Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Cara Tina Melawan Lupa
Feature

Cara Tina Melawan Lupa

By Redaksi21 Januari 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yustina Senda (70) sedang menganyam bakul (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT- Yustina Senda (70) tampak bahagia, ketika didatangi VoxNtt.com di kediamannya di kampung Sambi, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores NTT, Minggu (20/1/2019).

Tina demikian ia disapa merupakan satu dari sekian pengrajin daun lontar di kampung itu.

Hampir lebih dari separuh usianya, ia habiskan untuk merajut daun lontar menjadi sebuah karya kerajinan.

Bakul (mbeka: bahasa etnik rongga), tikar (te’e), tas (mbere), menjadi makanan empuk bagi Tina.

Walau di usia yang sudah melebihi setengah abad dengan mata yang tampak memburam, jemari Tina masih terlihat lincah.

Kebiasaan dan pengalaman, rupanya menjadi latar di balik cara Tina untuk merangkai daun lontar.

Daun lontar yang diolah Tina diperoleh dari anggota keluarga. Biasanya ia dapati daun lontar yang sudah siap ia pakai.

“Saya suruh mereka bawa yang sudah iris kecil-kecil dan sudah kering,” tuturnya.

Walau demikian, tak tahu persis, kapan ia coba merintis. Yang pasti ingatan Tina merujut pada masa kala ia remaja.

“Saya sudah buat ini semenjak masih kecil,” ungkap Tina sembari memperbaiki  karya miliknya itu.

Dilatih sang Ibu

Merangkai daun lontar merupakan warisan sang ibu.

Bagi Tina niat dan ketekunan adalah jurus kunci untuk mendapatkan sesuatu.

Tak heran, almarhumah Elisabet Wela, ibu kandung Tina melatih putrinya itu hanya dalam waktu sekejap.

“Mama saya latih saya dulu, hanya satu hari saja saya langsung tahu,” imbuh Tina sambil mengingat kenangan bersama sang ibu.

Namun, apalah daya kecepatan menghasilkan sebuah kerajinan, tak lagi seperti kala Tina masih gadis.

Sebuah bakul yang belum jadi karya Yustina Senda (70) (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

“Dulu dalam waktu masih muda, dua sampai tiga hari bisa buat satu bakul atau tikar, tapi sekarang enam sampai tujuh hari,” imbuhnya.

Tentu Tina bukan tanpa alasan. Umur yang kian menua seolah menguras tenaganya.

“Saya tidak tahan duduk lagi sekarang, karena kerja itu perlu duduk dalam waktu yang lama,” tukasnya.

Tantangan dan Harapan

Bagi Tina tantangan mengeksiskan kembali kerajinan dari daun lontar yakni moderenisasi.

Zaman yang kian berubah seolah memanjakan setiap generasi saat ini.

“Sekarang zaman kamu sudah pakai karung dan plastik, sehingga untuk pakai bakul dari lontar sudah tidak lagi,” tuturnya.

Tina menilai produk yang dihasilkan saat ini, menjadi biang dari masalah lingkungan yang terjadi.

“Kami pakai ini supaya kami bisa pakai lagi karena ini kuat, kalian kalau pakai pelastik satu kali pakai langsung buang, itu yang menyebabkan sampah,” ungkapnya.

Kendati demikian, Tina tak putus asa. Ia lebih memilih memanfatkan hasil karyanya.

Baginya, membuat anyaman dari daun lontar adalah cara tepat merawat ingatan-ingatan masa lalu, agar tak tergerus dan lapuh oleh zaman.

 

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Kelurahan Tanah Rata Manggarai Timur
Previous ArticleCegah Konsumsi Narkoba, Polres Ngada Sosialisasi ke Sekolah
Next Article SMK Negeri 1 Labuan Bajo Dukung Kemajuan Pariwisata di Mabar

Related Posts

Hampir Sebulan Jebol, Crosway Wae Musur Hilir Belum Ditangani Pemkab Manggarai Timur

12 Juni 2026

Kasus Dugaan Korupsi Eks Kadis DP3AKB Manggarai Timur Didorong Masuk Ranah Hukum

23 Mei 2026

Warga Rana Mese Titip Harapan Jembatan Permanen di Wae Musur kepada DPRD Matim

22 Mei 2026
Terkini

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.