Kubur almarhum Benediktus Beni (Foto: Sandy Hayon/Vox NTT)

Borong, Vox NTT- Kematian Benediktus Beni hingga kini menyisahkan pilu bagi keluarga dan anak-anaknya.

Yosep Tote kakak kandung Bene demikian almarhum disapa, tampak sedih lantaran kepergian sang adik secara tiba-tiba.

Ia tak pernah menyangka adiknya itu pergi meninggalkan keluarga untuk selamanya.

Saat ditemui VoxNtt.com di kediamannya di Kampung Ranameti, Kelurahan Ronggakoe, Kecamatan Koto Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT,  Kamis (10/1/2019), Yosep mengisahkan kepergian adiknya itu.

“Pada 19 Desember 2018 silam tepat 1 bulan 19 hari terhitung dari tanggal 30 Oktober saya mendapat kabar adik saya meninggal di Kalimantan,” kisah Yosep.

Komunikasi tanggal 2 Desember 2018

Menurut Yosep kepergian almarhum tanpa sepengetahuan sekeluarga besar.

Apalagi Yosep merupakan titisan keluarga yang mendiami rumah adat.

Yosep sempat kecewa, namun apalah daya biarlah sang adik pergi mencari rezeki di seberang lautan.

“Saya kecewa dengan dia waktu itu karena pergi tidak kasih tau saya dan keluarga,” ungkapnya.

Kendati demikian Yosep tak marah, kala itu komunikasi mereka selalu lancar.

” Tanggal 2 Desember 2018 dia sempat telepon saya dari Makasar dan tanggal 3 dia bilang sampai di Balik Papan,” imbuhnya.

” Besok jam dua kami akan terbang ke Kalimantan ongkos dan tidur di hotel. Waktu itu saya suru besok jam 2 siang  saya hubungi kamu,” tambah Yosep mengisahkan saat menelepon adiknya.

Komunikasi Tanggal 3 Desember 2018

Pada tanggal 3 Desember sesuai janjinya Yosep menghubungi adiknya. Namun, ia hanya bisa menghubungi Marsel karena sang adik tidak memiliki handphone.

“Pada tanggal 3 Desember itu saya masih mendengar dia punya suara melalui hp milik Marsel,” tukasnya.

Pembicaran keduanya kala itu tentang perangkat teknologi yakni handphone.

“Saya suru dia usahakan gaji bulan pertama nanti beli HP biar HP lemok daripada kamu pinjam orang punya HP supaya nanti kita bebas dan komunikasi,” kisah Yosep.

Menurut Yosep, Marsel merupakan utusan dari salah satu perusahaan untuk mencari tenaga kerja di Manggarai.  Dan waktu itu kata dia sebanyak 13 orang yang berhasil direkrut.

VoxNtt.com pun mencoba menghubungi Marsel, namun tak bisa melacak keberadannya. Nomor handphone miliknya sudah tak ada.

Kabar Kematian

Setelah komunikasi tanggal 3 Desember 2018 lalu, keluarga sempat berkomunikasi dengan almarhum.

“Setelah itu memang sempat telepon namun pada tanggal 19 Desember malam pada waktu kami ikut lagi ikut katekese dan misa pengakuan, semua orang pada huru hara. Mereka takut kasih tahu ke saya dan pada waktu ada adik saya memberitahukan kalau adik Ben sudah meninggal,” kisah Yosep.

Berita tentang kematian sang adik, Yosep mengaku tak yakin.

“Memang begitu saya dengar saya tidak yakin karena sabagai kakak seolah olah tidak ada tanda-tanda. Saya kontak saudara di Bali tetapi belum jelas kepastiannya,” aku Yosep.

Yosep Tote, kakak kandung almarhum Benediktus Beni (Foto: Sandy Hayon/Vox NTT)

“Berita yang kedua baru saya yakin dia sudah meninggal. Dan itu kami dapat informasi dari saudara isti almarhum yang berprofesi sebagai Kades di Perang,” tambah Yosep

Pada tanggal 21 Desember, jenazah diterbangkan dari Kalimantan menuju Surabaya. Dari Surabaya ke Labuan Bajo dan tidur semalam di Labuan Bajo, selanjutnya tanggal 23 jasad almarhum tiba di Kampung Ranameti.

Usai prosesi adat dan misa  jasad almarhum pun dikuburkan di belakang rumah milik Yosep.

Sering Sakit

Kata Yosep, almarhum Bene semasa hidupnya sering sakit.

“Dasarnya memang dia orang tidak sehat dia sering sakit pinggang, paksa diri mau jalan karena tergiur dengan cerita orang,” kesal Yosep.

Di berbagai daerah tempat ia bekerja Bene selalu saja sakit.

“Dia pernah ikut proyek di Marunggela sakit, petik cengkih di  Mauponggo sakit, petik kopi di Bajawa sakit, di Perang juga pernah sakit,” tambanya mengisahkan perjalanan hidup sang adik.

Kematian tragis yang dialami Yosep dan keluarga sungguh memiluhkan. Kendati demikian Yosep dan keluarga berharap agar jangan ada Benediktus yang lain.

“Cukup adik saya saja yang tidak boleh lagi,” tuturnya.

Dirinya memang sempat kesal dengan keputusan dinas terkait yang mengizinkan adiknya untuk pergi ke Kalimantan.

” Saya kecewa dengan keputusan Depnaker setidaknya mereka cek kesehatan para pekerja, tapi tak apalah mungkin ajalnya,” kesalnya.

Untuk diketahui almarhum Ande memiliki istri dan dua orang anak. Namun, saat didatangi VoxNtt.com di kediaman mereka, istri dan anak almarhum sedang tidak berada di tempat.

 

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba