Petrus B Pattyona dan Benny K Harman (Foto: Istimewa)

Kupang, Vox NTT-Benny K Harman dan Petrus Bala Pattyona saling balas surat terbuka di media sosial. 

Petrus yang pertama kali mengirimkan surat terbuka itu menyampaikan tanggapan atas cuitan Twitter Benny menyikapi kabar bohong yang diciptakan Ratna Sarumpaet.

Ratna sendiri baru mengakui kebohongannya pada Rabu, (03/10/2018).

Berikut Surat Petrus yang beredar di sosial media:

Yth. Bapak Dr. Benny K. Harman, SH, MH
Cuitan Bapak yg beredar di Medsos dalam kaitan penganiayaan Ratna Sarumpaet yg ternyata tak ada peristiwa pidana Penganiyaan dan Bapak menilai Presiden Jokowi diam dgn 3 analisa tanpa data, fakta, keterangan apapun shg berkesimpulan Presiden diam krn, ini perkara kecil, Presiden diduga memelihara preman dn diduga kuat meninju Ratna S dan Preman2 tsb adalah suruhan Presiden.

Tahukah Bapak utk urusan kriminal sdh ada lembaga2 Penegak Hukum yang menangani?.Tahukah Bapak kesibukan Presiden yg luar biasa menangani bencana gempa di Palu Donggala dsk nya? — ini utk tuduhan Diam.

Utk tuduhan masalah RS masalah kecil, tahukah Bapak begitu banyak empati yg sdh mengalir ke RS sebelum terbongkar kebohongannya sehingga Presiden menilai biarlah masalah ini ditangani oleh pihak2 yg kompetensi alah hanya seorang RS, bukan lebih diutamakan lebih 1400an korban gempa dn jumlah tsb mungkin terus bertambah?.

Tuduhan Bapak Presiden memelihara Preman dn Preman2 tsb meninju RS, apa ada bukti2 berupa data, info atau keterangan apa dari siapa, kapan disampaikan kepada Anda, dimana disampaikan, apa/bagaimana kronologis nya dan kalau ada data2 tsb sdhkah terkonfirmasi krn bukankah Bapak sebelum terjun di Politik pernah menjadi wartawan hukum yg diawali di LBH Jkt, saat itu thn 1987 saya jg sbg Volunteer Lawyer di LBH Jakarta dn Bapak sbg pegawai Yayasan LBH Jkt dgn Ketua Abdul Garuda Nusantara (Alm.) dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang perpustakaan, tempat kliping koran? Pd wkt itu ada jg Rekan Paul S. Baut?

Bapak katakan Presiden menyuruh Preman2, siapa Preman2 itu, dimanakah Preman2 itu, dimana Preman2 itu disuruh, kapan Preman2 itu disuruh, siapa menyaksikan Preman2 itu disuruh Presiden. Tolong jelaskan semua pertanyaan saya ttg ketiga hal yg Bapak twitt agar saya tidak berkesimpulan Analisa Bapak ngawur, prematur, tanpa data, tak bermutu, penuh kebencian, hoax, dan menimbulkan perpecahan, permusuhan, keresahan sosial di masyarakat

Setelah 2x gagal jd gubernur NTT kajian, analisa Bapak kurang cerdas bahkan terkesan frustrasi krn apapun yg dilakukan Pemerintah di mata Bapak selalu salah dn tak ada nilai positif.
Tolong jelaskan ke publik sebelum antipati masyarakat tertuju kepada Bapak apalagi di Peleg yad Bapak tetap Caleg 2019 di Dapil NTT 1 dari Partai Demokrat.
Salam hormat

Dari: Petrus Bala Pattyona SH MH.

Menanggapi surat terbuka Petrus, Benny tidak tinggal diam. Lulusan doktor hukum Univeristas Indonesia ini pun membalas surat terbuka Petrus ke media sosial.

