Bukti Fulan Fehan (Foto: http://lionmag.net)

Atambua, Vox NTT-Padang Sabana Fulan Fehan dalam dua-tiga tahun terakhir ini gaungnya membahana di seluruh antero jagad provinsi NTT dan sekitarnya.

Para wisatawan lokal maupun manca negara mulai berdatangan pada setiap akhir pekan untuk menikmati seksi dan indahnya panorama alam di sana.

Suguhan keindahannya menggugah elite politik negeri ini untuk bercengkrama di sana. Pada (28/10/2017) Menteri dalam negeri, Cahyo Kumolo bersama jajaran DPR RI dari ibu kota negera, datang memperingati hari lahir sumpah pemuda yang ke-89 di padang sabana itu.

Ribuan warga melaksanakan upacara Sumpah Pemuda di Puncak Bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu 28 Oktober 2017. (Foto: Kompas.com)

Bahkan warga Negara Democratia Timor Leste bersama Bupati Bobonaro pun turut mengambil bagian dalam memeriahkan hari lahirnya sumpah pemuda yang dikaloborasi dengan pementasan likurai sebagai tarian original orang Timor. Aneka tarian seperti likurai, tebe, bonet, koremetan, dan folklore (Timor Leste) serta jenis tarian kontemporer lainnnya menambah pesona tersendiri yang menggetarkan.

Penampilan para penari tingkat SD/SMP/SMA/SMK yang berasal dari tiga kabupaten (Malaka, TTU, dan Belu), Kabupaten Bobonaro dan Oekusi (Timor Leste) sungguh menghipnotis. Memanah perhatian para undangan, menikmati sajian tradisional orang Timor yang dikemas dalam pentas tarian likurai dengan lingkaran berbentuk bulat motif khas kain adat Timor.

Alangkah indahnya nuansa waktu itu.  Di tengah-tengah kerumunan massa berkibarlah sang merah putih di hari jadi sumpah pemuda yang ke-89. Membahasakan semangat kawula muda untuk terus berjuang dalam memajukan wilayah perbatasan bagai indahnya motif tenun ikat khas orang timor yang memiliki daya tarik tiada duanya.

Momen ini juga sebagai gugatan bagi orang muda Belu untuk mencintai tanah kelahiran sebagai awal hidup yang tidak pernah berakhir. Menjadikan Fulan Fehan sebagai surganya tanah timor. Kawula muda Belu tidak perlu mencari surga yang disertai tawaran susu dan madu di tanah rantau karena Belu, Pulau timor adalah tanah kaya akan jaminan susu dan madu.

Beberapa ekor sapi piaraan warga tampak sedang meneguk air di bukit Fulan Fehan (Foto: http://kepulauanntt.blogspot.com)

Lokasi wisata ini tepatnya berada di wilayah administratif Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu. Jajaran beberapa perkampungan yang mengitari bukit padang ini diantaranya, Kampung Pedesaan Sisi Fatuberal, Nualain Dua, dan Maudemu.

Di ujung panorama itu tampak  gumpalan awan putih jatuh langsung menggigit pada padang rumput hijauh nan luas dibalut dengan hembusan angin sejuk padang sabana yang dapat dinikmati sejauh mata memandang.

Mata belalak enggan terpejam sembari bertanya, ada apa di balik keindahan alam ini? Pertanyaan menggugah iman sambil mengagungkan Sang Creator.

Padang sabana ini  terbentang di kaki gunung Lakaan. Sejak zaman nenek moyang hingga kini menjadi tempat gembala binatang piaraan seperti sapi dan kuda.

Bagi warga sekitar, bukit padang ini sebagai meja santapan kehidupan. Fulan Fehan adalah ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan warga sekitarnya.

Maka sebagai anak yang dilahirkan, diasuh, dan dibesarkan oleh bukit padang ini punya tugas untuk merawat dan memelihara, serta menjaga kelestarian keutuhannya.

