Ruteng, VoxNTT.com – Sebanyak 80 mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi Universitas Katolik (UNIKA) St. Paulus Ruteng menggelar asistensi perayaan Paskah 2026 di Stasi Mocok, Paroki Arnoldus Janssen Ponggeok.
Kegiatan ini berlangsung atas permintaan Ketua Dewan dan pimpinan stasi setempat serta mendapat dukungan dari pihak program studi dan lembaga universitas.
Koordinator asistensi Paskah, Teobaldus Eventus mengatakan, kegiatan berjalan lancar berkat kerja sama berbagai pihak. Ia menilai seluruh rangkaian kegiatan membawa semangat kebangkitan bagi mahasiswa dan umat.
“Asistensi berjalan lancar dan sukses berkat kerjasama yang baik. Semua berharap semoga spiritualitas paskah kebangkitan Kristus membangkitkan kehidupan spiritual mahasiswa dan umat,” ujarnya.
Teobaldus menjelaskan asistensi Paskah tahun ini kental dengan nuansa budaya Manggarai. Rombongan mahasiswa dan pendamping diterima secara adat melalui rangkaian ritual seperti adak curu dan kapu, yang didahului dengan adak tesi boto babang agu bentang, yakni pemberitahuan kepada leluhur atas kehadiran tamu.
Kegiatan budaya juga mencakup diskusi di tiga rumah adat (mbaru gendang), yakni Mocok, Mucu, dan Mori. “Isi diskusi budaya adalah tentang pangan lokal yang menjadi makanan ritual orang Manggarai,” katanya.
Selain diskusi, mahasiswa menggelar latihan dan pementasan tarian tradisional tiba meka yang diiringi gong dan gendang. Tarian tersebut dibawakan dalam malam kesenian oleh mahasiswa, termasuk Jessy Jalong dan rekan-rekannya.
Pada kesempatan yang sama, mahasiswa lainnya, Delia Kojo, membacakan puisi Manggarai berjudul Manik Molas Manggarai. Komunitas adat Beo Mocok juga turut menampilkan kesenian mbata Betong Melo di bawah pimpinan Kepala Desa Mocok, Benediktus Nagur.
Rangkaian kegiatan diawali dengan katekese di 14 Komunitas Basis Gerejawi (KBG) di Stasi Mocok dengan tema terkait sinode.
Pendekatan inkulturatif menjadi salah satu ciri utama, yang tampak dalam pelaksanaan liturgi selama Trihari Suci hingga Minggu Paskah.
Nuansa inkulturasi terlihat dalam penggunaan bahasa Manggarai, busana adat, serta ritual seperti torok tae dalam persembahan.
Pada Jumat Agung, umat menampilkan lorang (tangisan ritual puitis) dan pembacaan kisah sengsara Yesus dalam bahasa daerah. Perayaan Misa Paskah juga dilaksanakan sepenuhnya dalam bahasa dan nuansa adat Manggarai.
“Misa inkulturatif ini dipersiapkan dan dipimpin oleh Rm. Inosensius Sutam,” jelas Teobaldus.
Selain kegiatan liturgi, mahasiswa bersama umat mengadakan kegiatan ekologis dengan menanam berbagai jenis pohon, seperti salam, ara, jati putih, pucuk merah, dan mahoni.
Penanaman dilakukan di lingkungan SDI Mocok, kantor desa, kampung, serta sumber mata air Waé Teku di tiga gendang: Mocok, Mucu, dan Mori.
Berbagai pihak mengapresiasi kegiatan ini. Ketua Stasi Mocok, Sofia Dusat, menyampaikan terima kasih atas kontribusi mahasiswa dalam perayaan Paskah tahun ini.
Kepala Desa Mocok, Benediktus Nagur, juga menilai kegiatan tersebut membawa dampak positif bagi masyarakat dan budaya lokal.
Ketua Panitia Paskah Stasi Mocok, Ferdinandus Tasak, menyebut asistensi kali ini berbeda karena memadukan unsur budaya dan kegiatan ekologis.
Sementara itu, tokoh perempuan setempat, Maria Jun, menilai kegiatan tersebut memperkuat pesan inkulturatif dan berharap dapat terus dikembangkan pada masa mendatang. [VoN]