Berikut isi surat Benny untuk Petrus:

Bung Petrus Bala Pattyona Ybk. Apa kabarmu? Semoga melalui surat ini saya menemui Bung dalam keadaan sehat. Jasmani dan rohani. Tak kurang apapun. Suratmu sudah saya baca dengan cermat isinya. Terima kasih banyak koreksinya. Maaf, baru sempat membalasnya. Maklum, sibuk cari sesuap nasi.

Terus terang, saya menulis surat ini dengan terpaksa, hal yang jarang saya lakukan. Biasanya kalau ada hal yang ingin saya tau atau ingin memberikan penjelasan mengenai suatu hal, saya angkat telepon saja dan bicara, masalah selesai.

Tapi kali ini, meskipun tidak penting, saya terpaksa lakukan, lebih karena surat ini saya tulis untuk menjawab surat yang Bung kirim melalui media publik, medsos, dan disebarluaskan ke seantero dunia. Maka pikiran yang hendak Bung sampaikan diketahui oleh publik, masuk ranah publik, tidak hanya saya yang tau tapi juga publik tentunya.

Selain itu, saya semula ragu, jangan-jangan ini surat palsu dan hoax juga. Khawatir nanti saya menanggapi pikiran Bung padahal bukan Bung yang menulis. Karena itu, izinkan saya menyampaikan bahwa tulisan ini saya buat dengan pengandaian bahwa benar adalah Saudara Petrus Bala Pattyona atau yang mengklaim atau mengatasnamakan Bung Petrus yang menulis dan mengirim surat tersebut melalui media publik kepada saya. Selamat membaca.

Bung Petrus Yth. Bung adalah sahabat lama saya puluhan tahun silam meskipun belakangan ini jarang bertemu. Menjelang Soeharto punya rezim runtuh, saya tahun 1987 bekerja sebagai staf di Yayasan LBH Indonesia merangkap sebagai wartawan Media Indonesia sejak 1989. Pada waktu itu, saya masih ingat baik, Bung Petrus sebagai tenaga sukarela di Kantor LBH Jakarta, sebagai pengacara. Tentulah sering ketemu karena YLBHI dan kantor LBH satu Gedung.

Saya sendiri bekerja sebagai tukang kliping pada Divisi Komunikasi dan Publikasi YLBHI bersama dengan Pak Hendardi sebagai pimpinan kami saat itu. Bung Petrus termasuk yang sering datang di tempat kami nongkrong dan setau saya Bung Petrus termasuk staf LBH yang suka banyak bicara.

Saya kagum sekali meskipun lama kemudian saya menganggap Bung Petrus asal bunyi kalau bicara. Bunyi nyaring tapi isi kosong. Kadang logikamu tidak jalan. Dungu jika meminjam istilah generasi jaman now. Tapi sekali lagi, itu dulu. Sekarang tentu jauh berbeda.

Petrus lama telah menjadi Neo-Petrus seiring waktu berjalan. Tentang ini, maaf, terlalu pribadi, saya tidak ingin menguraikannya. Lebih lagi karena Bung Petrus sekarang sudah menjadi pengacara kondang di Ibukota. Saya belum lama ini pernah bermimpi, Bung Petrus menjadi Ketua Tim Hukum Relawan Jokowi Presiden dua periode. Selamat buat Bung. Proficiat! Tentu sebagai sahabat, saya ikut bangga. Jejak langkahmu, aku ikuti. Kecil lah Jakarta ini.

Bung Petrus Yth. Saya langsung fokus saja memenuhi permintaan Bung untuk menjelaskan secara lugas dan lengkap isi tuitan saya terkait berita penganiayaan Ratna Sarumpaet yang ternyata diketahui kemudian itu fabrikasi alias berita bohong.

Khabar tentang Ratna dianiaya itu saya peroleh melalui berita di televisi setelah salah satu paket Capres-Cawapres yang didampingi tim pemenangannya tgl 2 Oktober 2018 menyuarakan hal itu dalam konpres resmi yang kemudian diberitakan di Media Mainstream, Online, dan Medsos keesokan harinya.

