Nurmy sedang menjual es (Foto: Marcel Manek/ Vox NTT)

Atambua, Vox NTT-Situasi kota Atambua sepekan terakhir tampak sepi. Aktivitas perkantoran baik pemerintah maupun swasta lengang lantaran libur dan cuti bersama lebaran.

Namun, di balik sepinya aktivitas masyarakat di kota yang berbatasan dengan Timor Leste ini, Jumat (07/06/2019), VoxNtt.com menemukan aktivitas yang ternyata terus memantik warga Atambua untuk datang ke sana.

Es Kelapa Muda Simpang 5 Atambua. Ya, siapa yang tidak kenal  tempat yang sejak 2010 menyajikan es berbagai varian ini.

Warung es kelapa muda ini adalah milik ibu Hj.Nurmy, wanita kelahiran 1979 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Usaha es kelapa muda, es buah dan es pisang hijau ini dirintis sejak 2010 lalu dengan meminjam modal sebesar Rp 3.000.000 dari kerabatnya.

Nurmy yang ditemui VoxNtt.com di lapak jualnya, tamapk asyik mempersiapkan pesanan pelanggan datang.

Mengenakan baju merah dan jilbab, wanita yang mengaku sudah memiliki tiga orang anak ini tetap semangat mengurus jualannya meski sementara libur lebaran.

Istri dari Hermansyah ini mengaku tidak mudik lebaran lantaran biaya tiket yang melambung tinggi. Ia bersama suaminya memutuskan untuk tidak mudik dan tetap mengurusi jualannya.

Dalam sehari apabila aktivitas di kota Atambua  berlangsung normal, Nurmy mengaku bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah antara Rp 1.000.000 hingga Rp 1.500.000.

“Kalau ramai seperti biasa, pemasukan bisa satu juta sampai satu setengah juta,”  tutur Nurmy.

Meski hari libur, bukan berarti warung esnya ditutup. Pengunjung tetap datang silih berganti.

Tidak jauh dari gerobak es, ada tiga buah meja panjang berukuran kira-kira dua meter lengkap dengan kursinya. Di sini pembeli bisa langsung menikmati es ibu Nurmy.

Bahkan, karena tempatnya tidak cukup, banyak pengunjung yang memilih untuk duduk lesean di bawah pohon beringin sambil menikmati es yang disuguhkan.

Harga jual es yang disajikan Nurmy juga relatif murah. Untuk es kelapa muda, ia menjualnya dengan harga Rp 6.000. Sedangkan untuk es pisang hijau, pengunjung hanya butuh merogoh kocek sebesar Rp 8.000.

Baca Juga: Anas Undik, Janda yang Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Kemiskinan

Penulis: Marcel Manek
Editor: Ardy Abba