Ruteng, VoxNTT.com – Di tengah cerahnya cuaca siang itu, di antara hiruk pikuk para pekerja pabrik porang, terlihat sekelompok warga duduk di bale-bale sederhana sambil menutup hidung.
Berbekal baju di badan, mereka berjuang melawan udara kotor dan bau limbah yang berasal dari aktivitas pabrik porang yang beroperasi dekat pemukiman.
Bagi mereka, asap dan limbah pabrik adalah teman sehari-hari. Bau menyengat yang menusuk hidung menjadi aroma tersendiri di lingkungannya.
Warga RT:02/RW:03 Lingkungan Sengari, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai ini berusaha dengan daya sendiri bertahan hidup di samping lokasi pabrik yang beberapa pekan terakhir terus beroperasi tanpa memikirkan dampak.
Di sisi lain, pabrik seakan tidak menggubris keluhan warga dan masih ngotot untuk tidak mau direlokasi.
Setiap hari bau busuk limbah pabrik bercampur aduk menghiasi aktivitas warga setempat
VoxNtt.com menjumpai seorang warga terdampak, Maria Korina Alus pada Minggu 3 April 2026.
Sembari menutup hidung ia mengaku tidak nyaman semenjak pabrik milik PT Agro Porang Nusantara itu beroperasi dekat pemukiman warga.
Ia merasa udara yang berasal dari asap pabrik sangat kotor, ditambah air limbah hasil cucian porang yang sangat bau, membuat warga sekitar tak bisa menghirup udara segar.
Padahal, kata Maria, warga sangat membutuhkan udara segar di pagi hari untuk memberikan manfaat kesehatan yang lebih baik, khususnya lansia dan anak-anak.
“Kami hanya ingin hirup udara segar, bukan asap dan limbah porang,” ungkap Maria.
Bagi Maria, kenyamanan dan ketenangan warga sekitar adalah hal yang paling nomor satu. Karena itu ia meminta agar pabrik tersebut secepatnya direlokasi.
“Yang kami butuh setiap hari udara segar, bukan asap dan limbah pabrik. Itu sudah bisa membuat kami tenang dan nyaman,” ungkapnya.
Warga lain, Nikodemus Sutarto juga mengeluh hal serupa.
Nikodemus mengaku kerap merasakan dampak asap dan bau limbah yang menyengat sampai ke hidung dan tenggorokan.
Setiap bangun pagi ia biasanya beraktivitas di luar rumah, tetapi sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah karena takut terkontaminasi oleh asap dan limbah pabrik.
Sarapan pagi pun kadang tidak nyaman karena khawatir udara pabrik masuk sampai ke nasi.
Karena itu ia meminta pabrik porang tersebut segera direlokasi agar warga tidak merasakan udara kotor yang ditimbulkan dari aktivitas pabrik.
“Kami butuh udara bersih, udara yang baik dan layak dihirup, bukan asap atau limbah yang menyengat,” ucap Nikodemus.
Untuk diketahui polemik pabrik porang yang melibatkan PT Agro Porang Nusantara dan warga setempat terus berlanjut.
Warga tetap bersi keras agar pabrik yang beroperasi sangat dekat dengan permukiman itu direlokasi. Warga juga menilai mekanisme pendiriannya sudah cacat prosedur serta memicu gangguan lingkungan seperti kebisingan, bau menyengat, dan asap.
Sementara itu pihak perusahaan membantah keras tudingan bahwa pabrik mereka mencemari lingkungan dan menggunakan bahan berbahaya.
Perusahaan memastikan asap yang keluar berasal dari bahan bakar cangkang kemiri dan boiler yang dinilai aman dan ramah lingkungan
Polemik tersebut pun sudah dimediasi oleh pemerintah setempat. Namun belum ada hasil karena permintaan warga untuk relokasi pabrik belum dapat dipenuhi oleh pihak perusahaan.
Perusahaan beralasan belum mempunyai izin baru untuk merelokasi pabrik porang karena titik ordinatnya dikhawatirkan tidak sama atau berbeda.
Saat ini perusahaan mengklaim masih bekerja pada legalitas yang sah, baik soal izin maupun dampak lingkungannya.
Penulis: Berto Davids