Yang saya baca antara lain berita di Koran Tempo edisi Rabu 3 Oktober 2018. Selain itu khabar ini menjadi ramai di Medsos. Saya juga membacanya dan mengikuti perkembangannya. Siapa sih yang tidak percaya dengan grup Tempo?

Pada waktu saya membaca dan mendengar berita ini, saya dalam hati bertanya-tanya, ada apa dengan negeri ini. Apa yang salah dengan republik ini. Kenapa kekerasan sepertinya merajalela. Siapa yang melakukan ini dan motifnya apa. Itu semua pertanyaan yang muncul dan menggelora dalam hati.

Saya juga dalam hati bergumam, jangan-jangan kasus Ratna ini nanti sama nasibnya dengan kasus Novel Baswedan. Menakutkan. Kita tidak tau, apa keterangan resmi penguasa tapi komentar banyak netizen macam-macam di Medsos.

Selain itu, imajinasi saya ke mana-mana tentang ini. Saya teringat dengan pidato Yang Mulia Bpk Presiden Jokowi di hadapan para relawan di Sentul International Convention Centre (SICC) tanggal 4 Agustus 2018 yang silam. Saya yakin Bung ingat, sebab saya juga dengar kabar burung bahwa Bung Petrus salah satu komandan relawan yang hadir saat itu.

Ingat Bung? Apa pesan Yang Mulia Bapak Jokowi saat itu? Aku beritau yah. Saat itu, Bapak Jokowi meminta kepada para relawan untuk siap berantem atau “baku pukul” ala preman dalam bahasa kita orang Flores apabila ada lawan politik yang melakukan penyerangan terhadap Jokowi.

Dan menurut sahabat saya, Ali Mochtar Ngabalin, yang dulu benci Bpk Jokowi tapi sekarang sudah menjadi sahabatnya, “itu perintah Panglima.” (DetikNews, 7/8/2018). Sebagai perintah panglima, perintah itu harus dijalankan. Semoga Bung Petrus masih ingat. Jangan pura-pura lupa Bung!

Saya sengaja kutip pidato Yang Mulia Bapak Jokowi di atas, karena itulah yang menjadi latar telaahan saya soal kemungkinan ada preman di sekitar presiden itu. Karena ingin tau perkembangannya maka saya ikuti terus komentar para netizen di Medsos. Salah satu yang menggelitik saya datang dari salah satu netizen. Netizen itu dalam tuitannya menulis, “Sekarang Ratna Sarumpaet. Kemarin Novel Baswedan. Dan tak sepatah katapun dari Presiden.”

Atas pertanyaan itu saya tergerak untuk menulis komentar yang intinya pemerintah dalam hal ini presiden harus memberikan penjelasan dan keterangan apa gerangan yang terjadi agar netizen dan warga masyarakat tidak membuat analisis dan komentar liar yang tidak jelas ujung pangkalnya dan mungkin bisa meresahkan warga.

Kalau tidak ada keterangan resmi, maka warga masyarakat akan membuat komentar dan tafsir sendiri-sendiri sesuai dengan selera dan kepentingannya. Bisa saja orang berspekulasi dan membangun opini, persepsi dan narasi untuk menyudutkan Capres atau kelompok tertentu.

Maka atas pertanyaan Netizen itu, saya membuat telaahan. Ada empat kemungkinan, menurut saya, mengapa untuk masalah ini, Presiden tidak memberi penjelasan atau mengapa presiden diam. Empat kemungknan itu adalah pendapat, pikiran, dan tafsir saya atas fakta yang terkomentar itu.

Bisa salah dan bisa benar. Hanya saja karena keterbatasan ruang untuk ditulis di twitter, hanya tiga kemungkinan yang dimuat. Tapi semuanya bukan tanpa dasar, tidak mengada-ada seperti yang Bung Petrus tuduhkan.

