Aktivis peduli lingkungan di Kalimantan Timur melakukan aksi tolak oligarki tambang di pilpres 2019 (Foto: Istimewa)

Kupang, Vox NTT-Sabtu, 13 April 2019. Kafe coklat tampak ramai. Parkiran di depan kafe penuh dan sesak. Beberapa kendaraan roda dua maupun empat berderetan di sepanjang badan jalan.

Di belakang Kafe, tampak sekumpulan pemuda dan mahasiswa sedang hilir mudik. Lainnya bercerita, entah soal apa. Suasananya ramai dan cair.

Mereka adalah kumpulan orang muda yang mengisi malam minggunya dengan nonton bareng alias Nobar dan Diskusi Film “Sexy Killers”  yang digelar Forum Diskusi Kopi, Kata dan Kita (KoKaT) di Kafe yang terletak di Jl. Fatutuan, Liliba, Kota Kupang itu.  

Sekitar pukul 19.00 Wita. Film mulai diputar, kursi-kursi yang awalnya tampak masih ada yang kosong mulai terisi hingga akhirnya penuh. Semua tertuju pada layar LCD. Suasana yang tadinya cair berubah menjadi kaku dan menegangkan. Mereka sepertinya larut dalam cerita tragis dalam film itu.

Sexy Killers, adalah film dokumenter, karya jurnalistik dari Watchdoc, sebuah rumah produksi film dokumenter yang kritis.

Disutradarai Dandy Laksono, film berdurasi 88 menit ini mengisahkan tentang aktivitas eksploitasi tambang batu bara di Kalimantan yang berdampak pada lingkungan sekitar serta wilayah di luar daerah eksploitasi akibat lalu lintas pelayaran kapal tongkang yang memuat batu bara ke daerah Jawa dan Bali.

Komunitas Kopi, Kata dan Kita (Kokat) saat menggelar nonton bareng film dokumenter Sexy Killers 13 April 2019 (Foto: Grace/Voxntt.com)

Film yang baru diluncurkan sekitar sepekan lalu itu sudah dibedah di beberapa daerah di Indonesia secara serempak sejak diluncurkan hingga 13 April 2019. Isinya memang memberikan kesaksian menggetarkan sekaligus menyayat hati.

Bagaimana tidak, film ini menggambarkan secara jelas keterlibatan para penguasa dalam bisnis haram yang telah dan akan terus mengancam keselamatan lingkungan hidup dan manusia di negara kita.  

Para politisi kawakan nasional bahkan istana diceritakan keterlibatannya dalam bisnis yang telah membunuh sejumlah orang dan ekosistem penting lainnya di negara ini.

Film ini memang provokatif sekaligus mencerahkan. Banyak kejutan yang ditemukan dari setiap narasi yang diungkapkan di dalamnya.

Menyimak kisah demi kisahnya, membuat kita seperti merasa terpukul bahkan membawa kita kepada perasaan bersalah karena baru menyadari, betapa banyak saudara sebangsa dan setanah air yang menjadi korban bisnis elit negeri ini yang tidak kita ketahui.

Film ini juga, seolah mendesak penonton agar segera meminta pertanggungjawaban para elit negeri ini, sebagai pelaku utama dalam perusakan lingkungan.

Tangisan Korban Pertambangan

Bisnis yang sudah berlangsung puluhan tahun dan telah meciptakan 3500 lubang raksasa mirip danau di Borneo itu, seharusnya direklamasi. Yang terjadi justru menelan korban seperti sawah, rumah warga bahkan anak sekolah.

Seorang buruh tani transmigran asal Bali yang berusaha melawan dengan mencegat truk tambang, untuk membela tempat tinggal yang dulunya dikenal sebagai lumbung padi dan hilang akibat penambangan batu bara malah dipenjarakan.

Ironi memang, lahan penghasil pangan malah disulap menjadi lahan tambang yang membawa dampak buruk bagi warga. Sementara pemilik perusahaan tak peduli dengan itu semua.

Batu bara yang kemudian diangkut dengan kapal tongkang untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di berbagai daerah itu dikisahkan sebagai perjalanan tragis yang merusak laut dan ekosistem di wilayah lintasan kapal pemuat batu bara. Trumbu karang rusak akibat jangkar kapal. Populasi ikan kian berkurang akibat tumpahan batu bara. Para nelayan yang menggangtungkan hidup keluarganya pada laut pun menelan kerugian yang besar.

28 Agustus 2015 yang lalu, Presiden Jokowi meresmikan PLTU di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Dalam pemerintahan Jokowi memang berambisi untuk menjadikan PLTU di Batang itu sebagai yang terbear di wilayah Asia.

Di sini Sexy Killers menampilkan sisi menarik dari  sebagian investigasinya, dimana di balik ambisi negara dalam hal ini pemerintahan Jokowi ingin menjadikan PLTU tersebut sebagai yang terbesar di Asia dengan kebutuhan batu bara yang sangat besar dan di lain sisi ada warga, petani sawah dan tambak garam yang hari-hari menggantungkan hidup dan masa depan keluargannya di situ menjadi korban atas dibangunnya PLTU tersebut karena lahannya tercemar panas dan uap batu bara.

Tak hanya itu, sisi lain yang menarik dari film itu adalah bagaimana PLTU itu dibangun di atas lahan warga tanpa kejelasan ganti ruginya. Tangisan para petani itu seolah ditumbalkan akibat ambisi negara yang bersembunyi di balik dalil ‘kepentingan umum, kepentingan negara’.

