Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Pemuda Asal Kobagheje Sulap Kolam Alam Jadi Sawah Garam
Ekbis

Pemuda Asal Kobagheje Sulap Kolam Alam Jadi Sawah Garam

By Redaksi21 September 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yakobus Mapa dan rekannya sedang mengolah sawah garam
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT- Petani garam dewasa ini merupakan pekerjaan yang jarang dilirik pemuda.

Namun tidak bagi sekolompok pemuda di bawah asuhan Yakobus Mapa.

Jek, sapaam akrab Yakobus Mapa adalah drop out SMPS Boanio.

Pemuda asal Dusun I, Desa aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo itu bersama rekan-rekannya menyulapkan kolam alam di Nagelewa Desa Aeramo menjadi lahan garam di saat musim kemarau.

Aeramo merupakan desa perbatasan dengan kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo.

Di desa ini sebagian besar potensi alamnya cukup banyak. Selain sawah irigasi, juga terdapat kolam alam yang terdapat Nagelewa yang jaraknya kurang lebih 1 km dari pesisir pantai.

Tapi masyarakat belum menfaatkan secara baik potensi itu.

Biasanya kolam alam ini di saat musim hujan baru dimanfaatkan kolam ikan. Saat kemarau, kolam ini dibiarkan begitu saja.

Namun di tangan kelompok di bawah asuhan jek, kolam alam itu diubah menjadi lahan bermenfaat untuk sawah garam.

Mereka memanfaatkan air di kolam alam itu dan menggunakan terpal dan ember bisa menghasilkan garam.

Garam merupakan komoditas yang sangat penting bagi kehidupan mayarakat. Banyangkan saja jika tidak ada garam akan hambar.

Garam tidak saja sebagai bahan konsumsi semata. Namun garam juga bisa dikategorikan dalam bahan industri, seperti industri penyamakan kulit.  Masih banyak kegunaan lainnya.

Jek yang ditemui VoxNtt.com belum lama ini di lokasi sawah garam mengatakan, bekerja sebagai petani garam lebih menjanjikan dan menguntungkan dibanding kerja sawah.

“Yang saya alami kerja sawah lebih sulit bahkan hasilnya tidak sebanding dengan hasil garam. Kerja sawah empat bulan baru panen. Kalau petani garam 1 minggu kita sudah dapat uang,’ ujarnya

Jek mengatakan, cukup 20 terpal maka satu minggu petani memanen 3 ton garam. Sehingga pendapatan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan kerja sawah.

“Apalagi saat ini padi milik petani di Aesesa rata-rata banyak gagal panen. Sehingga saya lebih suka petani garam. Selain itu juga saya membuka lapangan kerja baru bagi penggannguran,” kata Jek.

Dikatakan, menjadi petani garam  dengan swadaya dengan ini inisiatif sendiri. Tanpa ada dukungan dari pihak lainnya.

“Sehingga keterbatasan saya dengan lahan yang ada saya pikir lahan ini bisa berkembang kalau di dukung dengan ketersedian dari  beberapa alat pendukungnya sangat banyak. Karena lahan kita ini  cukup besar. Potensi garam di Desa Aeramo ke depan saya berpkir sangat bagus tinggal masyarakat dan pemerintah setempatnya bisa saling kerja sama,” ujarnya.

Kendala

Menurut Jek, pontensi garam di wilayah Desa Aeramo cukup besar. Namun hanya ada beberapa faktor kendala.

Kendala pertama, yakni masalah infrastruktur ke lokasi tambak garam. Selama ini untuk mengangkut garam, Jek masih menggunakan transportasi laut. Itu dobel biayanya.

Sebab itu, dia berharap kedepannya ada bantuan dari Pemda Nagekeo atau dinas terkait.

Masalah kedua, terkait pasaran. Selama ini hanya konsumen rumah tangga dan banyak juga yang disupplay ke nelayan-nelayan untuk pengawet ikan.

Harga perkarung bervariasi, tergantung jankauan dan jarak. Menurut Jek, perminggu hasil garam itu bisa 50-60 karung berukuran 50 kg.

Dia mengaku pekerjaan menjadi petani garam ini hanya dibutuhkan pada saat cuaca cerah atau panas.

“Satu mingu bisa menghasil uang 4 juta. Total karyawan saya 5 orang. Dengan sistem pembayaran upah karyawannya tergantung penghasilan,’ ujarnya.

 

Penulis; Arkadius Togo
Editor: Ardy Abba

Nagekeo
Previous ArticleBanyak Proyek Siluman Masuk Desa Aeramo
Next Article Desainer Taman Kota Maumere Terciduk Miliki Ganja

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

Dapur MBG Gako Dihentikan karena Berdiri di Atas Tanah yang Telah Diserahkan ke Pemda

3 Maret 2026

Perumda Air Minum Kota Kupang Luncurkan Promo Sambungan Baru dan Website Resmi Jelang HUT ke-17

2 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.