Empat kemungkinan itu ialah: Pertama, mungkin presiden menganggap ini perkara kecil sehingga tidak penting ditanggapi. Ada perkara yang lebih besar seperti urus gempa di Palu. Masuk akal tentunya.

 

Kedua, mungkin ini pekerjaan preman-preman di sekitar presiden. Preman tidak harus buruk konotasinya. Mungkin saja presiden memelihara preman dan kalau kemungkinan ini benar maka diduga kuat preman-preman ini disuruh untuk meninju Ratna sehingga terjadilah kekerasan itu. Inipun bisa dipahami, meski belum tentu dapat dibenarkan.

Mungkin Bung Petrus tanya, kok tiba-tiba ngelantur ke preman?. Kenapa imajinasinya liar begitu?. Merendahkan martabat presiden? TIDAK Bung! Saya masih waras dan pikiran saya masih sehat. Apa alas pikirnya? Tentu pertanyaan Bung Petrus wajar saja.

Alas pikirnya, itu tadi yang telah saya uraikan sedikit di atas yaitu pidato Yang Mulia Bpk Jokowi di hadapan para relawannya di SICC tanggal 4 Agustus 2018 untuk siap berantem. “Relawan harus siap berantem,” titah Bpk Jokowi. Dalam benak saya, tentu Bpk Jokowi punya pasukan khusus yaitu preman-preman untuk bisa berantem dengan lawan politik yang coba-coba menciderainya.

Karena itu, begitu muncul khabar tentang kekerasan atau penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet, pikiran saya langsung tertuju pada pidato Bpk Jokowi itu. “Pasti ini aksi preman-preman sesuai dengan pidato Bpk Jokowi waktu itu,” kataku di hati. Salah kah cara pikir saya? TIDAK! Karena Ratna Sarumpaet masuk dalam tim pemenangan Prabowo. Mungkin cara pikir saya tidak sopan. Mohon maaf, kalau begitu.

Ketiga, mungkin ini penerapan revolusi mental. Proses hukum terlalu berbelit-belit, birokratis, tidak efektif, dan tidak jelas. Maka ini cara yang mungkin bisa diterapkan. Saya ingat dengan kasus penenggelaman kapal-kapal illegal. Tanpa proses hukum, itu dilakukan. Untuk memberi efek jera. Saya sangat memahaminya. Walaupun tidak membenarkannya.

Keempat, presiden mungkin diam karena ini hoax, berita bohong. Itu empat kemungkinan yang menurut saya membuat presiden diam. Tetapi, sekali lagi karena terlalu panjang dan keterbatasan ruang dalam tuitan maka kemungkinan yang keempat ini terpotong.

Karena itu tidak muncul dalam tuitan saya yang pertama. Belum sedetik saya posting itu, muncul tanggapan dari netizen yang mengatakan, kemungkinan keempat ialah karena ini berita hoax sehingga presiden diam. Atas komentar netizen ini, langsung saya konfirmasi dan sambung, “betul dan benar sekali”. Mungkin karena menurut presiden ini hoax.

Maka, dalam tuitan berikutnya, saya menulis agar aparat keamanan segera mencari siapa pelaku aksi kekerasan ini dan ungkapkan siapa dalangnya dan apa motifnya. Mengapa saya menulis seperti itu? Supaya tidak menjadi kasus yang nasibnya sama dengan kasus Novel Baswedan.

Dalam kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan, presiden belum berhasil mengungkapkan siapa pelakunya dan apa motifnya. Padahal ini penting utk penegasan komitmen Bapak Presiden Jokowi terhadap agenda pemberantasan korupsi. Dengan mengungkapkan ini maka presiden (yang dimaksudkan dengan presiden di sini ialah institusi) melalui aparat penegak hukum bisa bicara tentang masalah ini.

