Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Pemkab Mabar Dorong Petani Gunakan Pupuk Bokashi
Regional NTT

Pemkab Mabar Dorong Petani Gunakan Pupuk Bokashi

By Redaksi16 Mei 20191 Min Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Mabar saat melakukan pelatihan pembuatan pupuk Bokashi di kelompok tani Sukun Jaya, Desa Poco Golo Kempo, Kecamatan Sano Nggoang.
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT- Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Pemkab Mabar), NTT mendorong petani agar menggunakan pupuk Bokashi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Mabar Anggalinus Gapul mengatakan, petani didorong menggunakan pupuk Bokashi agar konsep pertanian yang ramah lingkungan bisa terwujud.

Penggunaan pupuk organik atau pupuk Bokashi itu, kata Gapul, dalam rangka terlaksananya program integrasi padi dan ternak.

“Kami akan terus mendorong para petani untuk membuat dan menggunakan pupuk Bokashi, sehingga kami terus melakukan pelatihan-pelatihan ke sejumlah kelompok petani,” ungkap Gapul kepada VoxNtt.com, Kamis (16/05/2019).

Beberapa hari yang lalu, pihaknya melakukan pelatihan pembuatan pupuk Bokashi di kelompok tani Sukun Jaya, Desa Poco Golo Kempo, Kecamatan Sano Nggoang.

Selama ini, lanjut dia, penggunaan pupuk kimia sangat tinggi dan berdampak pada tanah menjadi jenuh dan keras.

“Unsur-unsur hara dalam tanah berkurang, bahkan merusak kesehatan bagi manusia,” jelas Gapul.

Ia mengaku bertanggung jawab agar konsep pertanian ke depan ramah lingkungan, sehingga tidak merusak lingkungan.

“Salah satu upaya yang dilakukan, melatih petani mengolah jerami dan bahan lainnya seperti kotoran ternak sapi, kerbau kambing menjadi pupuk kompos atau pupuk kandang,” katanya.

Menurut dia, hal ini dilakukan mengingat pupuk kimia sangat terbatas dan harganya cukup mahal.

Penulis: Sello Jome
Editor: Ardy Abba

Manggarai Barat
Previous ArticlePolemik Pemalsuan Tanda Tangan, Begini Penjelasan Ketua PSI Kabupaten Kupang
Next Article NTT Dikirimi Peti Jenazah TKI ke-46 Selama 2019

Related Posts

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026
Terkini

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.