Suster Matilda, aktivis kemanusiaan mempimpin ibadat, sebelum jenazah Jeckson diberangkatkan ke kampung halamannya di Belu (Foto: Boni/VoxNtt.com)
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Malam itu, Jumat 1 Februari 2019. Halaman Kargo Bandara El Tari Kupang tampak lengang.

Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kini halaman parkir hanya terdapat beberapa kendaraan roda dua milik para pegawai dan kendaraan roda empat milik pihak Kargo.

Sementara di dalam ruangan, beberapa pegawai tengah mengatur lalu lintas barang masuk dan barang yang akan keluar.

Dalam suasana lengang, sorotan lampu mobil avanza putih dari pintu gerbang, menyinari wajah-wajah pilu, berselimut kepedihan.

Cahaya lampu itu seperti ingin memberitahukan kepada lingkungan sekitar bahwa duka berkepanjangan masih melanda daerah ini.

Kru VoxNtt.com yang berada di sana sekitar 30 menit sebelum mobil itu tiba, mencoba menghampiri mereka.

alterntif text

Tak salah lagi, sebagaimana diduga, mereka adalah keluarga Jeckson Fahik Guteres (18) TKI asal Kabupaten Belu. Almarhum meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Malaysia pada 25 Januari 2019 lalu.

Mereka sudah menantikan kedatangan Jenazah Jeckson, sekitar 1 jam yang lalu. Keluarga Jeckson datang dari Naibonat, Kabupaten Kupang untuk menjemput jenazah saudara mereka menuju tanah kelahirannya di Belu.

An Martins, kakak ipar Alm. Jeckson menyampaikan, adiknya itu berangkat ke Malaysia pada 2007 silam pada saat usianya masih 7 tahun.

Dia berangkat bersama kedua orang tuanya, Aleksandrio Martins (49) dan Apolonia Bete (46) serta seorang kakak laki-laki Jeckson.

“Dia sudah tinggal di Malaysia dari umur tujuh tahun memang kaka,” ujar An, yang juga baru beberapa bulan di Indonesia setelah selama 10 tahun bekerja di Negeri Jiran itu.

Di tengah obrolan, seorang staf dari BP3TKI NTT menghampiri keluarga korban dan menyampaikan kalau pesawat sebentar lagi mendarat.

Staf yang tidak asing lagi bagi kalangan wartawan dan aktivis peduli human trafficking itu, meminta keluarga untuk bersamanya mengangkat peti Jenazah yang sebentar lagi akan keluar dari ruangan kargo.

Di depan ruangan kargo, sudah menunggu beberapa aktivis kemanusiaan yang selama ini konsen terhadap masalah human trafficking. Berapa di antaranya adalah biarawati dan tokoh agama.

Mobil jenazah yang mengantar Jeckson ke kampung halamannya

Tidak lama berselang, peti jenazah keluar, suasana yang tadinya hening sontak berubah menjadi kian mencekam, isak dan air mata menyambut kedatangan Jeckson.

Orang tua Jekson, Aleksandrio dan Apolonia yang berangkat dari Malaysia bersama Jenazah sang anak juga ada situ. Mereka hanya terdiam seperti tak sanggup menceritakan peristiwa teragis yang menimpa buah hati mereka.

Salah Jalur

Beberapa saat setelah memasukan peti Jenazah ke dalam mobil ambulance yang disiapkan BP3TKI, ayah Jeckson, Aleksandrio menyampaikan, anak mereka meninggal karena kecelakaan lalu lintas (lakalantas).

Dikisahkan Alex, demikan disapa, Jeckson mendapat kecelakaan akibat salah jalur saat mengendarai sepeda motor. Almarhum yang membawa motor gonceng bersama temannya orang Malaysia.

Tabrakan itu terjadi ketika sepeda motor yang melaju kencang dari arah berlawanan menghantam sepeda mereka.

Saat kejadian itu, sang ayah dan ibundanya sedang bekerja di Ladang Sawit, tempat mereka mengadu nasib. Letaknya cukup jauh dari tempat Jeckson bekerja.

Dalam kesehariannya, Jeckson memang bekerja sebagai penjaga toko di Malaysia.

“Dia kena tabrak. Dia salah jalur, tabrak sesama motor dengan kawannya. Semuanya meninggal,” kata Aleksandrio.

“Waktu kejadian, saya tidak ada di tempat karena dia kan di dekat kota, dia kan bekerja jaga kedai (toko) saya di ladang. Jadi waktu hari Jumat 05.30 kan tanggal 25, waktu itu dia punya toke (Bos/Majikan) telepon. Kau pi sini, Jeckson anakmu terjadi insiden,” sambung Aleksandrio menirukan ucapan majikan Jeckson.

Hendak Kuliah

Sementara itu, Apolonia (ibunda Jeckson) tak menyangka jika putranya meninggal dengan cara tragis.

Sang ibu berkisah, lima hari sebelumnya (Minggu) sebelum kejadian, dia masih bertemu dengan Jeckson. Saat itu, tidak ada tanda-tanda apapun menjelang kepergian anak kelimanya itu.

“Tidak ada tanda-tanda pak. Hari minggu saya jumpa dia, pergi ambil gaji dan hari Jumatnya dia celaka,” ucap Apolonia.

Apolonia mengaku anaknya baik dan penurut. Selama di Malaysia gajinya selalu diambil Sang Ibu untuk membantu membiayai  kuliah kakaknya.

Sebagian gajinya ditabung untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi tahun ini setelah kakaknya yang kedua wisuda.

“Dia anak yang baik. Ada tanggung kakaknya kuliah dan rencana baru mau bangun rumah, ini baru mau beli tanah, tiba-tiba dia kecelakaan. Rencana tahun ini dia kuliah,” kata Apolonia.

Penghasilan 600 Ringit

Apolonia yang bekerja di lading sawit bersama suaminya mengaku bekerja di Malaysia tidak semudah yang dibayangkan, apalagi membayangkan upah yang besar.

Bayangkan, Apolonia harus melakoni pekerjaan-pekerjaan berat dan harus rela bekerja penuh waktu untuk membersihkan kebun sawit.

“Saya kerja di ladang juga. Potong anak kayu, membersihkan kebun sawit,” ungkapnya.

Namun demikian, pekerjaan yang tergolong berat itu tidak diimbangi dengan gaji yang layak. Apolonia hanya menerima 1000 ringit per bulan, atau sekitar 2 juta lebih jika dikonversikan ke rupiah.

Sementara Aleksandrio, sang suami diupah 2000 ringgit.
1000 ringit tersebut kata dia, termasuk untuk pengeluaran beli makan minum dan kebutuhan yang lain.

“Uangnya ringgit 1000, itu kotor belum potong makanan dan belanja barang. Bersih, enam ratuslah,” kata Apolonia yang mengaku biaya hidup di Malaysia sangat tinggi.

Kedati demikian, baik Apolonia mapun Aleksandrio berencana untuk tetap kembali ke Malaysia dan melanjutkan pekerjaan di lading sawit.

Ketika ditanya, apa yang memotivasi mereka untuk bertahan bekerja di sana, Apolonia mengaku masih ingin mendapatkan uang. Di kampung halamannyatki susah untuk bertahan hidup.

“Mau cari kelebihan sedikit,” tandasnya singkat.

Selama bekerja di Malaysia, pasangan suami istri ini mengaku sudah membiayai sekolah seorang anak mereka hingga meraih gelar sarjana. Sementara anak yang lainnya sedang berada di bangku sekolah menengah.

Untuk diketahui pada hari yang sama pada jam 12.00 siang, jenazah Ferdinandus Teti Berek (58), asal Fatuklaran, Desa Lorotolus, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka juga dipulangkan melalui bandara Eltari Kupang.

Ferdinandus meninggal pada tanggal 25 Januari 2019 lalu di Malaysia. Keluarganya menyebut almarhum meninggal karena sakit.

Penulis: Boni J