Mengapa perlu bicara, sekali lagi, agar tidak ada penafsiran dan spekulasi di tengah-tengah masyarakat bahwa kasus Ratna ini terkait dengan Pilpres yang tentu saja akan berdampak buruk bagi iklim demokrasi dan mungkin berdampak buruk bagi Bpk Jokowi yang juga menjadi Capres periode 2019-2024.

Mengapa bagi Bpk Jokowi berdampak buruk, karena salah satu Capres telah menyuarakan kasus kekerasan ini kepada publik melalui siaran televisi. Ketika tanggal 3 Oktober kemarin kasus ini merebak luas di Media termasuk media sosial, ada khabar bahwa ini berita bohong, Ratna Sarumpaet tidak dianiaya tapi menjalani operasi plastik sehingga mukanya tampak lebam.

Saya tidak berurusan dengan soal benar tidaknya Ratna dianiaya atau oplas. Jika ini khabar bohong, maka saya menyerukan dalam tuitan saya berikutnya agar yang memproduksi berita bohong ini harus diusut dan dihukum seberat-beratnya.

Karena selain merusak iklim demokrasi, kita sedang Pemilu dan Pilpres, menurut saya ini merupakan cara politik yang sangat tidak sehat. Menciderai Capres Prabowo dan merendahkan martabat bangsa. Bayangkan, seorang Prabowo dan Sandiaga Uno (Capres-Cawapres) menyuarakan kebohongan ini.

Saya punya pikiran dan perasaan, masa sih orang kayak Ratna Sarumpaet bisa membohongi Pak Prabowo, Pak Sandiaga Uno, Pak Amien Rais, Pak Fadlizon, dan kita semua?.

Mosok sih Capres Prabowo dan Cawapres Sandiaga Uno serta pak Amin Rais berani menyuarakan cerita Ratna ttg kekerasan terhadap dirinya kalau mereka tidak yakin dengan pengaduan Ratna itu. Apalagi disiarkan melalui media televisi, surat khabar dan media Online terkemuka dan juga tersiar luas di Medsos.

Bung Petrus Ybk. Mungkin saya salah, bisa saja, karena terlalu gegabah memberikan komentar. Tapi apakah saya menuduh Presiden Jokowi memelihara preman? TIDAK. Saya hanya mengkonfirmasi saja apa yang telah dikemukakan Bpk Jokowi dalam pidatonya di hadapan Relawan di SICC tgl 4 Agustus seperti saya kutip di atas.

Apakah dengan itu, saya menyudutkan Presiden Jokowi? TIDAK! Ada dasarnya Bung. Apa dasarnya.? Pidato 4 Agustus itu. Ini saya kutip lagi supaya Bung Petrus ingat yah. Adalah Bpk Jokowi sendiri yang pada 4 Agustus itu memberi perintah kepada para relawan atau tim suksesnya untuk berantem atau berkelahi kalau perlu, dan berantem atau berkelahi itu adalah salah satu bentuk premanisme.

Maaf Bung, saya tulis ulang lagi ini, khawatir Bung lupa. Tidak ada maksud lain. Jadi, biasa sajalah Bung. Kita sama-sama mencintai negeri ini. Kau Pancasila, aku juga Pancasila. Saya rasa demikian Bung. Saya akhiri dulu obrolan kita kali ini. Semoga penjelasan ini menjadi clear dan clean untuk Bung.

Saya senang dgn cara Bung, langsung menulis surat dan menyebarluaskannya melalui Medsos. Ini era serba transparan. Harap surat saya ini juga Bung sebarkan juga ke jaringan Medsos yang Bung punya. Jangan Bung malah diamkan. Bilamana perlu dibahas dan didiskusikan di kalangan teman-temanmu. Akal sehat harus kita kedepankan untuk mengalahkan kedunguan-kedunguan yang tidak perlu.

Ihwal pernyataan Bung Petrus bahwa setelah dua kali gagal menjadi gubernur, analisis dan kajian saya kurang cerdas bahkan terkesan frustrasi, yah, yah, itu kan perasaan Bung saja. Itu penilaian subyektif. Menyakitkan pendapat Bung ini, tapi saya ingin tegaskan bahwa saya tidak sedang frustrasi. Saya sehat Bung.

