Longsor hebat di Bea Dolor Desa Compang Necak menutupi sungai Wae Togong (Foto: Dok. BPBD Matim)

Ruteng, Vox NTT- Longsor hebat terjadi di Bea Dolor, Desa Compang Necak, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT pada Rabu 17 April 2019 lalu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Matim, Anton Dergong mengatakan, akibat longsor tersebut sungai Wae Togong tertutup timbunan tanah dan batu.

Air di sungai yang berada di perbatasan Kecamatan Lamba Leda dan Sambi Rampas tersebut tidak mengalir menuju laut Flores, bagian utara Matim.

“Longsor mengakibatkan sungai Wae Togong mengalami kekeringan di wilayah Bawe, Desa Haju Wangi, karena material longsoran ini menumpuk di kali Wae Togong,” kata Anton saat dihubungi VoxNtt.com, Jumat (19/04/2019) siang.

Menurut dia, tanah dan batu dari atas bukit menumpuk penuh di sungai Wae Togong setelah kejadian longsor. Akibatnya, air sungai tidak mengalir sebagaimana biasanya dan tampak bagai danau.

Genangan air sungai Wae Togong setelah longsor di Bea Dolor pada Rabu 17 April lalu (Foto: Dok. BPBD Matim)

Anton menambahkan, berdasarkan pantauan Camat Lamba Leda dan Pospol Benteng Jawa, serta Pemerintah Desa Compang Necak, lantaran tak dapat mengalir menuju Laut Flores, genangan air di titik longsor berada pada ketinggian kurang lebih mencapai 20 meter.

“Terlihat bubungan pondok yang selama ini jaraknya cukup jauh dari kali, beberapa pohon enau hanya kelihatan daunnya saja, bahkan pengakuan warga bahwa panjang genangan air tersebut bisa mencapai 1 kilometer,” ungkap Anton.

Camat Lamba Leda Aleksius Rahman, kata Anton, mengimbau warga yang bermukim atau berkebun di dekat sungai Wae Togong agar tetap waspada.

“Karena melihat kondisi di lokasi tersebut ada kemungkinan terjadi longsoran susulan, karena tanah di sekitar wilayah tersebut sudah retak atau pecah,” katanya.

Anton mengaku, sejumlah tanaman komoditi warga seperti kemiri dan lahan sawah tertimbun tanah longsor dan digenangi air.

Penulis: Ardy Abba