Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Aktivis GMNI Makassar Dikeroyok Polisi Hingga Luka Lebam
MAHASISWA

Aktivis GMNI Makassar Dikeroyok Polisi Hingga Luka Lebam

By Redaksi1 November 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kondisi Ferdinando Saferi,Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPC GMNI Makassar yang diduga dikeroyok anggota Polisi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Makassar, Vox NTT- Sejumlah aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan diduga dikeroyok anggota Polisi pada Senin, 29 Oktober 2018 lalu.

Aksi pengeroyokan oleh oknum dari Polisi dari Polrestabes Makassar  tersebut terjadi saat sejumlah aktivis GMNI dan beberapa elemen gerakan lain menggelar aksi unjuk rasa untuk mempringati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2018. Aksi unjuk rasa sejumlah elemen gerakan berlangsung di Flyover Makassar.

Menurut Ferdinando Saferi,Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPC GMNI Makassar, pihaknya melakukan aksi unjuk rasa bergabung dengan aktivis pergerakan lainnya seperti LMND, PPM Sulsel, GRD, IMM Maktim. Mereka bergerak di bawah payung aliansi bernama BAKAR.

Kata Ferdinando, massa aksi mengutarakan tuntutan kepada pemerintah atas realitas sosial yang sedang melanda bangsa Indonesia saat ini.

Massa aksi menuntut pemerintah untuk mengganti haluan ekonomi, kembalikan stabilitas Negara serta wujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia.

Massa aksi juga mendesak pemerintah untuk mencabut PP 78 Tahun 2015 tentang buruh dan segera menerapkan sistem ekonomi kerakyatan.

Selain itu, BAKAR juga mendesak agar segera menegakkan persamaan hukum dan UU PA Nomor 5 Tahun 1960, stop komersialisasi pendidikan, dan mencabut UU PMA Nomor 5 Tahun 2007.

Tak hanya itu tuntutan aliansi BAKAR. Mereka juga mendesak pemerintah agar membangun industri nasional dan menegakkan trisakti, serta menjalankan UU 33 pasal 1, 2 dan 3.

“Namun suara kebenaran yang disampaikan oleh aktivis GMNI Cabang Makassar diwarnai oleh tindakan represifitas para aparat Kepolisian yang pada saat itu mengawal massa aksi,” ujar Ferdinando kepada VoxNtt.com, Rabu (31/10/2018).

“Alhasil aksi pun jadi momentum bentrok antara aparat dan aktivis pergerakan yang sejatinya hanya menyampaikan suara-suara kebenaran. Aparat Kepolisian menunjukkan tindakan premanisme terhadap massa aksi,” tambahnya.

Tak hanya itu, kata Ferdinando, aparat Kepolisian bahkan melakukan penangkapan dan pemukulan terhadap massa aksi. Salah satu korbannya adalah Ferdinando Saferi.

Akibat dikeroyok dan dipukul aparat, Ferdinando terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.

“Mata bagian kiri bengkak dan lebam. Ini semua karena ulah premanisme aparat Kepolisian,” ujarnya.

“Saat saya diamankan ke mobil Polisi, saya dikeroyok oleh 50 Polisi, layaknya seperti binatang. Ditonjok hingga mata saya bengkak, gigi, hidung dan perut ditendang oleh pihak Kepolisian,” tambah Ferdinando.

Hingga kini, aku Ferdinando, kondisinya masih belum pulih. Mata bagian kiri masih lebam dan bengkak.

Ferdinando mengaku perihatin dengan prilaku aparat Kepolisian yang sudah menunjukan watak preman bukan keamanan.

Ia berjanji akan mengusut kasus pengeroyokan tersebut hingga pelakunya mendapat ganjaran sesuai hukum yang berlaku.

Sementara itu, Kapoltabes Makassar Komisaris Besar Polisi Irwan Anwar saat dimintai tanggapannya melalui pesan WhatsApp-nya menampik adanya pemukulan terhadap sejumlah aktivis GMNI tersebut.

Menurut dia, kabar adanya pemukulan itu merupakan hoaks atau berita bohong.

Namun demikian, Irwan menyatakan, bila kasus tersebut benar-benar terjadi, maka yang bersangkutan segera melapor ke Propam Polda Sulawesi Selatan.

“Sebaiknya lapor dulu biar jelas ada n betul adanya kejadian itu,” tulis Irwan.

 

KR: L. Jehatu
Editor: Ardy Abba

makassar
Previous ArticleBendahara Dinas PMD Matim Sudah Bayar Uang yang Hilang
Next Article Wabup TTU Sebut Ada Warga Tolak Program Berarti

Related Posts

Polemik Rektor STIKES Nusantara Dikeluarkan dari Grup WhatsApp LLDIKTI Berakhir

16 April 2026

Mahasiswa Unika Ruteng Gelar Asistensi Paskah Berbasis Budaya di Stasi Mocok

12 April 2026

Belajar dari Wae Nenda, Ketulusan Umat Jadi Cermin Calon Pendidik

7 April 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.