TIR saat digrebek Provos Polda NTT dan Provos Polresta Kupang, 02 Mei malam di kontrakan miliknya bersama MMM di bilangan Kayu Putih, Kota Kupang. (Foto: Jiu).

Kupang, Vox NTT-Humas Rumah Sakit (RS) Siloam Kupang, TIR dilaporkan ke Polda NTT atas dugaan perselingkuhan yang menyebabkan keharmonisan rumah tangga (RT) MMM dan istrinya, EI menjadi retak selama kurang lebih 1,5 tahun.

TIR dan MMM dilaporkan oleh EI ke Polda NTT pada 03Mei dini hari, setelah pada 02 Mei, malam hari EI dibantu tim Provos dari Polresta Kupang dan Polda NTT menggrebek rumah yang dikontrak TIR dan MMM di bilangan Kayu Putih, Kota Kupang.

EI yang djumpai wartawan di lokasi penggerebekan mengatakan, penggerebekan itu diputuskannya lantaran tak kuasa menahan suasana rumah tangganya yang tidak lagi hangat baik antara EI dan MMM maupun antara MMM dan anak-anaknya.

Dikisahkannya, sejak MMM mengenal TIR, MMM sudah tidak hangat lagi dengan keluarga yang sudah dibina selama 17 tahun. Ia jarang berada di rumah dan suka keluar malam-malam tanpa pamit dengan EI dan anak-anak.

Kekerasan dalam rumah tangga pun tak terhindarkan, MMM kerap memukul istri dan anaknya, bahkan beberapa kali istri dan anaknya diancam akan dibunuh dengan parang.

Kronologis

Tahun 2018 EI sering mendapatkan chatingan WhatsApp yang menurutnya tidak pantas bagi orang yang sudah berumah tangga.

“Awalnya sekitar awal tahun 2018 saya sering lihat WA (chatingan WhatsApp) yang tidak pantas bagi orang yang sudah berkeluarga dan bapanya (MMM) sudah sering keluar rumah dengan banyak alasan,” kisah EI.

Chatingan WahtsApp antara TIR dan MMM membuat EI merasa terganggu dan suasana rumah tangganya berantakan, perkelahian antara dia dan suami pun tak kerap terjadi.

“Dan tidak berapa lama, karena saya terganggu dengan WA mereka dua dan bapanya (MMM) hampir jarang di rumah, maka saya pergi ke Siloam, menanyakan langsung pada perempuan itu,” ungkap EI.

Oleh TIR, EI diberitahukan jika dia tak mempunyai hubungan yang special dengan MMM.

Namun, perselingkuhan keduanya kian jelas ketika MMM sedang bertugas di Sumba dan TIR mengikutinya ke sana.

“Dan setelah kejadian itu, saya dan keluarga saya bertemu dengan suaminya (TIR) di Hotel Sasando dan kami sepakat untuk mengurus dan mengawasi pasangan masing-masing,” katanya.

Pasca pertemuan bersama keluarga di Sasando, EI merasa sikap suaminya tidak berubah. Perlakuannya terhadap istri dan-anaknya pun tetap saja sama, ia sering memukul dan mengancam istri dan anaknya.

Selain itu, suaminya TIR yang diketahui bekerja sebagai dosen tetap di Poltekes Kupang seperti sudah tidak mempedulikan sikap istrinya.

“Tetapi sepertinya sejak awal suaminya perempuan ini, menurut saya tidak ambil pusing untuk pengawasan. Karena begitu MMM mau balik Kupang (dari Sumba) saya kontak suaminya untuk mengawasi istrinya, dia jawab, dia ada kegiatan. Terakhir saya jemput bapanya, ternyata dia dengan perempuan itu di dalam mobil perempuan itu di bandara, tidak lama suaminya datang teriak-teriak,” kisah EI.

Atas kejadian itu, perempuan itu (TIR) mengajak EI untuk bertemu di Hotel Amaris, Kupang. Ketika itu  TIR didampingi Om kandungnya, yang menurut pengakuannya sebagai anggota DPRD Sikka.

“Setelah itu, perempuan itu ajak ketemu saya. Dia bersama om kandungnya yang katanya Anggota DPR Maumere, kami bertemu di Hotel Amaris dan omnya minta maaf atas nama keluarga dan perempuan itu akibat kejadian di Sumba,” ujar EI.

Pertemuan di hotel itu, dikira EI menjadi akhir dari penderitaannya dan anak-anak, ternyata realitas berbicara lain. Kelakuan suaminya tetap saja tak berubah.

“Pikirnya selesai, tapi saya tetap curiga karena sikap bapanya lain dan sering tidak pulang, hingga saat anak bungsu mereka berulang tahun, 28 Oktober 2018, saya kembali menemui wali nikah gereja perempuan itu. Dan, katanya, sebagai pengganti orang tuanya, dokter. Samson Ehe Peron dan ibu di rumah dr. Samson, di Liliba dan mengaku tidak selingkuh,” jelasnya.