Kalau kajian dan analisis saya kurang cerdas sekarang, bukan karena saya frustrasi atau tambah dungu akibat kalah dua kali Pilgub seperti yang Bung pikirkan dan Bung ikut ambil bagian di dalamnya, tetapi karena Bung Petrus sekarang sudah bertambah pintar dan cerdas. Bung sudah hebat sekali.

Tidak seperti dulu ketika tahun 1987 masih menjadi volunteer di LBH Jakarta. Saat itu, kalau Bung bicara, memang kedengaran seperti orang teriak saja dan logika Bung masih dangkal. Sekarang sudah luar biasa. Saya salut. Maju terus Bung.

Di akhir Nota ini, saya ingin mengajak Bung. Mari kita saling menghargai pendapat dan pilihan kita masing-masing. Jangan karena saya beda dengan pilihanmu, kamu nilai saya antiPancasila. Saya menghargai pendapat Bung seperti halnya saya punya pendapat atas sikap diam presiden sebagaimana yang saya uraikan di atas juga harus Bung hargai.

Kalau Bung seorang lawyer yang punya pendekatan rasional dan demokratis dalam melihat suatu masalah, seharusnya Bung juga menghargai pendapat saya meski sakit sekalipun rasanya. Bukankah begitu Bung Petrus?.

Soal kesimpulan Bung, analisis saya ngawur, premature, tanpa data, tak bermutu, penuh kebencian, hoax dan menimbulkan perpecahan dan permusuhan serta keresahan sosial di masyarakat tentu saya hargai karena itupun kesimpulan yang Bung buat tanpa dasar juga. Tentang apa dasar dan alas pikir analisis saya, di atas sudah saya uraikan. Silahkan baca lagi.

Sekali lagi, meskipun kesimpulan Bung di atas ngawur dan tidak bener, saya mengerti dan saya hargai, wong pendapat kok. Bebas saja dengan saya. Bung mau maki, bilang saya bodoh, dan dungu, atau mengatakan apa saja sampai Bung puas dan merasa bahagia, tetap saya hargai dan bagi saya, Bung sendiri tidak berubah kualitasnya di mata saya. Bung tetap menjadi Petrus Bala Pattyona, sahabat saya. Petrus yang dulu dungu, sekarang pintar dan cerdas!

Kalau Bung singgung dalam suratmu soal Pemilu, yah bagi saya biasa saja, karena tanpa kasus ini pun Bung dari dulu kampanyekan hal-hal jelek untuk tidak pilih saya di kampungmu. Saya sendiri tidak mengerti, mengapa Bung benci sekali dengan saya. Dan lagi pula, hmmmm…. waah Bung sendiri kan ikut Caleg beberapa kali tapi gagal terus toh.

Saya seharusnya tidak omong ini. Tapi meskipun Bung gagal Caleg, tetap juga saya hargai Bung. Dan meskipun setelah itu, omongan Bung di media tentang saya, menurut saya asbun dan seperti tong kosong yang berbunyi nyaring, hanya karena dengki, saya toh tetap menghargai Bung. Dan tidak pernah saya merendahkan Bung hanya karena kedengkianmu.

Akhirulkalam, semoga penjelasan yang saya namakan NOTA POLITIK ini menjadi lilin kecil untuk Bung yang sedang mungkin berjalan dalam kegelapan. Lilin kecil yang mungkin bisa menerangi jalan pikiran Bung yang masih gelap tentang saya, sahabat lamamu.

Maaf apabila ada kata-kata yang kurang sopan dan tidak menyenangkan. Jangan bawa di hati yah. Salam hangat buat teman-teman dan keluarga, terima kasih atas doa dan perhatiannya. Berkat Tuhan!

Kampung Culu, Labuan Bajo, 4 Oktober 2018

Sahabatmu, Benny K. Harman