinan adat Manggarai. Karena dalam perkawinan adat Manggarai hanya perempuan saja yang layak untuk dibuat upacara roko atau penjemputan secara adat sebelum menginjak kaki pertama kali di kampung halaman sang suami.

“Upacara roko molas poco dimulai dari pintu gerbang kampung (paang) menuju lokasi rumah adat yang dibangun. Sambil diiring musik gong dan gendang dan lagu tradisional seperti ronda, danding, dan mbata,” jelasnya.

Dia menambahkan, pihak-pihak yang terlibat dalam upacara roko molas poco adalah tua golo (kepala adat/kampung), tua teno (kepala tanah ulayat), tua panga (kepala suku/keturunan), tamu undangan (dari kampung tetangga) dan weki pa’ang olo ngaung musi (seluruh warga kampung).

Acara roko molas poco biasanya dilaksanakan pukul 09.00 wita karena pagi hari otak dan pikiran masih segar sehingga langkah atau tahap dari upacara ini bisa terlaksana dengan baik.

Alat dan bahan yang diperlukan adalah cola (kapak), kope (parang), cepa (siri pinang), tuak, gong, gendang, ruha (telur ayam) dan hewan kurban seperti babi dan ayam.

Pantauan VoxNtt, upacara roko molas poco di kampung Tanggar itu berlangsung dengan aman, sejuk, dan penuh kekeluargaan.

Seluruh masyarakat yang hadir mengenakan pakaian adat lengkap. Mulai dari tokoh muda, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pendidik, dan pemerintah setempat.

Mereka terlihat kompak mengenakan kain songke, baju kemeja putih dan sapu di kepala.

Foto : Upacara roko molas poco di kampung Tanggar, desa Compang Laho, kecamatan Poco Ranaka (Dok. adat kampung Tanggar)

Manggarai Timur
Previous ArticleTak Hanya Kartu Petani, Harmoni Akan Launching Kartu Pembuka untuk Pengangguran
Next Article Bangun Kuliner, Mimpi Felix Ahas dari Kota Kembang

Related Posts

Festival Religi dan Budaya Paroki Wae Nakeng Libatkan 18 UMKM, Dorong Persaudaraan dan Pariwisata Religi

30 Mei 2026

Kasus Dugaan Korupsi Eks Kadis DP3AKB Manggarai Timur Didorong Masuk Ranah Hukum

23 Mei 2026

Warga Rana Mese Titip Harapan Jembatan Permanen di Wae Musur kepada DPRD Matim

22 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.