Irvan Kurniawan

Editorial, Vox NTT-Pemilu memang telah usai. Namun demikian, strategi dan taktik yang dipakai selama masa kampanye menimbulkan efek samping bagi masyarakat pemilih. Pemilih yang sebelumnya hidup rukun dan harmonis, kini dinamis dan tersegmentasi dalam kotak preferensinya masing-masing.

Salah satu penyebab kebekuan sosial ini adalah bahasa politik yang memainkan hoaks, SARA dan ujaran kebencian. Konten –konten negatif yang dimainkan selama berbulan-bulan ini, akhirnya mengendap dalam persepsi publik dan membentuk tingkah laku. Tatanan masyarakat menjadi tersekat-sekat dengan hasrat kebencian sebagai tembok pemisahnya.

Fenomena ini tampak jelas dalam polarisasi radikal antara kecebong vs kampret. Mereka tak hanya berselisih di dunia nyata,  tetapi juga berseteru keras di dunia maya. Kedua kubu berusaha membela secara membabibuta kandidat jagoannya dan mengabaikan narasi lain yang lebih benilai bagi masa depan bangsa. Pada level tertentu, hasrat kebencian menjadi paling dominan dari pada kemanusiaan dan kebenaran.

Dominasi kebencian itu sangat nyata merasuki akar rumput. Dari berita kita mendengar perkelahian sesama saudara gara-gara beda pilihan, rusaknya keharmonisan antara tetangga, penolakan terhadap orang yang berbeda latar belakang agama, dan  membias ke urusan makam orang mati seperti yang terjadi Yogyakarta dan Gorontalo. Bahkan narasi kemanusiaan yang diangkat dalam kasus kematian buruh migran di luar negeri yang angkanya sangat fantastis di Propinsi NTT, malah mendapat sambutan bully, cibiran dan caci maki di media sosial.

Gesekan sosial, tercerabutnya empati dan akal sehat publik ini sebenarnya menggambarkan kerapuhan demokrasi di era pascakebenaran. Disebut rapuh karena dominan masyarakat Indonesia masih rendah budaya literasinya, baik literasi dasar maupun literasi digitial. Jurang antara masyarakat yang memiliki literasi dengan yang iliterasi terbilang cukup besar di Indonesia. Alhasil, dominan masyarakat cenderung mempercayai konten apa saja yang datang dari internet. Hasil survei CIGI-Ipsos 2016 menyebutkan, 65 persen dari 132 juta pengguna internet di Indonesia percaya dengan kebenaran informasi di dunia maya tanpa check dan re-check.

Realitas ini tentu sangat berdampak bagi peradaban demokrasi Indonesia pada masa yang akan datang. Jika tidak segera disembuhkan, efek samping pemilu serentak 2019 ini justru akan membawa petaka. Sejujurnya, bangsa ini telah mengalami pengeroposan kohesi sosial yang akibat pertikaian pemilu. Padahal kohesi sosial adalah fundasi dasar agar bangsa ini mampu bertahan dan bersaing pada masa yang akan datang.

 Menyembuhkan Indonesia

Jika ditelaah lebih dalam, salah satu efek yang paling ganas memangsa ke-Indonesia-an kita (selain tercerabutnya kewarasan berpikir) ialah degradasi kemanusiaan. Rasa persaudaraan mulai luntur akibat adukan politik identitas dan instrumentasi SARA selama masa kampanye. Padahal kemanusiaan merupakan tali sosial yang mengikat berbagai perbedaan bangsa Indonesia. Sulit dibayangkan bagaimana peradaban bangsa ini jika hasrat membenci terus ditanamkan bahkan mendominasi kemanusiaan.

Bung Karno bahkan berkali-kali menegaskan bahwa nasionalisme Indonesia berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan atau sosio-nasionalisme. Perasaan senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa terjajah merupakan persinggungan kemanusiaan yang melahirkan persatuan Indonesia. Dengan kata lain, kontrak sosial yang mengikat perbedaan bangsa ini adalah kemanusiaan. Jika benang kemanusiaan itu telah putus, maka spirit dasar untuk terus menenun persatuan akan gagal di kemudian hari.

Pada titik, ini semua komponen bangsa terutama elit politik mesti sadar bahwa kekuasaan politik bersifat temporal. Darah dan air mata yang dikorbankan para pejuang bukan untuk mendirikan Indonesia sehari atau semalam saja. Bukan pula untuk kelompok dan kalangan tertentu . Indonesia dilahirkan untuk semua, untuk selamanya. Jangan sampai negara-bangsa ini hancur karena nafsu kekuasaan segelintir elit yang tak terkontrol.

Maka, proyek menenun kembali kemanusiaan pascapemilu merupakan tanggung jawab moral yang harus diemban oleh setiap orang terutama elit politik. Wujud nyata aksi kemanusiaan itu adalah lewat tutur kata yang memancarkan cinta dan kasih sayang.

Kita harus menyadari bahwa selama masa kampanye, Indonesia sudah babak-belur oleh perkelahian kata-kata yang tanpa makna, kata-kata sensasional yang mengandung kebencian dan ketakutan. Ya, Semuanya memang berawal dari kata. Kata-kata itu beranak-pinak dalam narasi maupun kontra-narasi, merenggut persepsi, lalu menyata dalam tindakan.

Karena berawal dari kata, maka untuk menghidupkan kembali kemanusiaan harus dimulai dari tutur bahasa yang damai, sejuk dan bernuansa kasih sayang.  Biarlah kata-kata yang sejuk dan damai mencarikan kembali kebekuan sekat-sekat sosial antar kita. Kekuatan kata-kata yang berdaya konstruktif  juga dapat menyembuhkan kembali ilusi persepsi akibat gempuran hoaks, ujaran kebencian dan sentimen SARA selama kampanye. Proyek jangka pendek ini urgen dilakukan, sebelum api kebencian menjadi warisan abadi yang melahap rumah Indonesia.

Penulis: Irvan Kurniawan