Ilustrasi (Foto: Ist)

Ruteng, Vox NTT – Para orang tua siswa SMAN 1 Cibal, Manggarai menilai pihak sekolah tersebut tidak bertanggung jawab. Pasalnya, sejak tahun 2017 lalu, mereka sudah melunasi pembayaran seragam sekolah, namun hingga kini tak kunjung dibagikan.

Demikian keluhan salah satu orangtua siswa yang enggan menyebutkan namanya kepada VoxNtt.com, Rabu (01/05/2019).

Orang tua murid tersebut mengaku sudah seringkali menanyakan realisasi seragam sekolah tersebut kepada pihak sekolah namun tidak mendapatkan solusi dan hanya menerima janji palsu.

“Saya sering tanyakan itu ke sekolah, tapi tidak ada hasilnya mereka hanya memberikan janji kepada kami, dan sampai sekarang tidak ada kabar lagi terkait seragam sekolah itu” ungkapnya dengan nada kesal.

Dia menduga, ada konspirasi antara pihak sekolah dengan suplayer untuk meraup keuntungan dari biaya seragam sekolah tersebut.

Bahkan dirinya mengancam akan melakukan aksi demonstrasi apabila seragam sekolah itu tak juga dibagikan dalam waktu dekat ini.

“Kalau belum juga dibagikan nanti, kami akan demo di sekolah karena jangan sampai ada permainan antara mereka” pungkasnya.

Kepala Sekolah SMAN 1 Cibal Yakobus Nou, membenarkan persoalan tersebut bahwa hingga kini seragam sekolah itu belum juga dibagikan. Namun kata dia, hal itu disebabkan oleh suplayer yang belum menyiapkan seragam sekolah tersebut sesuai permintaan.

Dia mengaku sebagian seragam sekolah sudah ada di SMAN 1 Cibal, sehingga pihaknya belum berani membagikan karena tidak sesuai dengan jumlah siswa.

“Saya tidak berani untuk bagi. Jangan sampai ada siswa yang protes nanti kalau tidak kebagian” pungkasnya.

Yakobus berjanji akan melakukan komunikasi kepada pihak terkait untuk segera melengkapi seragam itu sehingga bisa dibagikan kepada siswa dalam waktu dekat ini.

Untuk diketahui, polemik seragam sekolah di SMAN 1 Cibal bergulir sejak masa Kepemimpinan Fransiskus Atap sebagai Kepala Sekolah. Kala itu, pihaknya yang menghubungi suplayer.

Saat dikonfirmasi, mantan kepala sekolah itu enggan memberikan komentar dan meminta media ini untuk tidak mempertanyakan lagi persoalan ini kepadanya.

Penulis: Pepy Kurniawan

Editor: Irvan K

alterntif text