Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Ratusan Hektare Hutan Mangrove di Desa Aeramo Terancam Punah
Regional NTT

Ratusan Hektare Hutan Mangrove di Desa Aeramo Terancam Punah

By Redaksi24 Januari 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Hutan mangrove di Desa Aeramo, tepatnya di Nagelewa rusak akibat pembangunan tambak ikan bandeng (Foto: Arkadius Togo/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT- Ratusan hektare hutan mangrove atau hutan bakau di Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo terancam punah.

Kepunahan hutan mangrove ini dipicu oleh oleh karena alih fungsi lahan menjadi tambak ikan bandeng oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo.

“Hutan mangrove di wilayah Desa Aeramo terancam punah karena dialih fungsi menjadi tambak ikan bandeng, dan sebagian proyek itu tanpa diketahui pemerintah desa,” ujar Sekretaris Desa Aeramo, Ronal Rabu kepada wartawan, belum lama ini.

Ronal mengaku ratusan hektare hutan mangrove di desanya sudah rusak akibat pembangunan tambak ikan bandeng.

Lahan tersebut baru diketahui akan dijadikan tambak ikan setelah ada papan informasi proyek yang terpasang di lokasi.

Dikatakannya, selain tidak diketahui oleh pemerintah setempat, proyek tersebut tidak berdasarkan musrembang pada tingkat desa.

Menurut Ronal, pembangunan proyek tambak ikan bandeng tersebut tidak berdampak pada kesejahteraan masyarakat Desa Aeramo.

Proyek malah bisa berdampak pada kerusakan lahan hutan mangrove dan ekosistem pantai.

Ia mengaku, sebagai pemerintah desa, pihaknya tidak dapat berbuat banyak karena proyek itu menjadi salah satu program yang langsung ditangani Pemkab Nagekeo.

Hingga kini, pihak Ronal belum mengetahui apakah proyek itu sudah dilakukan survey kelayakan dan keamanan wilayah pantai atau tidak. Padahal lokasi proyek tambak ikan bandeng masuk pada kawasan jalur hijau.

Ia meyakini, rusaknya hutan mangrove itu bakal berpotensi bencana alam seperti naiknya gelombang laut hingga ke area jalur jalan lintas utara.

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Ardy Abba

Desa Aeramo Nagekeo
Previous ArticleRSUD TTU Tangani 8 Kasus DBD, Satu Orang Meninggal
Next Article Pasien DBD di Manggarai Barat Terus Bertambah

Related Posts

Brimob Operasikan Watergen, Hasilkan 950 Liter Air Bersih per Hari untuk Pengungsi Gempa di Reok

3 September 2026

Nyawa Samsia Cora Diduga Direnggut Hoaks Terstruktur dan Berskala Masif

27 Agustus 2026

Keluarga Jakob Nuwa Wea Salurkan Rp1 Miliar untuk Korban Gempa Nagekeo

23 Agustus 2026
Terkini

Edi Hardum Minta Bupati di Flores Tak Monopoli Penyaluran Bantuan Gempa

3 September 2026

Brimob Operasikan Watergen, Hasilkan 950 Liter Air Bersih per Hari untuk Pengungsi Gempa di Reok

3 September 2026

Kekerasan Seksual Anak di Sumba Timur: Rumah Tak Lagi Aman

2 September 2026

Gunung Anak Ranaka Naik ke Level Waspada, Warga Diminta Menjauh Satu Kilometer

2 September 2026

Aktivitas Gunung Api Anak Ranaka Meningkat, PVMBG Naikkan Status ke Level Waspada

2 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.