TIR Mengaku Sebagai EI

Tragis menimpa EI, ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Saat TIR mengikuti MMM ke Sumba yang sedang bertugas, perempuan itu nginap sekamar dengan MMM di rumah keluarga MMM.

Keluarga MMM yang juga anggota Polri, sebelumnya tidak pernah bertemu dengan EI dan tidak mengenalnya. Keadaan itu dimanfaatkan MMM dan TIR untuk memanipulai identitas TIR dan mengaku, sebagai istrinya MMM, yakni EI.

Untuk mengelabui keluarga MMM, TIR mengaku ke sana dan menemui MMM karena sementara ada tugas. TIR juga mengaku, jika ia dekat dengan Bupati SBD saat itu.

“Kejadian di Sumba itu saat bapanya PAM Pilkada. Dan perempuan ini, katanya, juga ada tugas di sana dan akrab dengan Bupati SBD tapi mereka nginap di rmh keluarga bapa dan adik polisi ini pun belum pernah lihat saya, maka berpikir perempuan itu adalah saya, karena bapa mengaku, itu saya dan mereka nginap, tidur sekamar di sana,” ungkap EI dengan nada marah.

EI mengisahkan, selama di rumah keluarga MMM di Sumba, keduanya menunjukkan kemesrahan bagai remaja yang sedang berpacaran. Tak hanya itu, TIR juga jarang keluar dari kamar dan hampir tak pernah ngobrol dengan tuan rumah.

Kondisi itu membuat istri sang tuan rumah itu curiga dan mencari tahu tentang EI melalui akun FB MMM. Dari situ juga, istrinya tuan rumah itu cari tahu, perempuan itu siapa dan suaminya siapa?

“Tapi adik polisi punya istri ini curiga, ko suami istri seperti orang pacaran dan tu perempuan tidak pernah ngobrol kalau di rumah, maka istrinya coba lihat di Profil Fb saya, ternyata itu bukan saya dan dia juga cari tahu, ini perempuan siapa dan suaminya siapa, maka dia kontak suami perempuan itu cerita semua dan kirim foto-foto mereka waktu di Sumba,” kisahnya.

Psikologi Anak Terganggu

Hubungan MMM dan TIR tidak hanya membebani EI secara psikis dan fisiknya yang kian terkuras karena kepikiran, tetapi juga telah mengganggu pikologi anak-anak mereka karena suasana keakraban dan hilanganya kehangatan sebagai satu keluarga.

Diceritakan EI, beberapa kali anak mereka marah-marah saat pulang sekolah karena secara kasat mata melihat Sang Ayah, MMM, yang jarang pulang rumah dan tiba-tiba dilihatnya memboncengi perempuan yang bukan ibunya itu.

Hal itu dikatakan EI terjadi berulang kali. Ini juga menyebabkan sikap anak-anak berubah, di rumah cenderung diam dan menghindar saat MMM pulang ke rumah, dan mulai tidak mengindahkan saat MMM meminta bantuan anaknya.

Sikap anak-anak MMM yang demikian, membuat MMM marah dan kerap memukul dan mengancam anak-anak.

Perlakuaan MMM ini juga membuat anak-anaknya marah. Suatu ketika, anak mereka melampiaskan amarahnya dengan melempar rumah.

EI, yang mengetahui persis suasana hati anak-anaknya terus berupaya untuk menguatkan anak-anak dan meminta untuk melupakan perempuan yang diboncengi MMM, ayah mereka.

“Tapi puji Tuhan, sering saya bilang tidak usah ingat bapanya dulu, yang penting ingat mama dan bantu mama dengan sekolah baik-baik,” tutur EI dengan mata berkaca-kaca.

Siloam  Tak Peduli

Perjuangan EI untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya dengan MMM tidak pernah surut. Dia sudah menemui banyak pihak, termasuk pimpinan MMM di Polda NTT.

Atas hal itu, MMM pernah ditahan di sel tahanan Polda NTT. Hal itu, berharap MMM jera, tetapi setelah keluar dari Sel sikapnya tak berubah.

Jalan satu-satunya menurut EI yang harus ia tempuh adalah melaporkan TIR di Siloam agar mendapatkan teguran dan meminta TIR berhenti berhubungan dengan MMM. Akan tetapi beberapa kali ia ke Siloam tidak pernah diizinkan untuk bertemu dengan pimpinan Siloam Kupang.

Karena itu, EI memilih untuk mengirimkan surat via email kepada Pimpinan Siloam di Pusat. Tetapi lagi-lagi, keluhan EI ini tidak direspn sama sekali.

Belakangan TIR ini diduga mempunyai pertalian dengan orang-orang kuat di NTT. Hal itu terungkap ketika suami TIR, SSK mendapatkan sms sayang-sayangan dengan orang terkuat di NTT kala itu.

Hubungan special antara TIR dan orang terkuat itu pun, diterangkan oleh suami TIR dalam balasan surat gugatan cerai TIR kepada SSK di Pengadilan Negeri Kupang beberapa waktu lalu.

Penulis: Tarsi S

Editor: Boni J