Selain tanahnya dirampas, warga yang hidup di sekitar PLTU beberapa orang warga sekitar juga pergi meninggalkan tempat tinggal dan mata pencahariannya akibat tidak tahan dengan semburan debu yang datang setiap saat tanpa henti. Sementara mereka yang memilih bertahan harus menahan derita berbagai penyakit, asma, jantung dan paru-paru tercemar, kanker hingga kematian menjemput.

Sedang di Bali, akibat pembangunan PLTU di Buleleng, ribuan pohon kelapa milik salah satu warga lokal yang memilih mempertahankan tanahnya dan tidak ingin dibeli PLTU harus menanggung akibatnya. populasi kelapanya kian berkurang karena tanahnya tercemar. Akibatnya penghasilannya terus menurun.

Dengan dalil murah dan mengalirkan listrik ke semua tempat, kesadisan akibat eksploitasi batu bara ini tak akan dihentikan. Pemerintah terus berupaya untuk menaikan kebutuhan batu bara.

Dari perbandingan harga, batu bara memang memperlihatkan harga yang relatif murah. Biaya produksi listrik dari batu bara hanya Rp 600/Kwh dibandingkan Gas Rp 1000/Kwh, BBM Rp 1.600/Kwh dan energi terbarukan matahari Rp  1.900 /Kwh.

Menurut Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) hingga 2025, masih membutuhkan batu bara yakni 50 %, sedangkan energi terbarukan hanya  25 %. (Lihat: Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional-djk.esdm PDFwww.djk.esdm.go.id)

Itu artinya, kita masih tergantung dan akan selalu membutuhkan batu bara.  Menariknya, Sexy Killers menampilkan alasan mengagetkan yakni, karena ongkos lingkungan, sosial ekonomi dan bahkan keselamatan umum serta kesejahteraan masyarakat dibebankan kepada mereka yang terdampak.

Pilpres dan Penguasa Batu Bara

Selain menyuguhkan realitas kehidupan masyarakat akibat penambangan batu bara, Sexy Killers juga berhasil membongkar siapa aktor di balik eksploitasi tambang yang kini menikmati hasilnya di atas  ratapan masyarakat kecil di wilayah lingkar tambang.

Sexy Killers memperlihatkan kepada publik bahwa para pemain tambang adalah orang-orang di lingkaran kekuasaan negara saat ini. Di antara mereka bahkan menjabat sejumlah posisi strategis di tanah air.

Dalam Pipres kali ini, semua pemain tambang itu juga terhubung ke dua kubu yang sedang bertarung merebut kekuasaan, yakni Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Boleh dikatakan, hasil tambang batu bara menjadi pelumas untuk menggerakkan mesin politik kedua kubu.

Di Kubu Jokowi-Ma’ruf misalnya, ada Luhut Binsar Pandjaitan, Fachrul Razi, dan Suadi Marasambessy. Semuanya adalah tim Bravo 5 Jokowi-Ma’ruf. Ada juga Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh, Sakti Wahyu Trenggono, Jusuf Kalla, Andi Syamsuddin Arsyad, dan Oesman Sapta Oedang.

Sementara di kubu lawan, Prabowo dan Sandiaga Uno sendiri merupakan pemain lama di sektor tambang dan energi.

Selain keduanya ada nama Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, pendiri sekaligus ketua umum Partai Berkarya yang juga merupakan Putra mantan Presiden Soeharto, Maher Al Gadrie, Hashim Djojohadikusumo, Sudirman Said, Ferry Mursydan Baldan dan Zulkifli Hasan.

Menariknya, PT Saratoga Investama milik Sandiaga Uno, telah melepas sebagian sahamnya sebesar 130 miliar ke Perusahaan PT Toba Bara milik Luhut Binsar Panjaitan untuk membiayai kampanye selama ini.

PT Toba Bara tercatat memiliki 50 lubang tambang, sehingga total kepemilikan tambang batu bara Luhut Binsar Panjaitan berjumlah 14 ribu hektar.

PT Toba Bara ini tak hanya menjadi pemasok batu bara ke PLTU, dia juga menjadi pemilik saham di beberapa PLTU.

Grup Toba Sejahtera ini terbagi ke dalam enam anak usaha yang terdiri dari Toba Coal and Mining, Toba Oil and Gas, Toba Power, Toba Perkebunan dan Kehutanan, Toba Industri dan Toba Property and Infrastructure. Anak usaha tersebut terbagi lagi menjadi 16 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor.

Sementara Sandiaga Uno juga memiliki PT Multi Harapan Utama, PT Saratoga Investama, dan PT Adaro Energy dimana sebagian saham Adaro Energy juga dimiliki oleh adik kandung Erick Tohir selaku ketua Tim Pemenangan Kubu 01.

Hasyim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo Subianto, memiliki saham di PT Batu Hitam Perkasa dan sejumlah perusahaan lainnya, keluarga ini adalah pemain lama batu bara. 

Di sini Sexy Killers menyuguhkan secara jelas bagaimana keterlibatan dan hubungan antara elit politik dan penguasaan tambang dan energi di negara ini.

Dapat dikatakan, antara kedua kubu yang hari ini sedang berjuang mempertahankan dan merebut kekuasaan sebenarnya berada dalam kepentingan yang sama, yakni mengawetkan bisnis melalui jalan kekuasaan.

Jargon keberpihakkan sebagaimana yang terus dikumandangkan dalam kampanye atau debat, sama sekali tidak sesuai realitas yang tersembunyi dari kedua kubu.

Bersambung…

Penulis: Grace Gracella

Editor: Irvan K