Koordinator FAO, Kepala BPTP Provinsi NTT, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, dan anggota Poktan Tunas Muda pose bersama

Oelamasi, Vox NTT- Kelompok tani (Poktan) Tunas Muda di Kampung Beolwoto, Desa Camplong II, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang sudah bisa memanen jagung dua kali dalam setahun.

Berkah ini didapatkan Poktan Tunas Muda setelah didampingi oleh Food and Agriculture Organization of The United State selama tiga tahun terakhir.

Food and Agriculture Organization of The United State adalah sebuah lembaga asal Amerika yang peduli dengan bidang pertanian dan peternakan.

Dalam pendampingan, Food and Agriculture Organization of The United State bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Kupang dan Dinas  Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kiatnya yakni lahan jagung seluas 80 are milik Poktan Tunas Muda dibuatkan lubang permanen, kemudian diisi dengan kotoran ternak.

Ketua Poktan Tunas Muda, Melkior Lake sedang menunjukkan jagung hasil pengelolaan dengan sistem lubang permanen

Hasil dari pendampingan pola tersebut, buah dan biji jagung besar dan berkualitas baik.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Marten Rahma menjelaskan, sistem lubang permanen adalah sistem penanaman pangan yang cocok untuk lahan kritis atau lahan yang terdiri dari bebatuan seperti di NTT.

“Bagi pola lubang permanen mempertahankan kelembaban tanah. Hal itu juga harus Sesuai dengan kondisi lahan. Ini kan sistem integrasi dengan tanaman pakan dan ternak. Jadi kotoran ternak dicampur ke dalam lubang, lalu campur tanah dan ditanami jagung dan tanaman lain,” kata Marten saat melakukan kegiatan temu lapangan bersama Poktan Tunas Muda, Rabu (6/2/2019).

Senada dengan Marten, Ketua Poktan Tunas Muda Melkior Lake mengaku sistem lubang permanen ini sangat membantu petani.

Melkior menjelaskan, tanah milik Poktan Tunas Muda seluas 80 are dibuatkan lubang dengan ukuran panjang dan lebar 40 cm, serta kedalaman 40 cm.

“Jadi kami punya tanah itu bisa mendapatkan 800 lubang. Lubang itu kemudian diisi dengan campuran dua ember tanah dan satu ember kotoran sapi,” katanya.

Lubang itu, lanjut Melkior, ditanami jagung secara bertahap. Tahun pertama yakni pada tahun  2017, hasilnya sudah baik. Sehingga saat itu, banyak petani lain yang sudah mengikuti pola lubang permanen.

“Sudah banyak yang ikut, jadinya kami bentuk kelompok dan jumlahnuya 16 orang. Sekarang kami sudah bisa panen dua kali setahun dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” aku Melkior.

Ia menambahkan, jagung milik Poktan Tunas Muda ini belum bisa dijual ke pasar-pasar tradisional.  Untuk sementara hasil jagung untuk kebutuhan rumah tangga petani.

Sapi dalam kandang yang dilengkapi tempat penampungan kotoran agar bisa dijadikan pupuk organik tanaman jagung milik Poktan Tunas Muda

“Kalau lahan sudah semakin luas dan ternak sudah dalam jumlah besar kita berharap sudah bisa penuhi kebutuhan pasar lokal,” tukas Melkior.

Koordinator Food and Agriculture Organization of The United State ,Ujang Supartman mengatakan, pertanian yang berintegrasi dengan ternak adalah proyek pemerintah.

Ia mengaku, pada 6 bulan lalu di atas lahan milik Poktan Tunas Muda tersebut tidak bisa menghasilkan sesuatu di bidang pertanian.

Namun sekarang, lanjut Ujang, petani boleh memanen jagung dua kali dalam setahun dengan pola lubang permanen.

“Apa yang kami buat ini adalah impor pengetahuan,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Bupati Kupang, Korinus Masneno yang juga hadir dalam kegiatan ini mengatakan, untuk membangun kabupaten itu mesti mendapat dukungan dari banyak pihak.

“Saya merasa kecil dan harus mulai belajar. Saya membutuhkan banyak orang lain untuk membangun daerah ini,” kata Korinus.

Menurut dia, potensi lahan pertanian di Kabupaten penuh dengan gunung. Apalagi curah hujan sedikit.

Sebab itu, revolusi pertanian dalam hal ini jebakan air sangat dibutukan. Bentuk revolusi lain yang sangat dibutuhkan, kata dia, yakni membangun  embung atau sumur bor.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba