Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Polemik Rektor STIKES Nusantara Dikeluarkan dari Grup WhatsApp LLDIKTI Berakhir
MAHASISWA

Polemik Rektor STIKES Nusantara Dikeluarkan dari Grup WhatsApp LLDIKTI Berakhir

By Redaksi16 April 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dialog BEM dan mahasiswa STIKES Nusantara dengan pimpinan LL DIKTI wilayah 15 (Foto: Ronis Natom/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, VoxNTT.com – Polemik dikeluarkannya Rektor STIKES Nusantara dari grup percakapan WhatsApp yang beranggotakan seluruh rektor perguruan tinggi swasta bersama pimpinan LLDIKTI Wilayah XV akhirnya diselesaikan, Kamis, 19 April 2026.

Penyelesaian itu dicapai setelah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIKES Nusantara bersama puluhan mahasiswa mendatangi kantor LLDIKTI Wilayah XV di Kupang untuk meminta klarifikasi.

Sebelumnya, BEM STIKES Nusantara melayangkan protes keras kepada LLDIKTI. Mereka menuntut penjelasan terkait dikeluarkannya rektor kampus tersebut dari grup komunikasi resmi para pimpinan perguruan tinggi swasta.

Dalam pertemuan itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XV Profesor Adrianus Amheka hadir bersama jajaran pimpinan dan berdialog langsung dengan mahasiswa.

“Terima kasih sudah hadir. Ini satu hal yang luar biasa baik. Ajang diskusi ini menambah wawasan. Atau kalau ada hal hal yang menjadi keluhan bisa disampaikan. Kami akan langsung berhubungan dengan pengelola. Kita diskusi bersama,” ujar Amheka.

Perwakilan BEM STIKES Nusantara, Susten Banfatin, mengatakan kedatangan mereka bertujuan meminta penjelasan atas kebijakan tersebut. Ia menyebut peristiwa itu bukan pertama kali terjadi.

“Ini bukan baru pertama tapi sudah tiga kali rektor kami dikeluarkan dari grub,” ujar Susten.

Selain meminta klarifikasi, mahasiswa juga meminta kepastian bahwa persoalan antara kampus dan LLDIKTI tidak berdampak pada proses perkuliahan maupun kelulusan mahasiswa.

“Kami juga tentu takut karena jangan sampai hal ini bisa berimbas pada perkuliahan kami,” ujarnya.

“Kami tegaskan sikap ini bukan bentuk keberpihakan pada siapapun. Kami mau kuliah dan wisuda dengan baik tanpa hambatan. Kami ingin mendengar klarifikasi hal ini berdampak dengan kami sebagai mahasiswa atau tidak,” katanya.

Menanggapi hal itu, Amheka menegaskan urusan wisuda bukan kewenangan LLDIKTI. Menurut dia, mahasiswa tetap berurusan langsung dengan kampus terkait administrasi akademik.

“Adik-adik silahkan berurusan dengan kampus. Jaminan kelulusan ada jaminan administrasi. Terhadap STIKES Nusantara kami pastikan tidak pernah tidak memberikan rekomendasi. Kami hanya berurusan dengan pangkalan data di kementerian tinggi,” ujar Amheka.

Terkait pengeluaran rektor dari grup WhatsApp, Amheka mengatakan grup tersebut hanya sarana komunikasi dan tidak memengaruhi pelayanan administrasi.

“Pertanyaan apakah kalau tidak di grup apakah pelayanan tidak ada ? Kan tidak. Kan proses pelayanan itu terus dilakukan. Kantor kami ini selalu terbuka ada staf juga yang bagian melakukan pelayanan administrasi. Kalau tidak digrup sama sekali tidak berdampak dengan adik-adik mahasiswa,” ujarnya.

Ia menambahkan, LLDIKTI tetap menjalankan fungsi pembinaan apabila ditemukan pelanggaran di perguruan tinggi.

“Ketika perguruan tinggi melakukan penyimpangan makan LL DIKTI melakukan pembinaan”.

Menurut Amheka, Rektor STIKES Nusantara dikeluarkan dari grup pimpinan perguruan tinggi karena belum menindaklanjuti rekomendasi LLDIKTI terkait temuan dugaan pungutan liar dalam program KIP Kuliah.

“Kami juga sudah sampaikan surat berdasarkan temun Ombudsman NTT soal temuan tersebut,” katanya.

Ia mengklaim surat terkait dugaan penyelewengan dana KIP Kuliah telah beberapa kali dikirimkan kepada pihak kampus.

Setelah dialog berlangsung alot, kedua pihak akhirnya mencapai kesepakatan. LLDIKTI kemudian memasukkan kembali Rektor STIKES Nusantara ke dalam grup WhatsApp pimpinan perguruan tinggi.

“Tapi dengan catatan temuan itu harus segara dilanjutkan,” kata Amheka.

Penulis: Ronis Natom

LLDIKTI LLDIKTI Wilayah XV STIKES Nusantara
Previous ArticleLogosi Institute Gelar Workshop Robotik di Kupang, Siapkan Kompetisi Perdana Skala Besar di NTT
Next Article HUT ke-17 Perumda Air Minum, Wali Kota Kupang Minta Pelayanan Berdampak Nyata bagi Warga

Related Posts

Mahasiswa Unika Ruteng Gelar Asistensi Paskah Berbasis Budaya di Stasi Mocok

12 April 2026

Belajar dari Wae Nenda, Ketulusan Umat Jadi Cermin Calon Pendidik

7 April 2026

BEM FISIP Undana Gelar Pengabdian di Desa Tanah Merah, Angkat Pendidikan Politik hingga Kewirausahaan

1 Maret 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.