Jarak lintas menuju tempat wisata ini sekitar 40-an KM arah ke utara dari ibu kota kabupaten Belu. Sepanjang perjalanan menuju Fulan Fehan wisatawan akan tersapa oleh angin sepoi-sepoi basah yang mengabarkan aroma wangi-wangian dari pepohonan cendana yang mengitari bukit itu. Suguhan keindahan dari bukit sungguh menyadarkan wisatawan hanyut dalam dunia imajinasi.

Sebelum tiba di bukit Fulan Fehan anda akan melewati jalan mendaki tajam seolah anda berziarah menuju nirwana surga di Fulan Fehan. Benteng Ranu Hitu Benteng lapis tujuh di bukit Makes juga menyimpan sejuta sejarah peninggalan zaman penjajahan Jepang.

Di sana terdapat tujuh lapis benteng batu pertahanan perang yang tingginnya sekitar 3-4 meter. Setibanya di tengah hutan bukit Makes anda bisa menikmati beberapa bukti peninggalan sejarah dari suku Melus dan penjajah Jepang seperti, Makam, tempat menari yang tersusun rapi dengan batu-batu pilihan yang indah, Meriam tua.

Setelah anda puas di bukit Makes, anda boleh menikmati hamparan padang hijauh nan luas yang bernama Fulan Fehan. Di sana anda akan menyaksikan kawanan sapi dan kuda liar yang sedang merumput secara bersama-sama seolah membahasakan kerukunan dan kedamaian hidup yang dilakonkan warga sekitarnya.

Bekas Ranu Hitu yang masih dirawat baik hingga sekarang (Foto: lionmag.net)

Timor, pulau kecil, menyimpan kazanah wisata luar biasa. Keindahan yang dibingkai berkat sentuhan rasio dan eksotisme alam. Wisata yang terbingkai oleh sentuhan peninggalan barang-barang bersejarah dari penjajah ini membuat Fulan Fehan dan sekitarnya tak habis dinikmati bahkan wisatawan enggan menjadi bosan.

Tumpukan bebatuan karang indah yang terbungkus dengan pepohonan kaktus menawarkan keindahan dan kesejukan tersendiri di sekitaran padang Fulan Fehan. Batu karang yang berselimutkan kaktus itu sebagai isyarat bagi wisatawan untuk menjaga dan merawat kesakralan alam Fulan Fehan sebagai sesama ciptaan. Betapa dasyatnya tempat ini, aku tak menyadarinya. Sesungguhnya Tuhan ada di sini.

Namun wisata alam Fulan Fehan belum digarap sempurna. Ini sebenarnya kekayaan pulau Timor yang harus dijaga dan dilestarikan. Bukan hanya untuk mendatangkan duit, tapi melestarikan kekayaan sejarah dan budaya, yang terbingkai  dalam panorama alam yang indah dan kisah mistik yang tersimpan di dalamnya.

Menaruh perhatian penuh pada pengembangan aset wisata ini tidak lain adalah sebagai bentuk cara lain mendekatkan orang kepada Allah sebagai Sang Penyelenggara segala yang ada Yang tak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Kita mesti memberi hormat kepada alam, padang sabana Fulan Fehan sebagai firdaus yang menyadarkan setiap insan untuk bersyukur dan terus bersyukur bahwa begitu banyak cara yang dimediasikan oleh Sang Penyelenggara untuk menjumpai kebenaran yang menyata di alam bebas.

Dari kaki gunung Lakaan, panorama padang sabana Fulan Fehan menyuguhkan sejuta keindahan menghipnotis yang tak lekang oleh situasi dan peradaban zaman.

Aroma wangi-wangian cendana mengabarkan tentang indahnya ciptaan alam ini dan menawarkan kepada setiap hati yang resah dan gelisa untuk sejenak berbenah diri sambil berucap bersama Ebiet Gade, Kita mestinya bersyukur karena kita masih diberi waktu.

Penulis: Yohanes Mau

Editor: Irvan K